Page 4 (data 91 to 120 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
mutiara zanzibar
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa setelah mengikuti pembelajaran inkuiri terbimbing melalui kegiatan field trip ke Bangka Botanical Garden (BBG). Penelitian ini merupakan penelitian weak eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Namang Kabupaten Bangka Tengah. Sampel diambil dengan cara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tes awal dan tes akhir pada soal keterampilan berpikir kreatif yang diukur dengan menggunakan tes essai. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis statistik uji normalitas dan uji-t sampel berpasangan (paired sample t-test) menggunakan bantuan SPSS 21 for Windows dengan signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing melalui kegiatan field trip ke Bangka Botanical Garden (BBG) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa dengan rerata N-Gain 0,59 yang termasuk kategori sedang.
Keywords
Inkuiri terbimbing, Field trip, Keterampilan berpikir kreatif
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Fioren Palma Sibarani
Institutions
Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Advent Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan atau tanpa memperhatikan domain soal pada siswa SMA. Desain penelitian ini merupakan desain komparatif, Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA 1 dan kelas XI MIA 2 SMA N 1 Parongpong. Instrumen penelitian terdiri dari tes kemampuan pemecahan masalah matematis dan angket respon siswa. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dengan memperhatikan domain soal dan tanpa memperhatikan domain soal. Selanjutnya, kebanyakan siswa menunjukkan respon yang tergolong �sangat senang� terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) yang sudah dilakukan dalam penelitian ini.
Keywords
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, Model Pembelajaran Means Ends Analysis (MEA), Domain Soal.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Munawwarah Bahar
Institutions
Universitas Negeri Makassar
Abstract
Munawwarah, 2014. Penerapan Model Pembelajaran Tipe STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XIS-3 SMAN 3 Lau Maros (Studi pada Materi Pokok Stoikiometri). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Makassar (dibimbing oleh Maryono dan Ramdani). Penelitian tindakan kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XIS-3 SMAN 3 Lau Maros melalui model pembelajaran tipe STAD. Secara garis besar terdapat empat tahapan PTK, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diterapkan pada model pembelajaran tipe STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa Kelas XIS-3 SMAN 3 Lau Maros. Langkah-langkah tersebut yaitu: (1) Membagi siswa dalam kelompok belajar heterogen yang baru dengan jumlah siswa yang sama dan menentukan posisi masing-masing kelompok dalam kelas; (2) Menyiapkan ringkasan materi untuk masing-masing kelompok; (3) Menunjuk siswa yang berkemampuan tinggi dari masing-masing kelompok untuk bertanggung jawab menjelaskan materi yang belum dimengerti oleh teman kelompoknya; (4) Menunjuk siswa secara acak dari masing-masing kelompok untuk mengerjakan tugasnya di depan kelas dan memberikan kesimpulan dari materi yang telah dipelajari. Motivasi siswa siklus I sebanyak 4% kategori sangat tinggi, 88% kategori tinggi. Hasil belajar siswa siklus I yaitu 52% mencapai ketuntasan. Motivasi siswa siklus II sebanyak 40% kategori sangat tinggi, 60% kategori tinggi. Hasil belajar siswa siklus II yaitu 72% mencapai ketuntasan.
Keywords
STAD, motivasi siswa, hasil belajar, stoikiometri.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
ADAM MALIK
Institutions
Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
Jl. Raya A.H Nasution No. 105, Bandung 40614
adamuin[at]gmail.com
Abstract
Hasil studi pendahuluan di Prodi Pendidikan Fisika pada mata kuliah Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan I menunjukkan mahasiswa saat melaksanakan praktikum bergantung pada modul, belum terampil dalam menggunakan alat praktikum dan mengambil data dengan benar serta masih rendah Keterampilan Proses Sains (KPS)nya. Sebagai upaya meningkatkan KPS mahasiswa, diterapkan model problem solving laboratory. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas peneliti dan mahasiswa pada setiap tahapan model, peningkatan KPS mahasiswa dan tanggapan mahasiswa. Metode penelitiannya pre-experimental, dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian dilaksanakan di Prodi Pendidikan Fisika, dengan populasi kelas A dan B mahasiswa Pendidikan Fisika angkatan 2012 Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dimana sampel yang terpilih kelas A. Data aktivitas peneliti dan mahasiswa diperoleh melalui lembar observasi, peningkatan KPS mahasiswa dengan tes uraian, dan tanggapan mahasiswa dengan angket. Hasil penelitian menunjukkan persentase rata-rata keterlaksanaan aktivitas peneliti 96% dan aktivitas mahasiswa 86,1%, berarti berlangsung sangat baik. Berdasarkan uji hipotesis (thitung > ttabel) (14.54 > 2.78), artinya Ho ditolak atau terdapat peningkatan KPS mahasiswa setelah diterapkan model praktikum problem solving laboratory dengan nilai rata-rata N-Gain 0,47 berkategori sedang. Mahasiswa memberikan tanggapan positif terhadap pelaksanaan praktikum model problem solving laboratory dengan persentase 80,69%. Dengan demikian model problem solving laboratory dapat diterapkan untuk meningkatkan KPS mahasiswa.
Keywords
Problem solving laboratory, science process skills
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
NISA WULANDARI
Institutions
Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPA Terpadu untuk meningkatkan aspek sikap kemampuan literasi sains siswa SMP. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperiment dengan desain penelitian The Static-Group Pretest-Postest Design. Penelitian ini dilakukan pada 54 orang siswa kelas VII di salah satu SMPN di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes skala sikap literasi sains yang disusun berdasarkan skala Likert. Teknik analisis data menggunakan uji Normalitas, uji Homogenitas, dan uji t (Independent Sample T-Test) terhadap nilai N-gain dari tes skala sikap literasi sains menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 dan Microsoft Excel. Hasil rata-rata N-gain kelas eksperimen dan kontrol yang diperoleh adalah 0,48 dan 0,32 dengan kategori peningkatan sedang. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh nilai signifikansi Sig. (2-tailed) 0.023 < 0,050, berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan aspek sikap literasi sains antara siswa kelas eksperimen dan kontrol. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPA Terpadu dapat membantu siswa dalam meningkatkan aspek sikap literasi sains.
Keywords
Problem Based Learning (PBL), Sikap Literasi Sains
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
JASMINE KHAIRINA
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Kegiatan pembelajaran yang mendidik untuk mengatasi kecenderungan masalah yang timbul dalam proses pembelajaran fisika perlu dikembangkan. Salah satu model pembelajaran yang dianjurkan berdasarkan Kurikulum 2013 adalah Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Model Problem Based Learning dapat menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja atau dengan kata lain peserta didik dapat memiliki kemampuan belajar mandiri (self directed learning skill). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap profil level Self Directed Learning Skill siswa SMA pada materi momentum dan impuls. Penelitian yang sudah dikembangkan ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian one group pretest-postest design, subjek penelitian adalah siswa SMA kelas X dengan sampel dua kelas eksperimen tanpa menggunakan kelas pembanding. Dalam desain ini, sebelum perlakuan diberikan, terlebih dahulu sampel diberi pretest dan di akhir pembelajaran sampel diberi posttest. Instrumen yang dipakai adalah kuisioner Self Directed Learning Skill atau Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang terdiri dari 34 item dengan 5 skala. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan perhitungan serta pengkategorian berdasarkan SDLRS (Self Directed Learning Rubic Score) tipe SDLRS-ABE. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan profil level Self Directed Learning Skill siswa berada pada kisaran level dibawah rata-rata yaitu sebanyak 90% dari sampel yang diambil. Dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning dapat mengembangkan keterampilan/ kemampuan belajar mandiri (Self Directed Learning Skill) siswa.
Keywords
: Problem Based Learning, Self Directed Learning Skill, Momentum dan Impuls
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
JASMINE KHAIRINA
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Kegiatan pembelajaran yang mendidik untuk mengatasi kecenderungan masalah yang timbul dalam proses pembelajaran fisika perlu dikembangkan. Salah satu model pembelajaran yang dianjurkan berdasarkan Kurikulum 2013 adalah Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik memperoleh pengetahuan yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Model Problem Based Learning ini dapat membuat peserta didik memiliki kemampuan memahami yang baik juga dapat menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja atau dengan kata lain peserta didik dapat memiliki kemampuan belajar mandiri (self directed learning skill). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap peningkatan kemampuan memahami serta terhadap profil level Self Directed Learning Skill siswa SMA pada materi momentum dan impuls. Penelitian yang sudah dikembangkan ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian one group pretest-postest design, subjek penelitian adalah siswa SMA kelas X dengan sampel dua kelas eksperimen tanpa menggunakan kelas pembanding. Dalam desain ini, sebelum perlakuan diberikan, terlebih dahulu sampel diberi pretest dan di akhir pembelajaran sampel diberi posttest. Instrumen yang dipakai adalah pre dan post tes berupa tes kemampuan memahami yang berdasarkan indikator taksonomi Bloom Revisi/Anderson, dan kuisioner Self Directed Learning Skill atau Self Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang terdiri dari 34 item dengan 5 skala. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan perhitungan rata-rata N-gain kemampuan memahami dan perhitungan serta pengkategorian berdasarkan SDLRS (Self Directed Learning Rubic Score) tipe SDLRS-ABE. Hasil analisis data, didapatkan peningkatan kemampuan memahami berdasarkan N-gain yaitu 0,82 (tinggi) dan profil level Self Directed Learning Skill siswa berada pada kisaran level dibawah rata-rata yaitu sebanyak 90% dari sampel yang diambil. Dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan memahami, juga mengembangkan keterampilan/ kemampuan belajar mandiri (Self Directed Learning Skill) siswa.
Keywords
Problem Based Learning, Kemampuan Memahami, Self Directed Learning Skill
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Suhar Yadi
Institutions
Program Studi Pedidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA,
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan,
UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
suharyadi948[at]gmail.com
Abstract
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMAN 1 Cileunyi pada mata pelajaran kimia kelas XI MIPA menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan belum baik. Hal tersebut terbukti dari nilai ulangan harian siswa pada konsep tersebut. Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil beajar siswa maka digunakan model problem solving laboratory. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas siswa pada setiap tahapan model dan peningkatan hasil belajar siswa. Metode penelitiannya pre-eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dimana sampel yang terpilih yaitu siswa kelas XI MIPA 1 angkatan 2017. Data aktivitas siswa diperoleh melalui lembar observasi dan data peningkatan hasil belajar melalui tes berupa soal uraian. Hasil penelitian selama dua kali pertemuan menunjukkan bahwa siswa mengikuti setiap tahapan model dengan baik dan terdapat peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model problem solving laboratory dengan nilai rata-rata N-Gain 0,654 berkategori sedang. Dengan demikian, model problem solving laboratory dapat diterapkan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Keywords
problem solving laboratory, hasil belajar, kelarutan dan hasil kali kelarutan
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Chandra Okta Fiandi
Institutions
Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan kemampuan kognitif peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD) pada pembelajaran IPA terpadu tipe shared pada materi pokok cahaya. Metode Penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment dengan desain The Mathing-Only Pretest-Posttest Control Group. Dilaksanakan di Kelas VIII tahun pelajaran 2014/2015 SMP Negeri 01 Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pretest dan posttest kognitif yang berupa soal tertulis pilihan ganda. Rerata N-Gain kemampuan kognitif siswa dengan penerapan model STAD 0,39 dengan kategori sedang dan kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional 0,14 dengan kategori redah. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan Independent Sample t-Test pada program SPSS versi 22.0 for windows. Hasilnya diperoleh nilai sig (2 �tailed)= 0,00 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05. Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan yang signifikan antara penggunaan model pembelajaran STAD dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik pada penerapan pembelajaran IPA terpadu tipe shared pada materi pokok cahaya.
Keywords
Student Teams-Acievement Divisions, Cahaya, Keterpaduan Tipe Shared, Kemampuan Kognitif
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Elita De Ovira
Institutions
a) Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia
Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung 40154, Indonesia
*elitadeovira25[at]yahoo.co.id
b) Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Padang
Jalan Prof. Dr. Hamka Air Tawar Padang, Indonesia
Abstract
Strategi Questions Students Have (QSH) merupakan salah satu tipe pembelajaran aktif yang meminta siswa untuk bertanya melalui selembar kartu dan dibahas bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan apakah penggunaan strategi pembelajaran aktif tipe Questions Students Have dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia siswa pada materi Tata Nama Senyawa dan Persamaan Reaksi Kimia di kelas X SMAN 7 Padang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Randomized Control Group Only Design. Kelas sampel diambil secara random sampling dan diperoleh kelas X7 sebagai kelas eksperimen dan X10 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 62,5 dan kelas kontrol adalah 54,12. Kedua kelas sampel terdistribusi normal dan homogen, maka uji hipotesis yang digunakan adalah uji t pada taraf signifikansi alpha = 0,05. Setelah dilakukan uji-t diperoleh t hitung sebesar 2,646 sedangkan t tabel sebesar 2,00, artinya t hitung > t tabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Questions Students Have dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa lebih tinggi secara signifikan daripada pembelajaran konvensional pada materi Tata Nama Senyawa dan Persamaan Reaksi Kimia di Kelas X SMAN 7 Padang.
Keywords
QSH, pembelajaran aktif, Tata Nama Senyawa dan Persamaan Reaksi Kimia
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
sherly yulidarti
Institutions
Departmen Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Jalan setiabudi no.229, Isola, Sukasari, Bandung 40154
Abstract
Keterampilan Proses Sains (KPS) merupakan keterampilan yang sangat penting bagi seseorang untuk mempelajari sains secara ilmiah. Meskipun keterampilan ini dipandang penting namun hasil observasi menunjukkan bahwa keterampilan ini masih belum dilatihkan secara optimal dalam proses pembelajaran sains. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksploratif yang bertujuan untuk mendapatkan perkembangan KPS pada materi kalor melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan KPS. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 34 siswa di salah satu SMP di Kabupaten Bandung Barat. Perkembangan KPS diperoleh melalui asesmen portofolio menggunakan rubrik penilaian LKS. Hasil penelitian menunjukkan pendekatan KPS mampu mengembangkan KPS siswa dari kategori rendah ke kategori baik. Aspek KPS yang dapat berkembang dengan optimal adalah keterampilan observasi, memprediksi, mengajukan hipotesis dan merencanakan eksperimen, sedangkan aspek KPS yang belum berkembang dengan optimal adalah keterampilan melaksanakan eksperimen.
Keywords
Pendekatan Keterampilan Proses Sains, Keterampilan Proses Sains, dan Kalor
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Risna wita
Institutions
IAIN BUKITTINGGI
Abstract
Penelitian ini didasarkan atas kurangnya pemahaman siswa dalam mempelajari konsep matematika di kelas VIII SMP. Diduga salah satu penyebabnya adalah pembelajaran matematika di sekolah berlangsung secara abstrak dan mekanistik. Untuk itu dirancang pembelajaran matematika yang diawali dengan kehidupan nyata siswa dengan menerapakan pembelajaran pendidikan matematika realistik. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah aktifitas belajar siswa yang mengikuti Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada mata pelajaran matematika di kelas VIII SMP Negeri 1 Kecamatan Luak? dan Apakah hasil belajar siswa yang mengikuti Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada mata pelajaran matematika di kelas VIII SMP Negeri 1 Kecamatan Luak?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas dan hasil belajar siswa yang mengikuti Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) lebih baik dari pada aktifitas dan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada mata pelajaran matematika di kelas VIII SMP Negeri 1 Kecamatan Luak. Hipotesis dalam penelitian ini adalah Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMP Negeri 1 Kecamatan Luak. Jenis penelitian ini adalah pra-eksperimen dengan rancangan penelitian yaitu The Static Group Comparison Design: Randomized Control Group Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kecamatan Luak yang terdiri dari empat kelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Random sampling setelah dilakukan uji normalitas, uji homogenitas dan uji kesamaan rata-rata. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII3 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII2 sebagai kelas kontrol. Data penelitian Hasil belajar matematika diperoleh dari tes akhir, data aktifitas siswa diperoleh dari lembar observasi.
Keywords
Pendekatan, Pembelajaran Matematika Realistik
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Apep Nurdiyanto
Institutions
Prodi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia
Abstract
TBL (Task-Based Learning) merupakan metode pembelajaran yang memberikan tugas peran yang berbeda kepada setiap siswa. Peran penting yang harus dijabarkan pada metode TBL yaitu perencana, pengumpul informasi, pengorganisir data, pendesain skema, penyiap percobaan dan penyaji. Metode TBL ini diterapkan pada sebuah penelitian supaya diketahui sejauh mana peran aktif siswa dalam pembelajaran penentuan indikator alam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kelas dengan subjek penelitian 30 orang siswa kelas XII IPA 2 SMA Mekar Arum Bandung. Instrumen yang digunakan adalah format observasi siswa beserta tugas peran dalam LKS. Pengolahan data dilakukan dengan mengidentifikasi format observasi siswa beserta tugas peran dalam LKS, setelah itu dikelompokkan atas dasar peran yang sama dan dihitung rata-rata nilai yang didapat dari tiap peran yang sama tersebut, kemudian hasilnya diubah ke dalam bentuk persen. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa tugas peran penyiap percobaan mendapat persentase nilai paling tinggi yaitu 92 %, tugas peran perencana, pengumpul informasi, pengorganisir data dan pendesain skema mendapat persentase nilai antara 88-91%, dan tugas peran penyaji mendapat persentase nilai paling rendah yaitu 86 %.
Keywords
Metode TBL (Task-Based Learning), Keaktifan Siswa, Indikator Alam
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Elva Firma
Institutions
Sekolah Pasca sarjana Program Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Berdasarkan pengamatan, rendahnya hasil belajar siswa tampak dari kurangnya respon yang diberikan siswa tehadap pertanyaan dan penjelasan guru selama pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan buku belum memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengaruh penggunaan bahan ajar dalam seting pembelajaran science technology society (STS) terhadap hasil belajar fisika siswa, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jenis penelitian ini berupa pra eksperimental dengan rancangan randomized control group only design. Instrument yang digunakan untuk menjaring pencapaian hasil belajar aspek kognitif berbentuk soal objektif, sedangkan aspek psikomotor dan aspek afektif menggunakan lembar observasi. Berdasarkan anlisis data yang dilakukan diketahui bahwa siswa yang menggunakan bahan ajar dalam seting STS memiliki hasil belajar pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan bahan ajar. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang berarti penggunaan bahan ajar dalam seting pembelajaran STS terhadap hasil belajar siswa.
Keywords
Bahan ajar, pembelajaran STS, hasil belajar
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Imas Ratna Fitri Hidayati
Institutions
uhamka Jakarta
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh Berpikir Kreatif Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Induktif Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Semester II di SMA Negeri 10 Tangerang. Dimana design eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design dalam bentuk One Group Pre-test ? Post-test Design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 10 Tangerang. Sampel penelitian adalah kelas XI IPA 2. Teknik pengambilan sampel ditentukan dengan purposive sampel atau sampel bertujuan. Hasil analisis data penelitian ini menggungkapkan, bahwa dari hasil uji signifikansi data, didapatkan nilai thitung adalah 4.7727, sedangkan ttabel = 2.021. Sehingga didapatkan thitung < ttabel. Berdasarkan kriteria pengujian yang telah ditetapkan maka H0 ditolak atau H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pengaruh dalam Berpikir Kreatif Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Induktif Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa
Keywords
Hasil Belajar, Metode Pembelajaran Induktif, Berpikir Kreatif
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Linda Marlinda
Institutions
AMIK BSI Jakarta
Abstract
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur � unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses belajar sangatlah penting dimana proses belajar bagi para siswa SMU IPA merupakan inti proses pendidikan dan pembelajaran ke tingkat dewasa. Kendala yang dialami oleh para siswa dalam mempelajari mata pelajaran fisika, matematika, kimia adalah banyak rumus yang harus dipelajari sehingga menyebabkan turunnya minat dan prestasi siswa untuk memahami pelajaran ini sangat besar. Dewasa ini perkembangan penggunaan CD education dan animasi berbasis android sangatlah pesat diberbagai bidang ilmu, begitu juga dalam dunia pendidikan. Prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri siswa yaitu kemampuan, minat, bakat, motivasi. Sedang yang berasal dari luar diri siswa seperti keluarga, lingkungan luar, sekolah seperti metode pengajaran, konsep pengajaran, media pembelajaran atau alat bantu, sifat guru, bakat, kondisi sosial dan ekonomi. Model analisa data yang digunakan untuk menggambarkan pengaruh penggunaan CD education dan Animasi berbasis android sebagai salah satu alat bantu untuk meningkatkan minat belajar siswa SMU IPA menggunakan SPSS
Keywords
CD education, Animasi berbasis Android, Minat Belajar Siswa SMU IPA
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Gabriella Mega
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Fenomena kucuran air yang terlihat membeku saat selang air digetarkan telah marak dikenal. Frekuensi untuk membuat pola kucuran terlihat merambat naik, diam, dan merambat turun adalah 23 Hz, 24 Hz, dan 25 Hz berturut-turut. Pengamatan lebih jauh dengan berbagai diameter selang dilaporkan dalam tulisan ini. Kecepatan perambatan sebagai fungsi dari frekuensi juga disajikan. Sebagai sumber frekuensi sinusoidal digunakan piranti lunak Tone Generator v 3.04 dari NCH Software. Sinyal yang dikeluarkan kemudian diperkuat dengan suatu amplifier yang tegangan bolak-baliknya diukur dengan menggunakan multimeter. Hubungan antara tegangan Vpp keluaran dengan amplitudo kucuran air juga disajikan. Diduga fenomena ini merupakan salah satu contoh fenomena gelombang stasioner pada aliran air.
Keywords
kucuran air, vibrasi, gelombang stasioner.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
defi nurlatifah
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi Scientific Approach bermuatan nilai dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa. Muatan nilai tersebut merupakan nilai religius yang disisipkan pada setiap tahapan yang terdapat dalam Scientific Approach. Metode penelitian yang digunakan adalah metode weak eksperimen dengan desain One-Group Pre test-Post test. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X SMA Negeri 9 Tasikmalaya yang terdiri dari 30 orang siswa. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data hasil penelitian berupa pretest dan posttest keterampilan berpikir kreatif siswa yang diolah melalui program SPSS for windows dengan uji Paired Sample t-test. Berdasarkan analisis hasil belajar siswa perolehan rata-rata posttest setelah pembelajaran dengan Scientific Approach sebesar 46,17 sedangkan rata-rata pretest sebelum pembelajaran dengan Scientific Approach diperoleh hasil rata-rata tes sebesar 25,97 dengan rata-rata N-gain yang diperoleh sebesar 0,57.
Keywords
Scientific approach, muatan nilai, berpikir kreatif
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Yanti Sofi Makiyah
Institutions
1Program Studi Pendidikan Fisika,
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudi no. 229 Bandung, Indonesia, 40154
2Program Studi Pendidikan IPA,
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudi no. 229 Bandung, Indonesia, 40154
a) yantisofi[at]student.upi.edu
b) adammalik[at]uinsgd.ac.id
Abstract
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Keterampilan Proses Sains (KPS) terhadap penguasaan konsep mahasiswa pendidikan fisika pada praktikum perpindahan kalor dalam mata kuliah laboratorium fisika sekolah 1 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jumlah 40 mahasiswa tahun ajaran 2014/2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pre-eksperimen dengan desain penelitian one-group pretest-posttest. Instrumen penelitian penguasaan konsep yang terdiri dari 5 soal uraian dan instrumen KPS berupa rubrik penilaian dengan delapan indikator KPS. Berdasarkan hasil perhitungan, maka diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,23 dengan kategori rendah dan hasil pengujian signifikansi r dengan taraf signifikansi 5% diperoleh t hitung>t tabel yaitu 1,442>0,312 sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang rendah antara KPS terhadap pengusaan konsep mahasiswa pada praktikum perpindahan kalor.
Keywords
Keterampilan proses sains, Penguasaan konsep, Perpindahan kalor
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
ENDA AMELIA TARIGAN
Institutions
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh implementasi metode praktikum berbasis Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran IPA Terpadu untuk meningkatkan pengetahuan konsep sains siswa SMP. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperiment dengan desain peneliti The Non-Equivalen Pretest-Postest Design. Sampel penelitian terdiri dari 61 orang siswa kelas VII dari salah satu SMPN di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan tes penguasaan konsep terhadap implementasi metode berbasil PBL. Teknik analisis data menggunakan uji Normalitas, uji N-Gain, dan Uji Mann Withney yang diuji menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 and Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig 2-Tailed Mann-Whitney sebesar 0,006 < α (0,05) maka Ho ditolak dan H1 diterima. Hasil ini diperoleh dari data peningkatan penguasaan konsep untuk siswa yang menggunakan praktikum berbasis PBL sebesar 0,19 dengan kategori rendah dan untuk siswa yang menggunakan metode praktikum verifikasi sebesar 0,14 dengan kategori rendah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari implementasi praktikum berbasis PBL pada pembelajaran IPA Terpadu untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa.
Keywords
praktikum berbasis PBL, praktikum verifikasi, penguasaan konsep
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
DWI INDAH SURYANI
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan penguasaan konsep antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry pada tema suhu dan perubahan. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperiment dengan desain penelitian Matching Only Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel penelitian terdiri dari 56 orang siswa kelas VII dari salah satu SMP N di Kota Palembang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Random Sampling. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan tes penguasaan konsep. Teknik analisis data menggunakan uji Normalitas, uji Homogenitas, uji N-Gain, uji t, dan uji Mann Withney dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 dan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi Sig (2-Tailed) adalah 0,02 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Diperoleh dari data peningkatan penguasaan konsep untuk siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry sebesar 0,69 dengan kategori sedang dan untuk siswa yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry sebesar 0,73 dengan kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan penguasaan konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry pada tema suhu dan perubahan.
Keywords
Open Inquiry, Guided Inquiry, Penguasaan Konsep
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
citra dewi
Institutions
a) program Magister Pendidikan Biologi sekolah Pasca Sarjana UPI
Jl Dr. Setiabudi No.229 , bandung
0
Abstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pembelajaran berbasis praktikum virtual terhadap penguasaan konsep virus dan bakteri di SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimental dengan desain The Matching-Only Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling yaitu satu kelas dengan pembelajaran praktikum virtual sebagai kelas eksperimen dan satu kelas dengan pembelajaran menggunakan media power point sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada taraf signifikansi α = 0,05 antara penguasaan konsep siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis praktikum virtual pada konsep virus dan bakteri tidak berpengaruh terhadap penguasaan konsep siswa.
Keywords
Praktikum virtual, penguasaan konsep siswa. Virus dan bakteri.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lintang Ratri Prastika
Institutions
Jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Jalan Dr. Setiabudi No.29, Bandung, Indonesia
*lintang.r.prastika[at]gmail.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian prestasi belajar siswa setelah digunakan I-games dalam pembelajaran, efektifitas pembelajaran menggunakan I-games, serta tanggapan siswa mengenai penggunaan I-games dalam pembelajaran fisika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen lemah (weak experimental) dengan desain penelitian the one group pretest-posttest design. Sampel penelitian adalah kelas X-C di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa tes prestasi belajar (pretes dan postes), angket, dan observasi. Hasil penelitian yang diperoleh selama tiga pertemuan adalah siswa mengalami peningkatan prestasi belajar sebesar 39,2% untuk pertemuan ke-1; 44,9% untuk pertemuan ke-2; dan 46,8% untuk pertemuan ke-3. Efektifitas pembelajaran pertemuan ke-1 dan ke-2 tergolong sedang, dan pertemuan ke-3 tergolong tinggi. Sebanyak 73,77% siswa memberikan tanggapan yang baik terhadap penggunaan I-games dalam pembelajaran fisika di kelas. Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan setelah digunakan I-games dalam pembelajaran.
Keywords
instructional games, prestasi belajar, efektivitas
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Aprina Defianti
Institutions
Sekolah Pascasarjana UPI
Abstract
Praktikum merupakan metode yang efektif dalam membelajarkan IPA ke siswa. Melalui praktikum, siswa lebih dapat memahami konsep IPA dari pada sekadar mendengar atau membaca penjelasan konsep, terutama pada konsep IPA yang tidak dapat teramati langsung oleh mata. Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran IPA harus dapat mengintegrasikan berbagai konsep sehingga siswa memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap suatu fenomena. Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat praktikum IPA yang mengintegrasikan konsep Fisika dan Biologi dalam satu set alat. Penggunaan alat praktikum tersebut membantu siswa mengeksplorasi konsep gelombang, jenis-jenis gelombang mekanik, sifat gelombang, gelombang bunyi, mekanisme proses mendengar dan bagian-bagian indra pendengaran. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan yang terdiri dari tahap define, design, dan develop. Pada tahap define, dilakukan studi terhadap standar isi kurikulum 2013 pada pelajaran IPA SMP guna menentukan alat praktikum yang akan dikembangkan. Sedangkan pada tahap design, dilakukan proses mendesain dan membuat alat menggunakan bahan-bahan yang aman dan mudah diperoleh sehingga dapat direplikasi dan digunakan pada pembelajaran di sekolah. Selanjutnya untuk tahap develop, dilakukan kajian empirik, uji coba dan expert judgment oleh pakar pendidikan.
Keywords
pengembangan, alat praktikum, integrasi, gelombang, indra pendengaran
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Hanna Nurul Husna
Institutions
Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia
hanna.nurul.husna[at]student.upi.edu
Abstract
Makalah ini memaparkan hasil penelitian tentang pengembangan bahan ajar berbasis pembelajaran IPA Terpadu model Webbed dengan tema: Gunung Berapi. Pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa bahan ajar merupakan komponen yang penting dalam suatu pembelajaran. Pembelajaran IPA terpadu harus mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu alam, karena itu dibutuhkan suatu bahan ajar yang komprehensif dan memenuhi kebutuhan pembelajaran. Penelitian ini merupakan tahapan awal dari tahapan pengembangan bahan ajar. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan langkah-langkah: (1) menentukan tema dan keterpaduannya dengan sub topik yang dipadukan; (2) menganalisis KI dan KD; (3) menentukan indikator dan tujuan pembelajaran; (4) membuat lesson con-sequencce map; (5) merumuskan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan. Berdasarkan hasil kajian tersebut, dapat dikemukakan hasil dari penelitian ini: bahan ajar yang dihasilkan berupa handout yang dilengkapi dengan lembar kerja siswa dan asesmennya.Hasil penelitian ini masih harus ditindaklanjuti dengan menguji penggunaannya terhadap hasil belajar siswa serta pendapat siswa dan guru tentang bahan ajar ini.
Keywords
bahan ajar, IPA Terpadu Model Webbed, Gunung Berapi
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Andi Novriansyah
Institutions
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk bahan ajar E - Handout fisika berbasis android dilengkapi audio visual untuk siswa SMA kelas XI semester I. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengembangan Media Jurusan Fisika Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model Dick & Carey yang dimodifikasi oleh Atwi Suparman menjadi Model Pengembangan Instruksional (MPI). Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah: 1) analisis kebutuhan peserta didik serta kajian pustaka dari jurnal dan penelitian relevan, 2) membuat desain dan isi handout), 3) membuat dan menyusun E - Handout menggunakan aplikasi Android studio, serta uji kelayakan produk oleh ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran, 4) Uji coba produk E - Handout secara terbatas, 5) Evaluasi dan Revisi produk. Penelitian ini menghasilkan produk bahan ajar E - Handout fisika berbasis android dilengkapi audio visual untuk siswa SMA kelas XI semester I.
Keywords
E - Handout, android, audio visual
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Gia Juniar Nur Wahidah
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar IPA SMP pada tema �Energi dalam Tubuh� dengan menggunakan metode 4S TMD (Four Steps Teaching Material Development). Tema energi dalam tubuh dipilih karena konsep ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Konsep ini pun sesuai dengan standar isi pada kurikulum IPA tingkat SMP. Materi disajikan secara terpadu sehingga memacu siswa untuk berpikir secara holistik dan kontekstual.Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Dalam penelitian dan pengembangan yang ini, digunakan metode 4S TMD(Four Steps Teaching Material Development). Metode 4S TMD sendiri merupakan metode pengembangan bahan ajar yang dikembangkan oleh Dr. Sjaeful Anwar, M.Sc. Terdapat empat tahap yang dilakukan pada pengembangan bahan ajar yang dilakukan, yakni tahap seleksi, tahap strukturisasi, tahap karakterisasi, dan tahap reduksi didaktik. Tahap seleksi meliputi pemilihan indikator yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang kemudian dikembangkan dengan pemilihan konsep dan nilai yang diintegrasikan dengan konsep IPA. Tahap strukturisasi meliputi pembuatan struktur makro, peta konsep, dan multipel representasi dari materi. Tahap karakterisasi meliputi penyusunan instrumen karakterisasi, kemudian uji coba kepada siswa SMP untuk mengidentifikasi konsep sulit. Tahap terakhir, yaitu reduksi didaktik konsep terhadap konsep sulit.
Keywords
bahan ajar,energi, 4S TMD
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Nadia Nur Imania
Institutions
Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Materi pelajaran ilmu antariksa merupakan salah satu materi yang dimasukan ke dalam kurikulum IPA SMP. Dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang, ilmu antariksa akan semakin menarik untuk dipelajari. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar yang digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam mempelajari ilmu antariksa ini. Oleh karena itu, buku teks atau teks materi yang disusun secara lengkap, sistematis, serta sesuai dengan perkembangan kognitif maupun mental siswa sangat diperlukan. Salah satu teknik pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan adalah 4 Steps Teaching Material Development (4S TMD). Teknik ini memiliki 4 tahap, yaitu seleksi, strukturisasi, karakterisasi, dan reduksi didaktik. Proses seleksi merupakan proses pemilihan informasi yang benar-benar diperlukan dan berhubungan langsung dengan bahan ajar yang dikembangkan. Pada proses seleksi informasi dan materi yang telah terkumpul akan disesuaikan dengan kompetensi pada kurikulum yang berlaku. Pada tahap selanjutnya, informasi yang telah terkumpul harus melalui tahap strukturisasi secara didaktis, sesuai dengan karakteristik bahan ajar. Tahap strukturisasi dimaksudkan agar ketika siswa menggunakan bahan ajar tersebut, mereka akan mendapatkan ilmu yang terintegrasi. Pada tahap karakterisasi bahan ajar yang memiliki karakteristik sulit akan dikemas menjadi lebih ringan dan sederhana dengan strategi pemblajaran tertentu. Tahapan terakhir adalah reduksi, yaitu pengurangan tingkat kesulitan bahan ajar. Pengurangan ini perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa agar siswa dapat memahaminya dengan mudah.
Keywords
Bahan ajar, 4SMTD, IPA terpadu
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
NURUL ASHRI
Institutions
PRODI IPA SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Dari hasil observasi mengenai bahan ajar berupa buku teks IPA yang digunakan di kelas VII SMP, ditemukan bahwa buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah berbasis sebuah kurikulum terbaru tersebut memiliki beberapa kekurangan terutama dalam hal konten. Salah satu kekurangannya adalah dalam hal sistematika bahasan materi. Selain itu, tuntutan peraturan pemerintah mengenai pembelajaran IPA yang seharusnya disajikan terpadu juga menjadi kendala dalam menemukan buku ataupun bahan ajar yang benar-benar ideal. Sebuah bahan ajar yang ideal yang sistematikanya sesuai dengan tuntutan pembelajaran terpadu dapat diperoleh dengan cara mengembangkan bahan ajar sendiri, salah satunya menggunakan metode 4 Step Teaching Material Development (4S TMD). Metode pengembangan bahan ajar tersebut terdiri dari empat tahapan yaitu Seleksi, Strukturisasi, Karakterisasi dan Reduksi Didaktik. Tahapan yang kemudian akan dibahas lebih lanjut merupakan tahapan awal penyusunan bahan ajar yang terdiri dari seleksi, strukturisasi dan karakterisasi. Sementara itu, metode penelitian yang digunakan adalah Research dan Development (R&D). Pada tahapan seleksi dilakukan pemilihan segala bentuk informasi yang terkait dengan tema bahan ajar yang telah dipilih yaitu mengenai energi dan lingkungan. Dilanjutkan dengan tahapan strukturisasi yang berkaitan dengan usaha membentuk struktur kognitif siswa melalui komponen-komponen yang terdiri dari peta konsep, struktur makro dan multipel representasi. Hasil strukturisasi digabungkan dengan hasil seleksi kemudian dirunut sehingga menghasilkan sebuah draft bahan ajar yang siap diujicoba. Ujicoba merupakan bagian dari tahapan karakterisasi untuk membedakan antara konsep yang mudah dan sulit. Hasil ujicoba menunjukkan rerata persentasi tiap item soal mencapai 31%. Hal tersebut menunjukkan draft bahan ajar yang disusun masih membutuhkan proses reduksi dedaktik.
Keywords
bahan ajar, 4S TMD
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Handini Nurpratami
Institutions
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
Abstract
Laju reaksi merupakan salah satu konsep abstrak dengan contoh konkrit yang memerlukan penjelasan level representasi submikroskopis menggunakan teori tumbukan. Namun bahan ajar seringkali mengabaikan keterhubungan level representasi makroskopis dan simbolik dengan level representasi submikroskopis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar yang memenuhi keterhubungan tiga level representasi pada materi laju reaksi. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap: 1) studi pendahuluan 2) desain produk 3) validasi dan uji coba. Dari hasil penelitian didapatkan suatu produk bahan ajar yang memiliki karakteristik penyajian materi dengan menghubungkan tiga level representasi kimia. Representasi makroskopik disajikan melalui suatu fenomena di lingkungan yang dapat terlihat dan disertai dengan langkah-langkah percobaan yang mudah dilakukan. Representasi submikroskopik disajikan dalam bentuk teks, gambar dan video. Representasi simbolik disajikan dalam persamaan reaksi kimia dan perhitungan yang relevan. Validasi konten dilakukan melalui pertimbangan ahli. Subjek uji coba kelayakan adalah tiga guru sekolah menengah dan 20 orang mahasiswa. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran kimia.
Keywords
Bahan Ajar, Laju Reaksi, Multipel Representasi.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Page 4 (data 91 to 120 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats