Indonesia Conference Directory


<< Back

Abstract Topic: Kebumian (EPS)

Page 1 (data 1 to 26 of 26) | Displayed ini 30 data/page

Analisis Anisotropi Seismik di Bawah Sumatra Bagian Utara Berdasarkan Shear-Wave Splitting
Arya Dwi Candra*, Bagus Jaya Santosa

Show More

Corresponding Author
ARYA DWI CANDRA

Institutions
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Abstract
Sumatra berada pada pertemuan dua lempeng besar, yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia sehingga menjadi salah satu wilayah dengan gejala seismik paling aktif di dunia. Sumatra bagian utara terdiri dari beberapa segmen tektonik, seperti zona subduksi, sesar Sumatra dan sesar Mentawai. Diperlukan suatu analisis agar dapat mengidentifikasi perbedaan segmen tektonik di wilayah Sumatra bagian utara, yaitu metode shear wave-splitting. Analisis shear-wave splitting dilakukan untuk mengamati sifat anisotropi struktur lapisan bumi di wilayah Sumatra bagian utara. Data pengamatan diperoleh dari 4 stasiun BMKG dengan besar magnitude lebih dari 6.3 Mw dan rentang jarak episentral 85̊-140̊. Pengukuran shear-wave splitting dilakukan dengan menggunakan program Splitlab berdasarkan metode Rotation-Correlation. Dari hasil pengukuran shear-wave splitting di wilayah Sumatra bagian utara menunjukkan adanya dua lapisan anisotropi. Terdapat kesesuaian hasil antara stasiun TPTI, TSI dan TRSI yaitu menunjukkan arah polarisasi sejajar dengan sesar Sumatra pada lapisan atas dan polarisasi tegak lurus dengan sesar Sumatra pada lapisan bawah. Pada stasiun PSI menunjukkan arah polarisasi yang berbeda dengan ketiga stasiun lainnya, yaitu menunjukkan arah polarisasi tegak lurus sesar dengan sesar Sumatra pada lapisan atas dan arah polarisasi sejajar sesar Sumatra pada lapisan bawah. Pada lapisan pertama waktu delay berkisar antara 0.5-0.9 s yang diduga disebabkan oleh shear-strain akibat dari sesar Sumatra. Pada lapisan kedua, waktu delay berkisar antara 1.4-1.8 s yang diperkirakan disebabkan oleh pergerakan lempeng subduksi pada lapisan mantel. Adanya perbedaan hasil pengukuran pada stasiun PSI dengan ketiga stasiun yang lain diduga disebabkan oleh kaldera Toba.

Keywords
Shear-wave splitting, Anisotropi seismik, Splitlab, Sumatra bagian utara

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/DMwvxYZCu3fE


ANALISIS BIDANG GELINCIR LONGSOR MENGGUNAKAN PENDEKATAN INVESTIGASI MULTIDISIPLIN (Studi kasus longsor Erie Kecamatan Nusaniwe Ambon)
Matheus Souisa1, Lilik Hendrajaya2, Gunawan Handayani3

Show More

Corresponding Author
Thos S

Institutions
Earth Physics and Complex System Research Division
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bandung Institute of Technology

Abstract
Telah digunakan banyak metode untuk mengkaji permasalahan longsoran dari sudut pandangan pendekatan satu-disiplin, interdisiplin maupun multidisiplin. Beberapa metode sedang dikembangkan untuk dipadukan dalam investigasi longsoran selama dekade terakhir ini, fokus studi diarahkan menggunakan pendekatan investigasi multidisiplin seperti survei geolistrik, geoteknik dan geokimia untuk menentukan potensi longsor sehingga dapat memberikan mitigasi bencana longsor. Hasil penelitian memberikan bidang gelincir longsor Erie terletak pada kelompok resistivitas menengah dengan jenis pasir atau pasir lempungan yang menindih kelompok resistivitas tinggi yang berupa batulempung keras (bedrock). Berdasarkan nilai faktor keamanan lereng, bidang gelincir ini berada pada keadaan kurang stabil. Dari segi mineralogi batuan dijumpai fraksi ukuran butir lempung menjadi lebih besar jika dibandingkan di bagian atas dan bawahnya maka akumulasi fraksi lempung yang ada di bagian bawah menjadi bidang gelincir yang memicu longsor. Berdasarkan perpaduan ini, daerah longsor masih tetap berada di sekitar lokasi longsor dan sedikit bergerak ke arah timur laut dengan jangkauan yang sedikit meluas.

Keywords
Bidang gelincir, multidisiplin, geolistrik, geoteknik, geokimia

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/PrBZnwdGkXQT


Analisis Geokimia untuk Pemetaan Geologi Skala 1 : 50.000 Lembar Kandangan Bagian Selatan, Kalimantan Selatan
Asep Rohiman*, M. Luthfi Faturrakhman, Sonia Rijani, Kusdji D. Kusumah dan Purnama Sendjaja

Show More

Corresponding Author
Asep Rohiman, S.Si., M.Si.

Institutions
Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
Jln. Diponegoro No. 57 Bandung 40122
* E-mail: asep.rohiman[at]esdm.go.id

Abstract
Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya sumber daya geologi yang meliputi sumber daya mineral, minyak, dan gas. Sayangnya, potensi sumber daya geologi tersebut belum dipetakan dalam skala 1 :50.000. Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merupakan satu-satunya institusi pemerintah yang mempunyai wewenang untuk melaksanakan pemetaan geologi sistematik di seluruh Kepulauan Indonesia. Daerah Kandangan Bagian Selatan termasuk kedalam nomor lembar Peta 1713-32, secara geologi merupakan daerah penting di Jalur Meratus yang menginformasikan variasi litologi mulai dari endapan Kuarter sampai dengan himpunan batuan berumur pra-Tersier. Kegiatan pemetaan geologi ini dimaksudkan untuk menginventarisasi variasi data primer, jenis litologi, petrologi, struktur geologi, kandungan fosil, gejala mineralisasi, sumberdaya mineral dan energi, bentang alam, tataguna lahan, dan lain-lain. Adapun tujuan analisis geokimia adalah untuk dijadikan sebagai dasar dalam mengklasifikasikan jenis batuan secara kuantitatif dan objektif sehingga dalam menentukan batas kontak satuan batuan di dalam peta mempunyai tingkat keyakinan geologi yang lebih tinggi. Pada penelitian ini analisis geokimia dilakukan terhadap sampel batuan plutonik dan vulkanik dari Formasi Granit Belawayan (Kgr) dan Kelompok Haruyan (Kvh) dengan menggunakan X-Ray Flourescence (XRF) ARL 9900 untuk unsur-unsur utama dan jejak sedangkan ICP-MS untuk unsur-unsur tanah jarang. Berdasarkan hasil analisis geokimia batuan pada kedua formasi tersebut, diusulkan batas litologi satuan batuan Formasi Granit Belawayan dengan Formasi Kelompok Haruyan untuk direvisi.

Keywords
geokimia, pemetaan, XRF, geologi, granit belawayan, dan formasi haruyan

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/KWzkpPdDEUhN


Analisis Kecepatan Fluida Pada Simulasi Aliran Fluida 2-Dimensi Dalam Medium Pipa dengan Penghalang Lingkaran
Ria Dwi Izahyanti, Nurhasan, Egi Yuliora. Aurista M. Ilmah

Show More

Corresponding Author
Ria Izahyanti

Institutions
Department of Physics, FMIPA, ITB

Abstract
Telah dilakukan simulasi aliran fluida 2-dimensi pada medium pipa berpori menggunakan metode Lattice Boltzman model BGK D2Q9. Penghalang diasumsikan berbentuk lingkaran yang diletakkan di bagian tengah pipa. Diasumsikan bahwa fluida dianggap tak mampu mampat serta fluida mengalir secara horizontal dari kiri ke kanan. Dari simulasi yang dilakukan diketahui bahwa kecepatan aliran fluida yang diberi penghalang secara kuantitatif mengalami perubahan kecepatan aliran saat fluida melewati penghalang berbentuk lingkaran. Terlihat bahwa fluida yang mengalir dibagian tengah saat melewati penghalang memiliki kecepatan aliran yang lebih tinggi dibandingkan dengan fluida yang mengalir dibagian tepi. Aliran fluida dibagian tepi yang bersentuhan langsung dengan penghalang silinder nilai kecepatannya mendekati 0.02 m/s. Perbedaan kuantitas kecepatan pada aliran fluida terjadi karena tumbukan antara molekul fluida dibagian tengah hanya antar partikel fluida saja sedangkan aliran fluida di bagian tepi selain bertumbukan dengan anatar partikel fluida juga mengalami tumbukan dengan dinding medium.

Keywords
simulasi, fluida, penghalang, kecepatan fluida

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/NTWHPxkbDJ6E


Aplikasi Digital Rock Physics pada Penentuan Parameter Reservoir Karbonat
(a). Mahednra Risky Habibi (b). Thaqibul Fikri Niyartama (c). Zeki Fithra

Show More

Corresponding Author
Mahendra Risky Habibi

Institutions
(a) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jl. Laksda Adisucipto, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
13620032[at]student.uin-suka.ac.id

Abstract
Penelitian ini telah mengembangkan karakterisasi dan model 3-D dari plug core reservoar karbonat berasal dari Sumatra Selatan dengan formasi X pada kedalaman 1000 sekian meter. Pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui nilai parameter fisis petrofisika seperti porositas, permeabilitas dan juga dikembangkan model 3-D dari sampel plug core reservoar karbonat A3. Instrumen yang digunakan adalah mikro-CT Scan Skyscan 1173. Proses karakterisasi plug core reservoar karbonat megunakan metode thresholding Global Otshu dan Local Adaptive untuk menentukan nilai porositas. Nilai permeabilitas diestimasikan dengan menggunakan metode Lattice Boltzmann. Sampel A3 memberikan hasil porositas sebesar 13,9% sudah mendekati hasil perhitungan laboratorium petrofisika yang bernilai 13,9%. Nilai estimasi permeabilitas dari sampel A3 mendapatkan hasil sebesar 11,3 mD, sedangkan hasil perhitungan laboratorium petrofisika sebesar 1,8 mD. Hasil pengolahan yang dimodelkan secara 3-D menggunakan CT-Vox telah memberikan hasil yang cukup baik dengan terlihatnya konektivitas pori pada citra sampel.

Keywords
Mikro-CT Scan, Porositas, Spesific surface area, Permeabilitas, Thresholding, Global Otshu, Local Adaptive, CT-Vox, dan Lattice Boltzmann.

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/QRADEXtnLHq7


Aplikasi Konsep Rapat Arus Listrik untuk Mengidentifikasi Keadaan Bawah Permukaan Tanah: Studi Kasus dalam Penentuan Distribusi Muka Air Tanah Secara Dua Dimensi
Ihsan Imaduddin, Wahyu Srigutomo, Enjang Jaenal Mustopa

Show More

Corresponding Author
ihsan imaduddin

Institutions
Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung

Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam memahami konsep rapat arus listrik yang bisa digunakan untuk menduga keadaan bawah permukaan. Dalam keilmuan fisika bumi atau geofisika metode ini dikenal dengan metode geolistrik. Penelitian dilaksanakan dengan eksperimen mengalirkan arus listrik 120mA 600V dc ke tanah. Arus listrik akan mengalir di bawah permukaan tanah dari satu kutub ke kutub lain dengan distribusi setengah bola. Pengambilan data dilakukan dengan mengukur arus listrik aktual yang dialirkan dan nilai beda potensial antara dua titik tertentu. Pengukuran beda potensial dilakukan ketika tidak ada arus listrik dan juga ketika arus listrik dialirkan. Perpindahan antara dua titik pengukuran dilakukan secara manual dan juga dilakukan secara otomatis. Pada penelitian ini, proses pengukuran diarahkan untuk menentukan distribusi muka air tanah secara dua dimensi. Dengan eksperimen tersebut mahasiswa dapat memahami konsep rapat arus listrik dan penerapannya, terutama untuk menentukan distribusi muka air tanah secara dua dimensi.

Keywords
eksperimen, rapat arus listrik, geolistrik, distribusi muka air tanah

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/ZGDqXmbEJa86


Dinamika Longsoran dan Penentuan Kondisi Kristisnya Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas di Desa Negeri Lima Ambon
Matheus Souisa, Lilik Hendrajaya, Gunawan Handayani

Show More

Corresponding Author
Matheus Souisa

Institutions
Jurusan Fisika FMIPA ITB

Abstract
Pulau Ambon merupakan pulau busur vulkanis dan termasuk berada dalam wilayah kepulauan pulau-pulau kecil yang berhubungan dengan zona penunjaman sehingga mempunyai tingkat kerentanan tinggi terhadap berbagai bencana alam, seperti erosi dan tanah longsor pada kondisi kelerengan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika longsoran bawah permukaan di daerah longsor dan menentukan posisi bidang gelincirnya. Lokasi penelitian di pegunungan Ulak Hatu Negeri Lima Ambon. Penelitian menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger dan metode geomekanik. Hasil interprestasi geolistrik dikorelasikan dengan data bor sehingga diperoleh bidang longsor terletak pada kedalaman sekitar 5 m � 20 m dan litologi didominasi oleh nilai resistivitas rendah dengan struktur lapisan berupa lapisan lempung yang bercampur dengan batuan lapuk dan lapisan lempung dengan jenuh air. Kedua lapisan tersebut saling kontak dan membentuk kemiringan terhadap permukaan tanah sehingga menyebabkan adanya potensi kritis gelincir diatasnya dan memungkinkan terjadinya longsor susulan. Lokasi kritis longsor searah dengan kemiringan bidang longsoran yaitu menuju tebing dan geometri longsoran tipe runtuhan batuan dan aliran debris. Pendugaan longsor terjadi selain kondisi geologi setempat, namun sangat dipengaruhi oleh curah hujan > 200 mm ditambah dengan kemiringan lereng 49.970. Longsoran ini bergerak dengan kecepatan bisa mencapai 134.53 km/jam dengan koefisien gesek 0.88 dan membawa energi gerak yang besar.

Keywords
Longsoran, kondisi kritis, konfigurasi Wenner-Schulmberger

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/4uNGPKTZctb3


Fisika Energi Panas Bumi Pulau Flores
Richardo Barry Astro 1,a) dan Lilik Hendrajaya 2,b)

Show More

Corresponding Author
Richardo Barry Astro

Institutions
1Magister Pengajaran Fisika,
Departemen Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

2Laboratorium Fisika Bumi,
Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

a) richardobarryastro[at]gmail.com
b) lilik[at]fi.itb.ac.id

Abstract
Fisika energi panas bumi Flores merupakan kajian mengenai proses terbentuknya pulau Flores serta kandungan energi dan sumber daya mineral, khususnya energi panas bumi dalam tinjauan fisika. Penelitian ini dikaji melalui studi literatur dari berbagai penelitian, jurnal, peta geologi lembar Ende dan Ruteng, serta artikel-artikel terkait lainnya. Hasilnya ditemukan bahwa Flores adalah sebuah pulau muda yang kemungkinan terbentuk pada masa kenozoikum dan merupakan bagian dalam busur gunungapi Banda, serta terbentuk akibat subduksi kerak samudera India-Australia ke arah utara. Flores termasuk salah satu pulau dengan gunungapi terbanyak di Indonesia. Sebagai pulau vulkanik, Flores memiliki beragam potensi energi dan sumber daya mineral, yang dapat dimaksimalkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Banyaknya gunungapi di pulau Flores menandakan terdapat intrusi magma, dan berarti memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar. Potensi energi ini dapat dimanfaatkan terutama sebagai sumber pembangkit listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di daratan Flores. Fenomena alam dan kandungan energi serta sumber daya mineral pulau Flores tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memahami fisika secara kontekstual.

Keywords
Flores, Tektonik, Energi panas bumi, Fisika kontekstual

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/kh9uGzK6PYje


Fisika Gunungapi: Meletusnya Gunung Talang Berdasarkan Perspektif Al Quran dan Sains-fisika
Ari Yuneldi1,a), dan Lilik Hendrajaya2,b)

Show More

Corresponding Author
Ari Yuneldi

Institutions
1Laboratorium Fisika Bumi,
Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

2Laboratorium Fisika Bumi,
Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

a)Ariyuneldi1202[at]gmail.com (corresponding author)
b)Lilik.hendrajaya3[at]gmail.com

Abstract
Aktivitas Gunung Talang Sumatera Barat sangat menarik untuk dipelajari karena dipengaruhi struktur geologi daerah zona depresi Sesar Sumatera, lebih menarik lagi apabila dikaji dari dua perspektif yang berbeda yaitu Al Quran dan Sains-fisika. Gunung Talang merupakan salah satu gunungapi aktif di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera yang geografi sumatera sendiri didominasi oleh jajaran pegunungan yang bernama Bukit Barisan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berdasarkan sumber pengamatan dari vulkanologi dan penelitian terdahulu. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa meletusnya Gunung Talang diawali pengaruh gaya luar yang menyebabkan meningkatnya aktivitas gunung dan pergerakan lempeng yang menyebabkan perbedaan tekanan. Apabila tekanan di bawah kantong magma lebih besar maka magma akan terdorong keluar dan dikeluarkan dalam bentuk debu dan pasir sebagaimana dijelaskan Al Quran. Gunung Talang banyak mengandung silika yaitu material yang dapat menyuburkan tanah sehingga cocok untuk pertanian dengan kadar SiO2 pada debu vulkanis sebanyak 63.45% (634500 ppm), CaO 4.40% (44000 ppm), dan MgO 1.40% (14000 ppm).

Keywords
Gunung Talang, Fisika gunungapi, gunungapi perspektif Al Quran dan Sains-fisika

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/cWt3mjRUKwrF


Fisika Mengenai Pengendalian Tekanan Aliran Lumpur Pada Proses Pemboran Minyak dan Gas Bumi
Yanasari (a*), Lilik Hendraja (b)

Show More

Corresponding Author
YANASARI YANASARI

Institutions
a)Akamigas Balongan Indramayu
*yanasari.1912[at]gmail.com

b) Fakultas MIPA ITB
Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia

Abstract
Pemboran minyak dan gas bumi ada kebutuhan pengukuran dan pengendalian tekanan di setiap kedalaman, untuk itu digunakan media cure dimasukkan ke pipa bor dan keluaran melalui tepi lubang bor sambal membawa serpih atau hasil pahatan mata bor. Media lain di sebut lumpur bor yang di buat dengan komponen dasar bentonite ( sejenis lumpur lempung ). Tekanan dari kedalaman bor terukur secara hidrostatik dan hidrodinamik. Gangguan masukkan gas alam kedalam lubang bor akan terdeteksi dari selisih nilai tekanan hidrostatik lumpur dan tekanan gas yang masuk. Pengelolaan dan pengendalian ini diperlukan agar tidak terjadi blowout atau semburan liar. Banyak aspek hidrostatik, hidrodinamik dan hidrolika terlibat dalam memperkirakan kebutuhan daya tekanan pompa yang menginjeksikan lumpur kedalam lubang bor.

Keywords
tekanan lumpur, tekanan hidrostatik, blowout, hidrolika

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/9cP2qvQ7bfnT


FISIKA PULAU SUMBA
Nikodemus Umbu Janga Hauwali1,a), Lilik Hendrajaya 2,b)

Show More

Corresponding Author
Nikodemus Umbu Janga Hauwali

Institutions
1)Program Studi Magister Fisika
Departemen Fisika
Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung

2)Laboratorium Fisika Bumi
Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung

a) nico.hauwali[at]gmail.com
b) lilik[at]fi.itb.ac.id

Abstract
Indonesia merupakan salah satu kawasan yang terletak pada jalur pertemuan tiga lempeng besar dunia (triple junction convergen) yaitu lempeng Eurasia yang bergerak relatif ke arah selatan, lempeng Indo-Australia yang bergerak aktif ke utara, serta lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat daya. Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan berada di Lempeng Eurasia. Posisi Sumba persis terletak di sebelah utara sambungan (junction) antara kerak samudera Hindia di sebelah barat dan kerak benua Australia di sebelah timur. Sejarah tektonik pulau Sumba masih menjadi misteri di kalangan peneliti. Terdapat enam hipotesa yang menjelaskan mengenai sejarah tektonik pulau Sumba, namun dari keenam hipotesa ini belum ada kesimpulan mengenai hipotesa mana yang paling akurat untuk menjelaskan sejarah tektonik pulau Sumba. Diusulkan suatu model untuk menjelaskan sejarah tektonik Sumba dengan menggunakan konsep Fisika.

Keywords
Sumba, Tektonik, Fisika.

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/9pcDAVWZ4dXQ


Geologi: Holistik Sains Dalam Perspektif 4 Dimensi dan Knowledge-Based sebagai Produk Sains
Taufan Wiguna

Show More

Corresponding Author
Taufan Wiguna

Institutions
Technology Center for Marine Survey
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Abstract
Geologi dikenal sebagai sains kebumian yang mempelajari batuan serta tahapan yang terjadi sebelum, saat, dan setelah terbentuknya batuan yang mana tahapan tersebut diikuti oleh proses fisika, kimia, dan biologi. Penelitian geologi mencakup seluruh wilayah di bumi dengan berbagai keanekaragaman topik, dari wilayah ekuator hingga kutub dan dari daratan tertinggi hingga laut terdalam. Melalui serangkaian penelitian geologi yang telah dilakukan di berbagai belahan bumi, makalah ini akan mendiskusikan geologi sebagai (i) holistik sains, (ii) sains dengan perspektif 4 dimensi, (iii) sains yang menghasilkan knowledge-based produk. Geologi merupakan sains lanjutan dari sains lainnya yang kemudian diaplikasikan pada bumi. Oleh sebab itu dikenal beberapa cabang ilmu di geologi berdasarkan keterkaitannya dengan bidang sains lainnya seperti geofisika, geokimia, paleontologi, geomatika, dll. Penerapan sains tersebut dilakukan pada suatu spasial kemudian diinversi melalui pemodelan sehingga penelitian geologi menghasilkan sejarah bumi dalam suatu spasial. Hasil tersebut berupa pencampuran antara informasi yang absolut dan interpretatatif. Di lingkungan industri, hasil penelitian geologi berujung pada rekomendasi untuk pengambilan keputusan atau kebijakan. Geologi telah menjawab tantangan-tantangan atas kebutuhan material sumber daya alam (mineral, batubara, minyak dan gas bumi), mitigasi dan penanggulangan bencana, kajian lingkungan, perencanaan wilayah, pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, gedung).

Keywords
geologi, sains, dimensi

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/nka4dNZVCq3w


Karakterisasi Parameter Fisis Tanah pada Daerah Rawan Longsor menggunakan Analisis Citra Digital (Digital Image Analysis)
Rustan*, Linda Handayani, Fourier Dzar Eljabbar Latief

Show More

Corresponding Author
Rustan Rustan

Institutions
Institut Teknologi Bandung

Abstract
Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang menyebabkan kerugian moril dan materiil. Ada 2 faktor esensial penyebab terjadinya tanah longsor yaitu litologi dan curah hujan. Faktor litologi berupa parameter tanah khususnya sifat fisis tanah bisa mempengaruhi kestabilan lereng. Dari studi literaturi beberapa penelitian diperoleh bahwa terjadinya tanah longsor bisa dikaitkan dengan sifat fisis tanah. Sifat fisis tanah yang dianalisis antara lain: ukuran butiran, porositas, dan permeabilitas. Ketiga parameter ini pada umumnya dikarakterisasi menggunakan metode eksperimen di laboratorium. Pada penelitian ini, sifat fisis tanah tersebut akan dianalisis menggunakan analisis citra digital (Digital Image Analysis) hasil pemindaian dengan perangkat mikro-CT. Hasil perhitungan ukuran butir, porositas dan permeabilitas kemudian digunakan untuk menentukan apakah sampel tanah tersebut termasuk sampel tanah yang memiliki resiko rentan terhadap longsor atau tidak.

Keywords
ukuran butiran, porositas, permeabilitas, tanah longsor, analisis citra digital.

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/PqJYhz3xfN7b


Konsep dan prinsip fisika proses pemboran MIGAS
Ivan Rizo Putra (a*), Lilik Hendra jaya (b)

Show More

Corresponding Author
Ivan rizo Putra

Institutions
(a) Institut Teknologi Bandung. Jalan Ganesha 10 Bandung 40132. Indonesia
*ivanrizo50[at]yahoo.com
(b)fisika kebumian dan sistem kompleks, Institut Teknologi Bandung. Jalan Ganesha 10 Bandung 40132. Indonesia

Abstract
Operasi pemboran merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, sebelum operasi pemboran dapat dilaksanakan, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah apa yang disebut dengan tahap persiapan. Tahap persiapan inipun terdiri dari beberapa tahapan mulai dari persiapan tempat, pengiriman peralatan pada lokasi, penunjukan pekerja, sampai pada persiapan akhir. Pada operasi pemboran ini peralatan yang dipakai terbagi menjadi beberapa sistem. Pembagian sistem-sistem yang umum dilakukan dalam industri perminyakan adalah sebagai berikut: Sistem pengangkat (Hoisting System), sistem pemutar (Rotating System), sistem sirkulasi (Circulation System), sistem daya (Power System), Sistem pencegah sembur liar (BOP System).

Keywords
Hosting System,Rotating System,Circulation System,Powerpoint System,BOP System

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/j4CkuxURJ7HB


Mekanisme Perforasi Selubung Migas dan Sistem Aliran Produksinya
Mohammad Hamdan (a) Lilik Hendrajaya (b*)

Show More

Corresponding Author
Mohammad Hamdan

Institutions
(a) Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa 10, Bandung 40132, Indonesia
(b) Divisi Fisika Bumi dan Sumber Daya Alam Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa 10, Bandung 40132, Indonesia
*Lilik[at]fi.itb.ac.id

Abstract
Perforasi merupakan teknik penyelesaian (completion technique) yang berperan penting dalam menentukan tingkat produktivitas migas yang dihasilkan. Namun penetrasi shaped-charge dengan tekanan dan kecepatan tinggi pada proses pelubangan casing, lapisan semen, dan formasi dapat menyebabkan terbentuknya zona kerusakan dengan permeabilitas yang rendah disekitar lubang di formasi dan sumur. Jumlah kerusakan antara sumur dan formasi selama proses perforasi dinyatakan dengan dimensi skin. Penurunan tingkat permeabilitas akibat zona kerusakan dapat mengurangi tingkat produktivitas sumur secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan konfigurasi yang sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas dan skin tersebut. Skin dan produktivitas dipenguruhi oleh tiga faktor yaitu geometri perforasi, lingkungan perforasi, dan karakteristik formasi. Salah satu faktor yang dapat dioptimalkan adalah faktor geometri perforasi. Geometri perforasi terdiri atas empat parameter yaitu densitas tembakan, kedalaman penetrasi, shot phasing, dan diameter lubang perforasi. Pada umumnya produktivitas akan meningkat seiring dengan peningkatan keempat parameter geometri perforasi tersebut. Selain itu penetrasi yang merupakan salah satu parameter geometri perforasi dipengaruhi oleh perforator dan proses pembentukan lubang perforasi. Diantara faktor yang mempengaruhi penetrasi dan berhubungan dengan geometri perforasi adalah parameter shaped-charge dan gun clearance. Parameter shaped-charge terdiri dari liner, explosive, case, dan standoff serta parameter gun clearence mempengaruhi diameter perforasi, kedalaman perforasi, dan ukuran diameter lubang.

Keywords
geometri perforasi, produktivitas, perforasi

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/mY72hMXJwUAN


Metode Magnetik Dan Pemodelan Benda Anomali Sebagai Survey Awal Geofisika
Claudia M. M Maing dan Alamta Singarimbun

Show More

Corresponding Author
Claudia Mariska Mardikawati Maing

Institutions
Institut Teknologi Bandung

Abstract
Metode magnetik adalah salah satu dalam bidang geofisika yang sering digunakan sebagai survey awal geofisika dalam hal ini eksplalam metode magnetik ini akan diperoleh nilai medan anomali magnetik yang diakibatkan adanya penyebaran benda magnetik di bawah permukaan tanah pada lokasi eksplorasi. Dari data medan anomali magnet yang diperoleh di lapangan, maka akan diolah untuk membuat pemodelan 2D benda anomali yang menyebabkan adanya anomali magnet.Daam penelitian ini digunakan metode poligon Talwani, serta digunakan software untuk pembuatan peta kontur dan Matlab untuk membuat pemodelan 2D benda anomali.

Keywords
Anomali magnet, Poligon Talwani, Benda Anomali

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/tKx7kuVT3ed4


PEMODELAN DAN INVERSI 1-D METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DENGAN MENGGUNAKAN MATLAB
Nur Faizin (a*), Enjang J. Mustopa (b)

Show More

Corresponding Author
Nur Faizin

Institutions
a*,b) Earth Physics and Complex System Research Division
Institut Teknologi Bandung
payizin[at]gmail.com

Abstract
Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan mineral bawah permukaan bumi berdasarkan variasi sifat kelistrikan. Dalam metode ini dikenal tiga konfigurasi yaitu Schlumberger, Wenner, dan Dipole-dipole. Dalam penelitian ini telah dimodelkan konfigurasi Sclumberger 1-D untuk dua lapis dan tiga lapis. Pemodelan dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama forward modeling lalu invers modeling. Dari proses forward modeling diperoleh data awal yang selanjutnya digunakan sebagai data input dalam proses invers modeling. Proses pemodelan dalam penelitian ini menggunakan software MATLAB R2013a. Data awal yang diperoleh dari proses forward modeling yaitu ρ1= 320 Ωm, ρ2= 120Ωm, h= 5m (dua lapis), dan ρ1= 320Ωm, ρ2= 120Ωm, ρ3= 160Ωm, h= 5m (tiga lapis). Pada proses invers modeling untuk dua lapis didapatkan ρi1= 321,75Ωm, ρi2= 121Ωm dan hi= 5,24m. Sedangkan untuk tiga lapis diperoleh ρi1= 320,45Ωm, ρi2= 120,65Ωm, ρi3= 158,19Ωm dan hi= 5,43m. Nilai error RMS yang digunakan pada penelitian ini sebesar 10-6. Setelah dibandingkan antara hasil inversi dengan data awal maka dapat disimpulkan bahwa proses invers modeling sudah sesuai.

Keywords
forward modeling, invers modeling, hasil inversi

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/zTP97BcHkKCu


PEMODELAN RESERVOIR PANASBUMI DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLIGON TALWANI 2-D
Suka Prayanta Pandia, Alamta Singarimbun

Show More

Corresponding Author
Suka Prayanta Pandia

Institutions
Institut Teknologi Bandung

Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan reservoir panasbumi dengan menggunakan metode poligon Talwani dua dimensi. Energi panasbumi adalah salah satu energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap energi. Umumnya energi panasbumi digunakan untuk memutar generator sehingga menghasilkan listrik. Dalam penelitian ini, reservoir panas diasumsikan adalah fluida dengan rapat massa 1000 kg/m3. Untuk menemukan lokasi reservoir, maka digunakan beberapa metode eksplorasi, salah satunya adalah metode gravitasi. Metode gravitasi menggunakan prinsip gaya tarik antar massa, sehingga rapat massa berbeda akan memberikan nilai percepatan terukur yang berbeda. Nilai akhir yang dicari dalam metode ini adalah anomali Bouguer, yang merupakan hasil dari nilai hasil pengukuran yang kemudian dilakukan koreksi � koreksi. Dalam menginterpretasi objek penyebab anomali, maka dalam penelitian ini digunakan metode poligon Talwani. Metode ini mengasumsikan bahwa reservoir panas tersebut dapat dianggap sebagai benda berbanyak sisi. Pemrograman yang digunakan dalam penelitian ini adalah C++ karena bahasa tersebut cepat dalam melakukan eksekusi perintah.

Keywords
Eksplorasi, energi panasbumi, interpretasi, metode gravitasi, poligon Talwani.

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/Hz76ErJuRfNj


Pengukuran Listrik pada Dinding Sumur Bor (Logging Tool Resistivity)
Siti Humairo (a*), Lilik Hendrajaya (b)

Show More

Corresponding Author
Siti Humairo

Institutions
a)Magister Pengajaran Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
* sitihumairo.z[at]gmail.com

b)Laboratorium Fisika Bumi,
Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

Abstract
Pengukuran sifat listrik pada dinding sumur bor dapat menetukan peluang suatu reservoir untuk dikembangkan karena adanya informasi mengenai kandungan hidrokarbon dan potensi produksi yang dapat dihasilkan. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui metode logging menggunakan logging tool (log). Logging listrik memanfaatkan prinsip fisika berupa resistivitas dan konduktivitas batuan yang terdapat dalam formasi. Dalam logging listrik salah satu peralatan (log) yang umum digunakan adalah log resistivitas. Pada makalah ini prinsip pengukuran listrik dinding sumur bor diukur dengan log elektroda dan log induksi. Melalui persamaan Archie nilai faktor sementasi dapat dihitung.

Keywords
Pengukuran listrik; Logging Resistivitas;

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/Vn9MwTXZ6Lfh


Perbandingan Kurva Resistivitas Semu pada Metode Geolsitrik Metode Pencerminan Bayangan dan Solusi Fungsi Bessel
Asep Saefullah, Wahyu Srigutomo

Show More

Corresponding Author
Asep Saefullah

Institutions
Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan alam, Institut Teknologi Bandung

Abstract
Metode perncerminan bayangan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh persamaan resistivitas semu pada metode geolistrik untuk kasus bumi dua lapisan. Metode ini bekerja dengan menggangap lapisan horizontal bumi sebagai cermin. Sumber arus listrik pada permukaan bumi akan mengalami pemantulan dan menghasilkan sumber-sumber arus listrik baru. Potensial listrik di permukaan bumi merupakan hasil penjumlahan potensial yang dihasilkan sumber-sumber arus listrik hasil pemantulan. Dari persamaan potensial listrik, nantinya akan diperoleh persamaan resistivitas semu untuk bumi dua lapisan. Persamaan resistivitas semu juga dapat diperoleh memanfaatkan hubungan integral dari teori fungsi Bessel dalam koordinat selinder. Berdasarkan kedua persamaan resistivitas semu tersebut, akan akan dilakukan perbandingkan dan analisa kurva resistivitas semu pada masing-masing metode. Perbandingan kurva resistivitas akan diterapkan pada dua konfigurasi metode geolistrik, yaitu konfigurasi Schumberger dan konfigurasi Wenner.

Keywords
Kurva resistivitas semu, metode geolistrik, metode pencerminan bayangan, fungsi Bessel.

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/KYdvLUXeNRp6


Prediksi Cuaca Secara Numerik Menggunakan Model Barotropik di atas Wilayah Indonesia dan Sekitarnya
Plato Martuani Siregar

Show More

Corresponding Author
Plato Martuani Siregar

Institutions
Meteorology, ITB

Abstract
Ujicoba prediksi numerik untuk keadaan cuaca di atas Indonesia dan sekitarnya menggunakan model Barotropik telah berhasil memprediksi 24-48 Jam kedepan. Data inisial yang digunakan adalah ketinggian geopotensial dari ECMWF(European Center for Medium Range Forecast) yang mencakup luas resolusi data spasial 0,1250. Hasil prediksi memperlihatkan bahwa pengaruh syarat batas menjadi tidak terlalu penting dalam pusat area prediksi (forecast 24 jam kedepan) dan telah sukses mendapat koorelasi sebesar 0,87 antara prediksi geopotensial dan hasil pengamatan,sedangkan kesalahan relatif dari perubahan geopotensial adalah 0,58. Prediksi jangka pendek persamaan vortisitas menghasilkan keluaran yang dapat diubah menjadi upstream kecepatan angin,gradient tekanan dan medan curah hujan untuk langkah waktu 1 jam. Perolehan penting dari model adalah parameterisasi konveksi cumulus sebagai fungsi konvergensi kelembaban udara dan ada kopel kuat gerak udara naik dan medan angin melalui perhitungan tutupan awan. Pembentukan ini mendekati gambaran simulasi dari suatu vorteks.

Keywords
vortisitas,prediksi,geopotensial dan kelembaban udara

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/yj4bmT3WhrRN


Prediksi Jangkauan Pergerakan Tanah Longsor Menggunakan Model Gesekan Coulomb Sederhana
Firmansyah (a*), Selly Feranie (a), Adrin Tohari (b), Fourier D.E. Latief (c)

Show More

Corresponding Author
Firmansyah -

Institutions
a)Departemen Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154, Indonesia
*firmansyah72[at]student.upi.edu

b) Pusat Penelitian Geoteknologi (P2G-LIPI)
Komplek LIPI Jl. Sangkuriang, Bandung 40135, Indonesia

c) Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia

Abstract
Kondisi geomorfologi di wilayah Provinsi Jawa Barat menjadikan salah satu faktor penyebab banyaknya sebaran daerah yang rentan terhadap aktivitas pergerakan tanah dan sudah tercatat sebanyak 290 kejadian di Jawa Barat pada tahun 2014 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pada umumnya, kejadian tersebut banyak terjadi pada bukit atau lereng yang cukup terjal dengan kemiringan antara 30-50% yang disertai dengan pengaruh lainnya seperti gempa, curah hujan dan lain sebagainya. Telah banyak kajian mengenai tanah longsor yang sudah dilakukan, diantaranya yaitu mengunakan metode geolistrik untuk mengidentifikasi adanya nilai resistivitas yang kontras yang mengindikasikan adanya bidang gelincir namun memiliki keterbatasan dalam hal interpretasi dimana harus dikorelasikan dengan data bor. Lalu terdapat metode geologi teknik untuk menghitung kemantapan (stabilitas) lereng yang dapat memberikan informasi mengenai zona potensi longsor namun tidak sampai memprediksi jarak jangkauan pergerakan tanah. Oleh karena itu, pada paper ini mengusulkan suatu model sederhana untuk memprediksi jangkauan pergerakan tanah. Dimana pendekatan yang diterapkan pada model ini adalah massa tanah longsor dianggap sebagai satu kesatuan titik pusat massa dan perhitungan jangkauan menggunakan teori gesekan Coulomb.

Keywords
Jarak jangkauan; Model gesekan Coulomb; Pergerakan tanah; Stabilitas lereng

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/eHrz3RYtpFKZ


Relokasi Hiposenter Gempa Mikro Menggunakan Metode SED (Single Event Determination) dari Data MEQ Area Geothermal Kamojang, Jawa Barat
Alamsyah Rizki Isroi (a*), Alamta Singarimbun (a), Tommy Herdiansyah (b)

Show More

Corresponding Author
Alamsyah Rizki Isroi

Institutions
a) Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks, Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
*rizkiisroi[at]live.com

b) Pertamina Geothermal Energy, Menara Cakrawala lt 11, Jl. MH. Thamrin No.9, Jakarta 10340

Abstract
Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar dengan jumlah sekitar 25.875 MW atau � 40% dari cadangan dunia. Indonesia terletak pada area Ring of Fire yang mencakup wilayah sepanjang 40.000 km membentang mengelilingi samudera Pasifik, akibatnya Indonesia memiliki 127 gunungapi. Di samping itu, secara geografis Indonesia berada pertemuan antara tiga lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, lempeng pasifik, dan lempeng Indo-Australia yang berperan aktif dalam pembentukan zona subduksi dan gunungapi Indonesia. Kondisi geologi ini memberikan kontribusi ketersediaan energi panas bumi Indonesia. Energi geothermal adalah energi yang tersimpan di dalam kerak bumi. Sumber panas bumi didefenisikan sebagai suatu reservoir di mana energi panas bumi dapat diekstraksi secara ekonomis dan dimanfaatkan untuk keperluan industri, pertanian atau keperluan-keperluan lain yang sesuai. Eksplorasi panas bumi dapat dilakukan dengan metode geofisika, salah satunya yaitu metode microseismic dengan penentuan hiposenter gempa menggunakan metode single event determination (SED) yang digunakan untuk mengidentifikasi gempa-gempa kecil berkekuatan ≤ 3 SR yang umumnya disebabkan oleh simulasi hidrolik, kegiatan produksi atau injeksi dan pengeboran. Metode ini menunjukkan sebaran zona-zona kejadian gempa melalui letak hiposenter dan episenter. Hiposenter adalah lokasi fisik dari sumber gempa, biasanya diberikan dalam longitude (x0), latitude (y0), kedalaman di bawah permukaan (z0), dan juga waktu terjadinya gempa (t0). Saat hiposenter dan waktu asal ditentukan oleh waktu kedatangan fase seismik dimulai oleh gempa pertama, lokasi akan dihitung sesuai dengan titik di mana gempa dimulai. Dimulai dari t adalah waktu tiba pertama (first arrival time) gelombang seismik di setiap stasiun pengamatan (seismometer) ke-i (x i , y i , z i ) dari hiposenter (x 0 , y 0 , z 0 ), t Cal adalah waktu tempuh kalkulasi berdasarkan model kecepatan satu dimensi bawah permukaan dan t 0 adalah waktu asal (origin time).

Keywords
geothermal, hiposenter, micro seismik, SED

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/pXtzm4FnGWJr


Studi Emisi Gelombang Elektromagnetik Terkait Dengan Aktivitas Seismik
Setyanto Cahyo Pranoto

Show More

Corresponding Author
Setyanto Cahyo Pranoto

Institutions
Pusat Sains Antariksa - LAPAN

Abstract
Gempa Bumi hampir setiap tahun terjadi di bagian belahan dunia dengan mengeluarkan energi dalam jumlah yang sangat besar. Energi ini mengalir dari sumber gempa dalam bentuk gelombang melalui bagian interior Bumi, termasuk bagian yang paling dalam. Gelombang gempa mengalami propagasi ke permukaan sehingga dapat terekam oleh seismograf dalam bentuk sismogram. Disisi lain gelombang ini juga berkontribusi pada total medan magnet yang terukur pada magnetometer landas Bumi. Anomali geomagnet atau gangguan geomagnet itu sendiri dapat terjadi akibat aktifitas eksternal maupun internal medan magnet Bumi. Dalam makalah ini digunakan perbandingan antara komponen Z terhadap komponen H medan magnet Bumi untuk mengkarakteristik anomali geomagnet yang dapat diasosiasikan dengan kejadian seismik (gempa besar). Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya penyimpangan variasi harian komponen Z terkait aktifitas seismik.

Keywords
Medan magnet bumi, Seismik, Gempa

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/z8BwTEuNAXvU


Tectonics and thermal physics of Madagascar Island
Rakotovao Lovanantenaina Omega, Prof Lilik Hendrajaya

Show More

Corresponding Author
RAKOTOVAO Lovanantenaina Omega

Institutions
a) University of Antananarivo
Ankatso Antananarivo 101 Madagascar
b) Divisi Fisika Bumi dan Sumber Daya Alam dan Mineral Departemen Fisika Institut Teknology Bandung Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia

Abstract
Formerly, the world rift separated two large supercontinents including Laurasia and Gondwana. Planetary accretion, differentiation into crust, mantle, and core, ongoing processing by magmatism, dynamics and thermal evolution, and the generation of magnetic fields, are all processes controlled by the physical properties and phase equilibria of planetary materials. Here we review a method, based on new developments in thermodynamic theory for plates tectonics. Madagascar, one of the largest islands in the world, has been the focus of several studies to unravel the history of amalgamation of the Gondwana supercontinent and related tectonic process. The island of Madagascar, situated between the coasts of East Africa and the Indian Ocean and became individualized, and found its predominant metamorphic and magmatic base, Phanerozoic sedimentary rocks and volcanic rocks, where it currently stands. Due to Madagascars basement optimization has been subdivided into six domain as: Domain of Antongil- Masora compartmentalized in subdomain Antongil and subdomain Masora, the block of Antananarivo, the Tsaratanana Thrust Sheet, Itremo sheet, Domaine of Bemarivo, and southern Madagascar.

Keywords
Global tectonics, supercontinents, Gondwana, thermal process, mineral and fossils energy, Madagascars basement

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/wmFpPKaXtBH2


TEKTONIK DAN MINERALISASI BAUKSIT PULAU BINTAN
Yuri Yogaswara1,a) , Lilik Hendradjaja2,b)

Show More

Corresponding Author
Yuri Yogaswara

Institutions
1,2)Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Departemen Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132

a) yogaswarayuri[at]students.itb.ac.id
b) hendrajaya3[at]gmail.com

Abstract
Tektonik dan Mineralisasi Bauksit Pulau Bintan, dikaji melalui studi literatur hasil penelitian, jurnal, paper dan buku referensi yang terkait. Data pendukung diperoleh dengan melakukan wawancara pada bagian eksplorasi dan pertambangan di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM) Provinsi Kepulauan Riau, serta studi lapangan melalui observasi bekas tambang di 7 kecamatan yang ada di Kab. Bintan, yaitu Kec. Teluk Bintan, Kec. Bintan Timur, Kec. Bintan Pesisir, Kec. Sri Kuala Lobam, Kec.Gunung Kijang, Kec. Mantang, Kec. Sri Bintan dan di Kota Tanjungpinang yaitu di 3 kecamatan yaitu Kec. Tanjungpinang Timur, Kec. Bukit Bestari dan Kec. Tanjungpinang Kota. Semua daerah yang menjadi objek observasi masuk ke dalam provinsi Kepulauan Riau. Kajian dan kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui bagimana tekonik terbentuknya Pulau Bintan dihubungkan dengan terjadinya mineralisasi bauksit yang ada di pulau tersebut. Hasil studi literatur menunjukan bahwa pembentukan Pulau Bintan mengikuti pembentukan struktur sumatra, yang digambarkan oleh van Bemmelen (1949) dan dalam hal lempeng tektonik oleh Hamilton (1979). Unsur struktural utama Sumatera dan Wilayah sekitarnya dihubungkan dengan subduksi sistem Sumatra, yaitu wilayah Backarc, membentang ke arah timur laut dari Barisan Pegunungan, melintasi Selat Malaka ke pantai timur Semenanjung Melayu, yang ditempati oleh cekungan sedimen Tersier. Mineralisasi bauksit di Pulau Bintan dikaitkan dengan metaluminous ke peraluminous vulkanik Arc Granit dari Sabuk Timur (Schwartzet al. 1995) sekitar 230 Ma (Cobbinget al. 1992). Dikaitkan granitoid dan mineralisasi dari mencairnya mantel litosfer sebagai akibat dari subduksi (Paleo-Tethys) kerak samudera, asimilasi puncak benua satuan batuan dan proses kristalisasi fraksional. Hasil observasi lapangan keterdapatan mineral yang ada dari 10 kecamatan diperoleh mineralisasi yang terdapat di pulau Bintan menurut stratigrafinya yaitu, pertama formasi Aluvial terdapat di Busung Kec. Sri Kuala Lobam, kedua formasi Goungon terdapat di Kawal Kec. Gunung Kijang, Tembeling Kec.Teluk Bintan, Pulau Kelong Kec. Bintan Pesisir, ketiga formasi Andesit terdapat di Km.44 Kec. Sri Bintan, keempat formasi Granit terdapat Dompak Kec. Bukit Bestari, Senggarang Kec. Tanjungpinang Kota, Air Raja Kec. Tanjungpinang Timur, Pulau Mantang Kec. Mantang, dan Wacopek Kec. Bintan Timur. Hal ini sesuai dengan peta Geologi lembar Tanjungpinang, Sumatera dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi oleh Kusnama dkk, 1994.

Keywords
Subduksi Sistem Sumatra, Mineralisasi Bauksit Pulau Bintan

Topic
Kebumian (EPS)

Link: https://ifory.id/abstract/wxCUdpctNzbH


Page 1 (data 1 to 26 of 26) | Displayed ini 30 data/page

Featured Events

<< Swipe >>
<< Swipe >>

Embed Logo

If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):

<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>

Site Stats