Page 2 (data 31 to 60 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Yuliana Sari
Institutions
a) Faculty of Mathematics and Science Education, Indonesia University of Education, Jalan Setiabudhi 229, Bandung 40154, Indonesia
* yulianasari.mpd[at]gmail.com
b) Faculty of Mathematics and Science Education, Indonesia University of Education, Jalan Setiabudhi 229, Bandung 40154, Indonesia
Abstract
This study was a qualitative study that aims to create the development of Integrated Science teaching material with an appropriate webbed model for junior high school students of class VII in SMP 29 Bandung. Teacher creativity is highly expected in developing some innovative, varied, interesting, contextual, and appropriate teaching materials with the needs level of learners. This is consistent with the demands of competencies that must be have by teachers (pedagogic, personality, social and professional competence). The theme of the teaching materials used is Global Warming, developed with Four Steps Teaching Material Development (4S TMD) are including: selection, structuring, characterization and didactic reduction, as the main guidance in the development of this resource. Research subjects were students (13 years old) in two class VII SMP 29 Bandung, which selected by purposive sampling technique. The results show this feasibility of teaching materials in very feasible category for all aspects, namely the content and integrity feasibility aspect, presentation aspect, linguistic aspect, and graphic aspect. There are improvement conceptual mastery of Global Warming issues as reflected in the results of concept mapping by students are getting better at each class meeting. The students also provide positive perceptions of teaching materials, either through questionnaires or interviews.
Keywords
Development of Teaching Material, Integrated Science, Webbed Model, Global Warming, Four Steps Teaching Material Development, Concept Mapping
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
ISMIARA INDAH ISMAIL
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 , Bandung 40154, Indonesia
*mia_ismiara[at]yahoo.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi listrik dinamis melalui tes diagnostik tiga tahap. Konsep listrik dinamis terdiri dari konsep: arus, beda potensial, dan rangkaian listrik tertutup. Three Tier Test merupakan alat penilaian untuk menentukan konsepsi siswa, apakah siswa memberikan respon yang benar untuk pertanyaan dengan memahami alasannya. Three Tier Test memiliki karakteristik tiga tingkatan, yaitu tingkat pertama adalah pertanyaan pilihan ganda, tingkat kedua adalah penyajian alasan jawaban pada tingkat pertama, kemudian tingkat ketiga adalah pertanyaan tentang keyakinan atau Confidence Rating atas jawaban pada tingkat pertama dan kedua. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Pengembangkan tes yang berupa pertanyaaan dan alasan terbuka diberikan kepada siswa tingkat SMA dengan jumlah sekitar 25-30 siswa di salah satu SMA Negeri di kota Cimahi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapat temuan bahwa tes tersebut dapat menganalisis dan menggolongkan siswa ke dalam memahami konsep, yang mengalami miskonsepsi, dan siswa yang tidak memahami konsep.
Keywords
Diagnostik; Miskonsepsi; Listrik dinamis; Three tier test
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Saprudin M.Pd
Institutions
Prodi Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas Khairun
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki efektifitas penerapam model kooperatif berbasis multimedia untuk meningkatkan penguasaan siswa SMA terhadap kemampuan yang diujinasionalkan pada mata pelajaran fisika di provinsi Maluku Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan desain randomized control group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X semester genap tahun ajaran 2014/2015 pada salah satu SMA di Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan hasil analisis statistik disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif STAD berbasis multimedia lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi siswa pada kemampuan yang diujinasionalkan dibandingkan dengan pembelajaran kooperatif STAD tanpa penggunaan multimedia dan pembelajaran konvensional.
Keywords
Model kooperatif STAD, multimedia, ujian nasional
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Arisat Arisat
Institutions
a)Program Studi Pengajaran Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
*a_risat86[at]yahoo.com
b) Program Studi Pengajaran Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
c) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
Abstract
Aspal adalah hidrokarbon rantai panjang yang banyak ikatan rangkap selain merupakan residu penguapan komponen ringan juga dapat berasal dari karbon. Buton secara tektonik berasal dari busur kepulauan subduksi tumbukan Eurasia dan Australia pada bagian timur yang tertekuk menjadi terbalik terdorong oleh gerakan lempeng Pasifik ke barat menempel dengan lengan timur Sulawesi. Oleh karena itu, Buton mengandung endapan aspal yang bertekanan, padahal berdekatan dengan Sulawesi Tenggara yang kaya dengan logam berat yang merupakan lempeng Pasifik. Agar dapat digunakan sebagai pelapis jalan secara baik, aspal terlebih dahulu diolah melalui proses pemanasan dan pelelehan. Fisika kontekstual aspal perlu dipelajari jangkauannya.
Keywords
Tektonik Buton; Sifat cadangan aspal; Fisika Kontekstual
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Kasiyama Lukitasari
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Sepanjang Sungai Brantas padat dengan pengetahuan mekanika fluida sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan. Sungai yang berawal dari lereng curam Gunung Arjuna Malang Jawa Timur, melewati sisi timur Gunung Kawi dan mengitari Gunung Kelud ini memiliki karakteristik menarik dimana aliran awal sungai menuju ke selatan namun tidak bermuara di pantai selatan, sebaliknya bermuara di pantai utara. Fenomena ini menarik ditelaah lebih dalam sehingga menjadi sumber pengetahuan yang kontekstual. Sungai Brantas yang merupakan sungai terbesar di Jawa Timur ini menjadi tulang punggung bagi kehidupan Jawa Timur. Debit dan aliran Sungai Brantas dimanfaatkan untuk PLTA, irigasi, PDAM, air indutri dan lain-lain.. Penulis menginisiasi sebuah paper yang bertujuan untuk a) menganalisis bagaimana proses terbentuknya fenomena meanders besar aliran Sungai Brantas di Jawa Timur, b) memahami manfaat Brantas secara fisika di bidang PLTA, Irigasi, PDAM, dan Industri, c) mengembangkan paket pembelajaran kontekstual di beberapa titik Brantas. Pelaksanaan yang dilaksanakan untuk mecapai tujuan adalah survei tinjau lapangan (sepanjang Sungai Brantas dari mata air hingga ke hulu) dan melakukan percobaan sederhana di beberapa titik Sungai Brantas. Meander besar Brantas dipengaruhi oleh morfologi pegunungan tektonik dan gunung api yang masih aktif di wilayah Malang sehingga memanaskan batuan kapur selatan menjadi batuan marmer yang bersifat kedap air. Adanya marmer di selatan jawa timur ini yang membelokkan sungai ke utara. Aliran Sungai Brantas banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan hidup, diantaranya: energi aliran sungai untuk PLTA, massa air untuk air bersih dan air minum, aliran untuk irigasi. Proses pemanfaatan air Brantas ini menggunakan beberapa konsep fisika yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran kontektual. Selain itu, paket fisika berupa percobaan sederhana seperti pengukuran debit, kecepatan aliran, penentuan tinggi muka air dikembangkan lebih dalam untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang mekanika fluida sederhana.
Keywords
meander, morfologi pegunungan tektonik, pembelajaran fisika kontekstual
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Ahmad Saripudin
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran empat tahap pendekatan konstruktivisme terhadap peningkatan pemahaman konsep dan kemampuan menjelaskan fenomena fisis kehidupan nyata siswa SMK pada pokok bahasan rangkaian listrik arus searah. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experiment dengan desain one group fretest-posttest disign. Penelitian melibatkan sekitar 30 siswa kelas XI jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) pada salah satu sekolah SMK di Majalengka. Sampel dipilih menggunakan teknik sampling random sampling. Subyek penelitian diberi perlakukan pembelajaran empat tahap pendekatan konstruktivisme. Pengumpulan data menggunakan pretest dan posttest untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep dan kemampuan menjelaskan fenomena fisis kehidupan nyata siswa pada pokok bahasan rangkaian arus listrik searah. Pada setiap selesai pertemuan diberikan kuisioner terkait tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran, dan lembar observasi untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa pembelajaran empat tahap pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan menjelaskan fenomena fisis kehidupan nyata siswa.
Keywords
empat tahap pendekatan konstruktivimes, arus searah, pemahaman konsep, kemampuan menjelaskan fenomena fisis kehidupan nyata.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
neneng maryam jamaliah nurul janah
Institutions
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini berjudul pengaruh implementasi model inkuiri berbasis laboratorium terhadap perubahan konseptual siswa SMA pada konsep fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi model inkuiri berbasis laboratorium terhadap perubahan konseptual siswa SMA pada konsep fotosintesis. Metode penelitian yang digunakan adalah Weak Experimental dengan desain The One Group Pretest-postest Design dengan perluasan. Prosedur penelitian yang dilakukan secara garis besar adalah: (1) studi pendahuluan penjaringan konsepsi siswa pada konsep fotosintesis; (2) pelaksanaan pembelajaran penelitian dan penjaringan data; (3) analisis dan pembahasan. Hasil analisis perubahan konseptual menunjukkan terjadi perubahan konseptual yang signifikan, dengan berbagai tipe perubahan konseptual. Kesimpulan yang dapat diambil adalah model inkuiri berbasis laboratorium berpengaruh terhadap perubahan konseptual siswa SMA pada konsep fotosintesis.
Keywords
model inkuiri berbasis laboratorium, perubahan konseptual, fotosintesis
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Asep Simbolon
Institutions
Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Advent Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara siswa yang memperoleh model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) dengan soal umum dan siswa yang memperoleh model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) dengan domain soal. Penelitian ini dilakukan di SMP N 1 Cisarua Bandung Barat dengan disain penelitian adalah studi komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII SMP N 1 Cisarua Bandung Barat. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII-A yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan soal umum dan kelas VIII-B yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan domain soal. Hipotesis penelitian akan diuji dengan uji-t dengan taraf signifikansi 0.05. Hasil penelitian yang diperoleh adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara siswa yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan soal umum dan siswa yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan domain soal. Dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan domain soal lebih baik dari pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran ATI dengan soal umum. Model pembelajaran ATI dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Keywords
Model Pembelajaran ATI, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, Domain Soal
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Mirnawati Lamanimpa
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada siswa di kelas yang mendapat model pembelajaran Discovery dibandingkan dengan kelas konvensional. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperiment dengan desain penelitian The Non Equivalen, Pretest-Postest Design. Sampel penelitian terdiri dari 58 orang siswa kelas VIII dari salah satu SMP N di Kota Palu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan tes kemampuan berpikir kritis. Teknik analisis data menggunakan uji Normalitas, uji Homogenitas, uji N-Gain, uji t, dan uji Mann Withney dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 dan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi Sig (2-Tailed) adalah 0,00 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Diperoleh dari data peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk siswa yang menggunakan model pembelajaran Konvensional sebesar 0,44 dengan kategori sedang dan untuk siswa yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning sebesar 0,71 dengan kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran Discocery Learning pada materi indera penglihatan dan alat optik.
Keywords
Discovery Learning, Berpikir Kritis, Optik
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Garnis Nurida
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Pendidikan Indonesia
Email : nurida.garnis[at]gmail.com
Abstract
Garnis Nurida 1000435. Implementasi Model Pembelajaran Kontekstual yang Disesuaikan dengan Karakteristik Siswa Berkebutuhan Khusus untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Besaran dan Satuan (2015). Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengembangkan model pembelajaran kontekstual yang disesuaikan dengan karakteristik siswa berkebutuhan khusus. Siswa berkebutuhan khusus yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa berkebutuhan khusus bagian tunarungu. Penelitian kuantitatif ini menggunakan One Group Pretest-Posttest Design. Subjek penelitian adalah lima siswa SMALB B di salah satu SMALB di Bandung. Perangkat pembelajaran berupa RPP, instrument pretest-posttest, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran serta kinerja siswa. Data yang diperoleh dianalisis dan menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan pada rancangan pelaksanaan pembelajaran yang dibuat berdasarkan pengalaman pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan perhitungan N-Gain rata-rata siswa mengalami peningkatan pemahaman konsep sebesar 0,36 yang termasuk ke dalam kategori sedang.
Keywords
siswa berkebutuhan khusus, model pembelajaran kontekstual.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Siti Nurdianti Muhajir
Institutions
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Jl. A.H. Nasution No. 105 Cibiru Bandung
Abstract
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk menghadapi era industrialisasi dan globalisasi adalah kemampuan literasi sains. Untuk meningkatkan kemampuan literasi sains mahasiswa maka dalam penelitian ini kami menggunakan model problem solving laboratory (PSL) dalam proses pembelajaran Fisika Dasar II. Problem solving laboratory adalah model pembelajaran yang menyajikan permasalahan di dalam kelas sedang penyelasainnya dilakukan dengan kegiatan di laboratorium. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experimental, dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian ini adalah 15 mahasiswa semester II Prodi Pendidikan Fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan menggunakan teknik random sampling. Data peningkatan kemampuan literasi sains mahasiswa didapatkan melalui tes soal uraian. Berdasarkan uji hipotesis statistik menggunakan uji t menyatakan bahwa terdapat peningkatan kemampuan literasi sains mahasiswa yang signifikan dengan menerapkan model problem solving laboratory dengan nilai N-Gain rata-rata 0,55 yang termasuk kategori sedang. Dengan demikian model problem solving laboratory dapat diterapkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi sains mahasiswa
Keywords
Problem solving laboratory, kemampuan literasi sains
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Ruswanto Ruswanto
Institutions
Sekolah Indonesia Singapura
20A Siglap Road
Singapore
Abstract
Tujuan pembelajaran metode �Jaga Warung-Komedi Putar� pada materi biologi dilakukan dengan cara membagi kelompok, dan membagi tugas siswa yang menjadi 2 sebagai penjaga warung dan 2 sebagai pembeli. Diskusi kelompok dengan cara berputar (mirip komidi putar). Guru menghadirkan komedi putar. Seluruh modalitas belajar siswa (visual, audio, dan kinestetik) tercakup di dalam metode �Jaga Warung-Komedi Putar�. Keterlibatan berbagai indera di dalam proses ini pun cukup tinggi, artinya melalui metode ini siswa akan menguasai hasil belajar dengan optimal. Berdasarkan data, dari 17 siswa yang memiliki nilai ≤ 75 maka dinyatakan bahwa 100% siswa berhasil dalam pembelajaran konsep Mendeskripsikan Vertebrata. Keuntungan dan keunggulan pembelajaran Biologi dengan menggunakan metode �Komedi Putar-Jaga Warung, Konsep PAIKEM terciptakan. Nilai-nilai Karakter dapat terimplementasi melalui metode ini. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat tergali melalui: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa ( Affective and Creativity development).
Keywords
�Jaga Warung-Komedi Putar �, Jiwa Entreprenaur, Hasil Belajar Biologi
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Pramita Sylvia Dewi
Institutions
(1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung Indonesia
(2) Dosen Program Studi Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung Indonesia
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah mengimplementasikan pendekatan saintifik terhadap proses aktivitas guru dan siswa pada pembelajaran IPA Terpadu. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri Kota Bandar Lampung. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi, angket, dan format wawancara. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran IPA Terpadu dengan pendekatan saintifik pada aktivitas guru dan siswa sudah terlaksana dengan cukup baik, dimana keterlaksanaan kegiatan pendekatan saintifik memiliki rata-rata skor sebesar 3,18. Karakteristik pembelajaran IPA Terpadu yang di implementasikan meliputi: 1). mengamati, dimana siswa menjadikan suatu objek menjadi nyata, dan tentunya siswa menjadi senang dan tertantang. 2). menanya dimana guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang mengarahkan siswa pada materi yang akan disampaikan. Guru juga menyampaikan suatu permasalahan dalam fenomena sains kepada siswa. 3). mengumpulkan informasi, untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, siswa harus melakukan kegiatan eksperimen pada substansi materi yang sesuai dengan pembelajaran IPA Terpadu yang dibelajarkan. 4). mengolah informasi, proses pemaknaan informasi yang melibatkan penggunaan pengetahuan dari beberapa sumber harus dikaji untuk menambah keluasan dan kedalaman suatu infomasi yang diteliti. 5). mengkomunikasikan, memiliki peran dalam andil memberikan pengetahuan yang didapat siswa melaui presentasi baik kepada siswa-siswa lainnya, dimana kemampuan ini dapat secara lisan maupun tulisan dalam penyajiannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses aktivitas guru dan siswa pada pembelajaran IPA Terpadu dapat di implementasikan melalui pendekatan saintifik.
Keywords
pendekatan saintifik, pembelajaran IPA Terpadu, aktivitas guru dan siswa
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Uzi Fauziah
Institutions
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik materi cahaya pada pembelajaran IPA SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII pada salah satu SMP Negeri di Kabupaten Sumedang yang berjumlah 150 orang. Penentuan sampel tersebut dilakukan secara acak (randomize sampling). Instrumen penelitian yang digunakan berupa soal pilihan ganda dan angket.
Keywords
Materi, Cahaya, IPA
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
TASYA FITRIA ALIFA
Institutions
1 Jurusan Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl.Dr. Setiabudi No.229, Bandung 40154
a) tasyafitriaalifa[at]gmail.com (corresponding author)
b) taufik_lab.ipba[at]upi.edu
c) unang_purwana[at]yahoo.com
Abstract
Menurut beberapa ahli, terdapat korelasi positif antara keterampilan penalaran ilmiah dengan pengukuran peningkatan belajar dalam konten ilmu. Penalaran ilmiah juga merupakan jantung dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya penting untuk mempunyai instrumen tes yang dapat mengukur penalaran ilmiah peserta didik. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa meskipun pendidik yang dalam hal ini adalah guru sadar betul akan pentingnya penalaran ilmiah, namun mayoritas guru belum mengembangkan tes untuk mengukur keterampilan penalaran ilmiah. Meskipun sudah ada soal standar CTSR Antonie E. Lawson, namun CTSR ini belum fokus pada satu bidang ilmu dan satu topik materi. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan tes penalaran ilmiah yang disebut dengan MTSR (Mechanics Test of Scientific Reasoning). MTSR ini merupakan seperangkat tes penalaran ilmiah dengan bentuk tes pilihan ganda yang dikembangkan oleh peneliti dengan merujuk pada 6 dimensi penalaran ilmiah CTSR. Telah dilakukan penelitian dengan tujuan yaitu untuk mengetahui karakteristik MTSR yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan analisis tes item respon theory, serta untuk mengetahui model parameter logistik yang sesuai dengan MTSR. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian campuran. Data kualitatif diperoleh berdasarkan hasil judgement ahli dan data kuantitatif diperoleh dari hasil uji lapangan. Penelitian ini dilakukan dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 113 peserta didik yang diambil secara acak dari 4 sekolah menengah atas di kabupaten Pandeglang dengan kriteria subjek penelitian yaitu peserta didik SMA yang sudah mempelajari materi mekanika. Hasil karakteristik MTSR dilihat berdasarkan fungsi informasi item respon theory setiap butirnya. Untuk memilih parameter logistik yang sesuai dengan MTSR dilihat dari kurva fungsi informasi total yang mempunyai puncak tertinggi.
Keywords
Penalaran Ilmiah; Karakteristik Tes; Item Response Theory
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lintang Ratri Prastika
Institutions
a)SEAMEO QITEP in Science, Jalan Diponegoro 12 Bandung
*lintang.r.prastika[at]gmail.com
b)PPPPTK IPA, Jalan Diponegoro 12 Bandung
c)Kelompok Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi, FMIPA-ITB, Jalan ganesha 10 Bandung
Abstract
Melalui kerjasama antara SEAMEO Regional Centre for QITEP in Science, Dinas Pendidikan Kota Jayapura dan Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa pelatihan guru-guru calon kepala laboratorium IPA SMP dengan metode in-on-in dilakukan pada tahun 2017. Sebanyak 42 guru SMP Kota Jayapura dan 29 guru SMP Kabupaten Gowa mengikuti kegiatan tersebut. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan sebuah penelitian terhadap pelaksanaan praktikum IPA di kedua daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum pelaksanaan pembelajaran IPA di Kota Jayapura dan Kabupaten Gowa sebagai representasi dari wilayah Indonesia Bagian Timur. Menggunakan metode penelitian survei deskriptif berbasis kuisioner diperoleh data tentang keterlaksanaan pembelajaran praktikum, variasi jenis praktikum, kendala yang dialami untuk melaksanakan praktikum serta saran dari guru mata pelajaran IPA demi perbaikan pelaksanaan pembelajaran praktikum. Hasil pengolahan data secara deskriptif menunjukan bahwa 48.89% responden guru IPA di Kota Jayapura dan 50.00% responden guru IPA di Kota Gowa melaksanakan praktikum 4-6 kali/ tahun dengan kombinasi jenis praktikum beragam yang didominasi oleh praktikum terkait bidang Biologi serta Fisika. Responden guru dari kedua lokasi menunjukkan data bahwa kendala terbesar dalam pelaksanaan praktikum adalah manajemen waktu yang sulit menyesuaikan dengan waktu KBM sekolah (68.29% Kota Jayapura, 55.17% Kab. Gowa), kesulitan mengoperasikan alat-alat praktikum (69.05% Kota Jayapura, 62.70% Kab. Gowa) serta kesulitan untuk merancang panduan kegiatan praktikum (64.10% Kota Jayapura, 51.58% Kab. Gowa). Berdasarkan kendala tersebut, responden guru dari kedua wilayah memberikan beberapa masukan terutama mengenai penyediaan tenaga laboran serta penyelenggaraan kegiatan pemantapan terkait cara menggunakan alat dan bahan serta menyusun panduan praktikum, yang dapat difasilitasi melalui diskusi antar guru (MGMP) maupun melalui pelatihan/diklat.
Keywords
praktikum, IPA, SMP, survei
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Nila Mutia Dewi
Institutions
1. Pengajaran Fisika,
Sekolah Pascasarjana ITB,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
2.Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
Abstract
Menjadi seorang guru fisika di tingkat menegah tidak terlepas dari berbagai macam tantangan dalam dunia pembelajaran, utamanya adalah bagaimana cara guru menyajikan materi kepada siswa. Banyak sekali metode yang dapat digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajarannya, salah satu adalah pembelajaran kontekstual. Salah satu aplikasi fisika dalam kehidupan sehari-hari pada bab fluida dinamis adalah mainan baling-baling. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan secara detail konsep dasar fisika pada mainan baling-baling dan menentukan ketinggian maksimum yang dicapai oleh baling-baling ketika dimainkan. Hasil penelitian ini nantinya juga dapat digunakan sebagai referensi pada materi pengayaan fluida dinamis di kelas.
Keywords
Mainan baling-baling, pengukuran ketinggian maksimum
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
ASEP SUTIADI
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA UPI
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi rancangan self-assessment yang dapat digunakan untuk mengungkap pemahaman konsep siswa yang berorientasi pada Teori Marzano. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI di salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Kota Bandung. Konstruksi self-assessment didasari pada Teori Falchikov. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Data dikumpulkan melalui lembar self-assessment yang berorientasi pada tes pemahaman konsep bentuk pilihan ganda, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menginformasikan bahwa: (1) Rancangan self-assessment memiliki empat fase yaitu persiapan, implementasi, evaluasi dan follow up serta replikasi yang harus dilakukan secara berkesinambungan dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan indikator tes pemahaman konsep yang telah disusun. (2) Kelebihan rancangan self-assessment adalah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kebermaknaan proses penilaian, mengembangkan sikap-sikap positif siswa dalam kegiatan penilaian, dan menghasilkan profil self-assessment yang dapat diamati setiap bagian sesuai dengan indikator tes pemahaman konsep. (3) Kekurangan rancangan self-assessment adalah membutuhkan persiapan yang panjang. (4) Tingkat akurasi lembar self-assessment yang berorientasi pemahaman konsep teori Marzano cenderung meningkat.
Keywords
Self Assessment berorientasi Pemahaman Konsep Teori Marzano
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Oo Harsono
Institutions
Perguruan Islam Al Izhar Pondok Labu
Abstract
Globalisasi melahirkan paradigma baru dalam pendidikan yaitu fokus pada pengembangan kapasitas peserta didik terutama pada kemampuan berpikir kritis dan belajar sepanjang hayat. Perubahan paradigma pendidikan tersebut direspon pemerintah pada perubahan konseptual kurikulum yang ditunjukkan dengan adanya Kurikulum 2013 yang lebih mengarah pada orientasi pengembangan keterampilan berpikir kritis peserta didik melalui scientific method-nya [1]. Dengan adanya perkembangan konseptual kurikulum tersebut, maka proses pembelajaran harus dapat dikaitkan dengan fakta kehidupan dan alam serta kondisi perkembangan yang terjadi secara global berbasis pengetahuan, sehingga pembelajaran dirasakan bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kegiatan ekstrakurikuler penelitian memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan keterampilan proses IPA atau tidak. Kegiatan pembelajaran berbasis penelitian diunggulkan tidak hanya karena mampu mengkaitkan antara materi pelajaran dengan fakta kehidupan atau alam tetapi model pembelajaran ini mampu mengembangkan keterampilan proses IPA serta mengintegrasikan penanaman nilai-nilai, moral, serta etika. Kegiatan ekstrakurikuler penelitian menggunakan model pembelajaran kontekstual tipe inkuiri. Model ini dipilih karena melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajarannya dan menghubungkannya dan menerapkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari. Bruner dalam teorinya Free Discovery Learning, mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif apabila guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ada dalam kehidupan sehari-hari [2]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler penelitian memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan keterampilan proses IPA.
Keywords
kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran berbasis penelitian, keterampilan proses IPA.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lilik Hendrajaya
Institutions
Department of Physics, FMIPA, ITB
Abstract
Pembelajaran fisika berbasis buku teks di negara maju masih menitikberatkan pada teori yang hanya memberikan sedikit contoh - contoh mengenai fenomena yang tersedia di alam. Banyak sekali fenomena alam yang sangat jelas karakteristik fisikanya seperti pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya alam yang seringkali terabaikan dari perhatian pengajar fisika untuk dibahas sebagai contoh penerapan fisika secara nyata. Membangun Laboratorium Fisika Alam tidak membutuhkan biaya yang mahal dan dapat diaplikasikan pada beberapa bidang praktikum. Dengan demikian, program studi fisika dan pendidikan atau pengajaran fisika dapat didirikan di banyak perguruan tinggi. Modul-modul praktikum berikut dapat menjadi modul dasar diantaranya, volume dan luas permukaan benda dengan bentuk geometri tertentu, penentuan tinggi suatu tempat dari dua tempat yang diketahui secara ilmu ukur segitiga, kinematika dan mekanika jalan raya, pengukuran dinamika aliran sungai, fisika longsoran dengan peninjauan bidang miring, menggeser, runtuh, menggelinding dan mengalir, percepatan gravitasi: bandul matematika, pengukuran potensial dari muka bumi (deteksi benda terpendam), gaya lorentz sebagai dasar kereta super cepat, angin dan umbul-umbul magnet (generasi listrik), dan fisika batumulia/akik. Laboratorium Fisika Alam dapat digunakan untuk mengelola sumber daya alam dan juga menghasilkan pembelajaran fisika kontekstual sumberdaya alam yang akan membuat fisika mudah dipahami. Dalam fisika generik, bukunya yang pinter dan dalam fisika kontekstual, pengajarnya yang pinter. Marilah kita awali sejarah baru untuk hasilkan bangsa yang lebih pandai.
Keywords
pembelajaran, modul, kontekstual
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Anita Marina Maryati
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lembar kerja siswa (LKS) eksperimen dan non-eksperimen berbasis inkuiri terstruktur pada subpokok materi Pergeseran Kesetimbangan Kimia. LKS yang dikembangkan sebanyak tiga LKS; (1) LKS eksperimen pada materi pokok Pengaruh Pengubahan Konsentrasi terhadap Sistem Kesetimbangan, (2) LKS non-eksperimen pada materi pokok Pengaruh Pengubahan Suhu terhadap Sistem Kesetimbangan, dan (3) LKS non-eksperimen pada materi pokok Pengaruh Pengubahan Tekanan terhadap Sistem Kesetimbangan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan pendidikan (Education Reasearch and Development) dengan model 4 D (define, design, develop, disseminate). Penelitian ini hanya dilaksanakan hingga tahap develop. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, lembar observasi praktikum, lembar observasi pembelajaran, dan angket. Dari tahap design, diperoleh hasil optimasi prosedur praktikum yaitu konsentrasi minimum masing-masing reaktan (larutan FeCl3 dan larutan KSCN) adalah 0,01 M, dan larutan yang dipakai sebagai zat penggeser kesetimbangan ke arah reaktan adalah larutan NaOH 1 M. Dari tahap develop, diperoleh hasil yaitu keterlaksanaan praktikum tergolong sangat baik dengan persentase 89,6%, tanggapan siswa terhadap LKS eksperimen tergolong baik dengan persentase 77,7% dan tanggapan siswa terhadap praktikum tergolong sangat baik dengan persentase 80,8%. Keterlaksanaan pembelajaran tergolong sangat baik dengan persentase 95,7%, sedangkan tanggapan siswa untuk LKS non-eksperimen tergolong baik dengan persentase 79,6%. Penilaian guru terhadap LKS eksperimen hasil pengembangan adalah LKS tersebut mudah dipahami dan dapat digunakan oleh siswa dengan prestasi tinggi maupun prestasi rendah, kalimat yang digunakan cukup baik, serta desain LKS menarik.
Keywords
pengembangan lembar kerja siswa; LKS eksperimen; LKS non-eksperimen; optimasi prosedur praktikum; inkuiri terstruktur
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Nugro Wicokro
Institutions
SMA Negeri 1 Plumbon Kabupaten Cirebon
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
Abstract
Abstrak Adanya penurunan prestasi belajar mata pelajaran matematika walaupun guru telah menggunakan berbagai media. Akan dibuktikan hubungan manajemen pembelajaran islam berbasis TIK dan pemanfaatan e-learning terhadap prestasi belajar matematika siswa, menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan responden 56 orang siswa, teknik penelitian deskriptif. Hasil penelitian terdapat hubungan yang posistif antara manajemen pembelajaran Islam berbasis TIK dan pemanfaatan e-learning dengan prestasi belajar matematika siswa cukup kuat, hal tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (rx1y) sebesar 0,72 pada &
Keywords
Kata-kata kunci: prestasi belajar, manajemen pembelajaran islam
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Nur Ahmad
Institutions
Institut Teknologi Bandung (ITB)
Abstract
Maglev (Magnetically Levitated Train) berarti kereta yang mengambang secara magnetis. Kereta ini bekerja berdasarkan prinsip gaya angkat magnetis berupa Kumparan magnet berjalan di sepanjang trek, disebut guideway, repels magnet besar di bawah kereta, yang memungkinkan kereta untuk melayang antara 0,39 dan 3,93 inci di atas relnya. Gaya dorong kereta ini dihasilkan oleh interaksi antara motor induksi raksasa di dalam kereta dengan rel magnetisnya, yang otomatis menghasilkan gaya dorong yang luar biasa kuatnya. Arus listrik yang dipasok ke kumparan di dinding guideway terus bolak-balik mengubah polaritas kumparan magnet. Perubahan polaritas menyebabkan medan magnet di depan kereta untuk menarik kendaraan ke depan, sementara medan magnet di belakang kereta menambahkan dorongan lebih maju hingga mampu melaju dengan kecepatan sampai 650 km/jam. Kelebihan utama dari kereta ini adalah kemampuannya yang bisa melayang di atas rel, sehingga tidak menimbulkan gesekan. Kekurangannya adalah kebisingan (suara) yang ditimbulkan disaat kereta ini bergerak hampir sama dengan sebuah pesawat jet dan mahalnya investasi terutama pengadaan relnya. Metode penelitian berupa penelusuran pustaka melalui literatur buku, jurnal dan peragaan model gaya angkat magnetis. Studi ini mempelajari aspek fisika tentang Maglev dan dikemas untuk pembelajaran di sekolah. Aspek fisika nya adalah hukum Biot Savart pada kawat melingkar dan solenoid. Hasilnya berupa alat peraga yang menunjukkan sifat levitasi magnet dan bahan ajar.
Keywords
maglev, magnet, kereta cepat
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Dona Mustika
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Daerah Aceh terbentuk dari hasil subduksi tumbukan antara lempeng Eurasia (di atas) dan lempeng Samudra Hindia ( di bawah ). Dengan adanya bukaan (spreading) di Andaman , daerah Aceh terbelah membujur oleh Patahan Sumatra. Daerah ini cukup panas tertandai adanya kegempaan tinggi, Patahan Sumatra yang aktif, beberapa gunungapi dan kaldera besar Toba dan di selat antara P. Weh dan pulau Sumatra. Mineralisasi cukup kuat baik dengan terdapatnya urat-urat mineral di pegunungan, batuan metamorf dan mineral hasil pelapukan yang terendapkan dicekungan-cekungan termasuk cebakan hidrokarbon. Permukaan bumi bermorfologi tebing dan jurang tertitupi hutan (masih lebat ). Pengelolaan sumberdaya alam akan menghasilkan rekayasa, penerapan teknklogi produksi dan seharusnya juga pemeliharaan lingkungan hidup. Dari fenomena alam dan kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memahami fisika secara kontekstual. Struktur belajar fisika : fisika matematika, kinematika, mekanika, listrik-magnet, optika, gelombang , panas dan termodinamika, fenomena kuantum dapat dicarikan kontekstualnya. Demikian juga termasuk membuat modul-modul praktikum fisika alamnya
Keywords
tektonik daerah Aceh, sumberdaya alam, fisika kontekstual, praktikum fisika alam
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Silviana Hendri
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Berdasarkan deklarasi UNESCO pada tahun 2010, pendidikan masa kini harus diarahkan pada : 1) pembelajaran holistik dan lintas disiplin ilmu daripada pembelajaran berbasis mata pelajaran; 2) pembelajaran berbasis nilai-nilai dan berpikir kritis daripada menghafal; dan 3) pembelajaran yang melibatkan pembuatan keputusan (Christenson, Rundgren, dan Zeidler, 2014). Sejalan dengan hal tersebut, pembelajaran sains harus dapat menghubungkan konsep sains (ilmiah) dengan isu sosial yang berkembang di masyarakat. Isu semacam ini dikenal dengan isu sosial-ilmiah (socioscientific Issue). Dengan memperkenalkan dan membahas isu sosial-ilmiah dalam pembelajaran sains, yakni menjadikan isu sosial-ilmiah sebagai konten utama materi pembelajaran, siswa mampu mengembangkan keterampilan berargumentasi. Keterampilan berargumentasi diperlukan untuk membuat keputusan secara bijak berdasarkan pengetahuan sains yang diperoleh siswa dalam menyikapi berbagai isu sosial-ilmiah. Makalah ini mendiskusikan tentang pentingnya keterampilan berargumentasi, isu sosial-ilmiah yang yang dapat dikembangkan menjadi tema dalam pembelajaran sains, dan kualitas argumentasi berdasarkan Toulmin�s Argumentat Pattern (TAP).
Keywords
keterampilan argumentasi, isu sosial ilmiah,TAP, pembelajaran sains
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Aloysius Rusli
Institutions
Jurusan Fisika, FTIS
Universitas Katolik Parahyangan
Abstract
Literasi sains (Science Literacy) merupakan salah satu kelengkapan peradaban mutakhir, yang makin diwarnai dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan keterkaitan dua satuan dasar pertama Sistem Internasional, yaitu detik dan meter, diajukan hasil studi kecil ini. Sebagai picu perhatian, dipilih judul yang menonjolkan "keanehan" bahwa nilai percepatan gravitasi di permukaan Bumi praktis sama dengan nilai kuadrat bilangan yang menunjukkan perbandingan keliling suatu lingkaran dengan garis tengahnya; dua besaran yang sepintas tidak tampak ada hubungan apapun. sehingga bagaimana mungkin nilainya dapat mirip satu dengan lainnya. Ternyata ini terjadi akibat pengaitan satuan detik yang sudah dikenal sejak jaman Sumeria 30 abad yang lalu, dengan satuan meter yang dirintis menjelang Revolusi Perancis akhir abad ke 18, melalui apa yang disebut sebagai "bandul detik". Akhirnya, ternyata satuan meter bukannya dikaitkan dengan satuan detik, melainkan dikaitkan dengan ukuran Bumi, akibat pertimbangan yang dapat disebut pertimbangan politik. Dengan demikian dapat ditunjukkan betapa berbagai pertimbangan dalam komunitas manusia, dapat saling berpengaruh, sehingga literasi sains kiranya perlu disertai pula oleh literasi tentang pergaulan manusia sedunia.
Keywords
Sistem Internasional, meter, detik
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
RISA HARTATI
Institutions
Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari implementasi model Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPA Terpadu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain the static group pretest-posttest design. Sampel penelitian ini terdiri dari 50 siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Lampung Utara pada tahun ajaran 2014/2015 yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berpikir kritis materi pencemaran lingkungan yang digunakan untuk mengukur penguasaan kemampuan berpikir kritis siswa dan angket tanggapan siswa terhadap implementasi pelaksanaan PBL. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t (independent sample t-test) terhadap nilai gain yang dinormalisasi (N-gain) dari nilai pretes dan postes siswa dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 dan Microsoft Excel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa antara kelas yang menerapkan model PBL dengan kelas kontrol. Hasil penelitian ini dibuktikan dari nilai sig (2-tailed) uji t sebesar 0,022 yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen mengalami peningkatan sebesar 47% sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol sebesar 32%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran IPA terpadu memiliki dampak yang positif terhadap penguasaan kemampuan berpikir kritis siswa.
Keywords
Model Problem Based Learning (PBL), Berpikir Kritis
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lamtiur Pasaribu
Institutions
Universitas Advent Indonesia.
Abstract
Penelitian yang dilakukan pada skripsi ini adalah penelitian studi komparatif. Populasinya adalah siswa kelas VII SMP Bandung Barat dengan sampel penelitian yang diambil adalah dua kelompok dari kelas VII SMPN 1 Cisarua. Pada kelompok satu memperoleh perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan kelompok dua memperoleh tipe Tutor Sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan tipe Tutor Sebaya dan mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran yang diperoleh. Instrumen yang digunakan adalah soal-soal kemampuan koneksi matematis berbentuk soal uraian dan non tes yaitu angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan koneksi matematis pada siswa yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan pada siswa yang memperoleh tipe Tutor Sebaya, peningkatannya tergolong dalam kategori sedang. Terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan kemampuan koneksi matematis antara siswa yang memperoleh model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan siswa yang memperoleh tipe Tutor Sebaya. Respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan tipe Tutor Sebaya adalah sangat suka.
Keywords
Kemampuan Koneksi Matematis, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together dan Tipe Tutor Sebaya.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
parlindungan sinaga
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA UPI
Abstract
Mahasiswa yang masuk perguruan tinggi negri memiliki kualitas yang baik sebab mereka telah berhasil melewati tes saringan masuk yang cukup ketat. Namun setelah mereka menjadi mahasiswa perguruan tinggi banyak yang tidak sukses dalam mengikuti program perkuliahan. Masalah yang teridentifikasi ialah mahasiswa belum memiliki strategi dan self regulated untuk belajar di perguruan tinggi. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini ialah bagaimanakah meningkatkan pemahaman konseptual mahasiswa melalui pendekatan pembelajaran yang membantu menumbuhkan strategi dan self-regulated mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan ialah quasi eksperimen dengan pre-test post-test control group design. Subjek penelitian ialah mahasiswa program pendidikan fisika dan mahasiswa program fisika yang menjadi peserta perkuliahan fisika modern pada tahun 2014. Instrumen yang digunakan ialah tes pemahaman konsep, four rating scale questionner learning strategy dan pedoman interview semi-structure Data penelitian diolah secara kuantitatif dan kualiatif. Kesimpulan yang diperoleh ialah pendekatan pembelajaran untuk membantu menumbuhkan strategi dan self-regulated mahasiswa yang disisipkan pada perkuliahan fisika modern dapat meningkatkan pemahaman konseptual pada pokok bahasan dualisme gelombang partikel dengan persentase rata-rata gain yang dinormalisasin pada kriteria sedang dan efect size dengan kriteria tinggi. Pendekatan pembelajaran yang dirancang juga dapat meningkatkan strategi dan self-regulated mahasiswa dengan persentase rata-rata gain yang dinormalisasi termasuk pada kriteria sedang.
Keywords
self regulated, strategi pembelajaran, peningkatan pemahaman konseptual
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Syam Hadinugraha
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Pembelajaran yang menarik bagi siswa diperlukan untuk memastikan keterlibatan siswa dalam memperoleh pengetahuan dan meningkatkan literasi sains yang dimilikinya. Diterapkan hybridized writing dan mind mapping dalam pembelajaran IPA terpadu materi Ekosistem dan Lingkungan untuk meningkatkan literasi sains dan ketertarikan siswa terhadap belajaran IPA di kelas 7 (n=64). Metode kuasi-eksperimen yang melibatkan dua kelas digunakan dalam penelitian. Sekelompok siswa di kelas pertama membuat sebuah cerita yang menggabungkan genre naratif dengan genre ilmiah. Kelompok siswa di kelas kedua membuat sebuah peta pikiran yang menggambarkan pemahaman ilmiah yang dimilikinya. Capaian pembelajaran dinilai menggunakan butir tes literasi sains yang dilengkapi dengan kuesioner sikap serta matriks penilaian keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian diduga menunjukkan bahwa kegiatan membuat peta pikiran dan hybridized writing dapat meningkatkan literasi sains siswa kelas 7 pada beberapa aspeknya. Satu metode mungkin relatif unggul dibanding metode lainnya dalam meningkatkan literasi sains.
Keywords
literasi sains, peta pikiran, hybridized writing
Topic
Pembelajaran (EDU)
Page 2 (data 31 to 60 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats