Page 6 (data 151 to 180 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Hera Wati Hera
Institutions
Universita Terbuka
Abstract
Kesalahan konsep (miskonsepsi) merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemukan dalam pembelajaran fisika. Dugaan kuat yang menjadi penyebab miskonsepsi adalah tingginya abstraksi konsep pada mata pelajaran fisika. Kesalahan konsep yang sering terjadi pada mata pelajaran fisika adalah pada topik gerak. Makalah ini bermaksud untk mengungkapkan kesalahan konsep yang terjadi pada guru Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengajarkan mata pelajaran fisika khususnya tentang topik gerak peluru. Lebih lanjut, makalah ini menggambarkan bagaimana pengembangan simulasi program pembelajaran dengan bahasa pemrograman web HTML5/CSS3 diharapkan dapat digunakan untuk meminimalisir miskonsepsi gerak peluru dan dapat diakses menggunakan jaringan internet melalui tutorial online dan mobile phone guna mendukung konsep pembelajaran jarak jauh dengan baik. Hasil menunjukkan bahwa miskonsepsi guru tentang topik gerak peluru terjadi pada: 1) definisi gerak peluru; 2) analisis komponen vektor gerak peluru; 3) besaran dan dimensi gerak peluru.
Keywords
Miskonsepsi, gerak peluru, pengembangan simulasi berbasis HTML.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Meliyani Hasanah
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini berfokus pada upaya penggunaan simulasi komputer pada pembelajaran konsep suhu dan kalor menggunakan model pembelajaran Predict, Observe, Explain (POE). Pengembangan simulasi komputer berbasis POE bertujuan untuk membantu siswa SMA dalam mempelajari konsep suhu dan kalor dengan lebih mudah. Simulasi ini juga dapat digunakan untuk uji praktikum secara dinamis yaitu tidak hanya di dalam kelas dan laboratorium. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian pengembangan ADDIE yang meliputi tahap Analyze, Design, Development, Implementation dan Evaluation. Subjek penelitian ini berjumlah 39 siswa kelas X di salah satu SMA di kota Cimahi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan simulasi komputer dalam pembelajaran suhu dan kalor berbasis POE membuat siswa menjadi lebih antusias dan lebih mudah menjawab pertanyaan yang diajukan terkait konsep tersebut. Selain itu, penelitian ini juga dapat mengidentifikasi konsep esensial pada suhu dan kalor yang masih belum dipahami oleh siswa.
Keywords
simulasi komputer, POE, suhu, kalor
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Erna Wati
Institutions
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta, Gd. Dewi Sartika Lt.6 Kampus A UNJ, Jl. Rawamangun Muka No. 1, Jakarta Timur 13220
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sistem pembelajaran e-learning berbasis moodle dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada pokok bahasan Usaha & Energi untuk Fisika SMA. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Prosedur pengembangan ADDIE memuat lima tahapan, yaitu analisis, desain, pengembangan produk, implementasi produk, dan evaluasi produk. E-learning merupakan aplikasi internet yang dapat menghubungkan antara pendidik dan peserta didik dalam sebuah ruang belajar online. E-learning tercipta untuk mengatasi keterbatasan antara pendidik dan peserta didik, terutama dalam hal waktu, ruang, kondisi dan keadaan. E-learning berbasis moodle yang disajikan menampilkan fitur seperti pembelajaran, materi, buku, latihan dan kuis yang dikemas sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran yang diterapkan dalam e-learning sesuai dengan tahapan pembelajaran berbasis massalah yaitu mengorientasikan siswa kepada masalah, mengorganisaikan siswa untuk meneliti, membimbing penyelidikan, mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta mengevaluasi hasil. Dalam E-Learning ini menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis.
Keywords
E-Learning; Pembelajaran Berbasis Masalah; Usaha dan Energi
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Ghelvinny Ghelvinny
Institutions
1Prodi Magister Pengajaran Matematika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
2 Kelompok Keilmuan Matematika Kombinatorika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
a) ghelvin199[at]gmail.com
b) msalman[at]math.itb.ac.id
Abstract
Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merilis hasil PISA tahun 2015 di 72 negara tentang kemampuan literasi matematika, membaca, dan sains. Hasil literasi matematika siswa Indonesia dalam PISA 2015 masih jauh dibawah rata-rata, dari sekitar 540.000 siswa yang mengikuti ujian, siswa Indonesia berada di peringkat 63 dari 72 negara. Kemampuan literasi matematika dalam PISA 2015 yaitu untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Konteks sangat diperlukan untuk menggambarkan, memprediksi dan menjelaskan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menantang pola berpikir matematis siswa. Konteks DKI Jakarta dipilih karena memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat dibangkitkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dalam rangka pembangunan karakter bangsa. Tugu Monas, Kain Batik Ndreyon, Pelabuhan Tanjung Priok, Tari Topeng Blantek dan Rumah Kebaya, konteks inilah yang diharapkan dapat meningkatkan hasil literasi matematika menjadi penting untuk dihadirkan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah melalui sinergitas matematika dengan kearifan lokal masyarakat DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan menghasilkan seperangkat soal matematika model PISA dengan level 4,5 dan 6 yang valid dan praktis. Valid dari segi konten, konstruk, dan bahasa berdasarkan penilaian uji pakar, praktis berdasarkan uji coba kelompok kecil terhadap 10 siswa SMP Kelas IX di SMP Negeri 199 Jakarta berusia 15 tahun. Hasil penelitian diperoleh 6 butir soal matematika bertemakan. Sedangkan berdasarkan levelnya diperoleh level 4 sebanyak 1 soal, level 5 sebanyak 4 soal dan 1 soal untuk level 6 yang valid dan praktis.
Keywords
DKI Jakarta; konteks; level 4,5 dan 6; PISA; praktis; valid
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Hendri Prastyo
Institutions
Prodi Magister Pengajaran Matematika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
Kelompok Keilmuan Matematika Kombinatorika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
Abstract
Pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mengetahui kualitas pendidikan perlu dilakukan penilaian secara berkesinambungan. Penilaian dapat dilakukan secara nasional dan internasional. Indonesia melakukan penilaian secara nasional melalui ujian nasional dan mengikuti beberapa penilaian yang dilakukan secara internasional. Salah satu penilaian berskala internasional yang diikuti Indonesia adalah PISA (Programme for International Student Assessment). Hasil PISA menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di bawah rata-rata peserta lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah siswa-siswa di Indonesia belum terbiasa mengerjakan soal-soal seperti soal yang digunakan dalam PISA. Proyek ini menganalisa soal-soal yang digunakan PISA, kemudian mengembangkan beberapa soal berkriteria PISA menggunakan topik Kalimantan Timur. Setiap soal dianalisa dan dideskripsi berdasarkan tingkat kompetensi matematika, konten matematika, konteks yang digunakan, tingkat literasi, bentuk soal, dan tinjauan berdasarkan kurikulum 2013.
Keywords
konten matematika; konteks matematika; PISA; Kurikulum 2013
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Aloysius Rusli
Institutions
Jurusan Fisika, FTIS, Universitas Katolik Parahyangan, Ciumbuleuit 94, Bandung 40141
Abstract
Satu tahun terakhir ini, sebagai awal kuliah Fisika Dasar, telah mulai digunakan konsep Big History yang didukung materi yang terakses antara lain di video YouTube Cosmic Eye atau Powersof10 serta www.ibhanet.org, sebagai sarana mengaitkan perkembangan ilmu fisika mutakhir dengan perkembangan jagad raya sejak Ledakan Besar sekitar 13,8 gigatahun yang lalu, sampai ke taraf elektron, proton, dan quark. Wawasan fisika ini lalu juga dapat digunakan untuk menerawang sejenak ke wilayah metafisika, yaitu tentang makna-makna yang mestinya / mungkin tersirat di balik semua pengamatan, pemikiran, serta pengujian secara ilmiah itu. Evaluasi sementara tentang efektivitas yang telah dicapai dengan awal kuliah Fisika Dasar semacam ini, adalah: Motivasi mahasiswa cukup tersentuh, sehingga dapat diharapkan mereka lalu lebih dapat melihat relevansi kuliah Fisika Dasar sebagai peluas wawasan dan persiapan bertindak sebagai anggota masyarakat yang cukup berliterasi, baik dalam ilmu maupun dalam metafisika.
Keywords
Fisika Dasar, Wawasan Fisika, Metafisika
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Bagus Andrianto
Institutions
(a) Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Jl. Rawamangun Muka, Jakarta 13220, Indonesia
*bagusanto9999[at]gmail.com
Abstract
Aquarium merupakan salah satu benda yang sering dijumpai. Namun, pengoperasiannya masih menggunakan energi listrik sehingga memerlukan biaya yang besar dalam pengoperasiannya. Untuk mengatasi tingginya biaya operasional aquarium, diperlukan sumber energi alternatif yang sesuai dengan kondisi di Indonesia, salah satunya adalah energi angin. Pemerintah melalui silabus mata pelajaran Fisika kelas XII telah menuangkan pokok bahasan mengenai energi alternatif agar siswa mampu mengembangkan energi alternatif di masa mendatang. Namun berdasarkan hasil observasi di sejumlah sekolah di Jakarta, keberadaan media pembelajaran energi alternatif masih terbatas. Berdasarkan data tersebut, maka perlu dikembangkan Turbin Angin untuk Sumber Energi Aquarium Mandiri Energi yang layak dijadikan sebagai media pembelajaran. Data uji coba yang dilakukan dengan kecepatan angin 2 m/s - 5 m/s menunjukkan turbin angin mampu menghasilkan output antara 6V - 10 V dan 1mA - 3 mA. Output tersebut kemudian akan digunakan sebagai sumber energi untuk pengoperasian aquarium. Sedangkan hasil uji kelayakan oleh ahli media menunjukkan bagwa media memiliki kriteria yang sangat baik dengan presentase skor sebesar 89%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Turbin Angin untuk Feeder Energi Aquarium Mandiri Energi layak dijadikan sebagai media pembelajaran.
Keywords
Turbin Angin, Aquarium Mandiri Energi, Media Pembelajaran
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Agnesia Astri Suryani
Institutions
Prodi Pendidikan Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Jakarta
Abstract
Pengembangan penelitian ini bertujuan untuk : (1) menghasilkan produk media pembelajaran dalam bentuk video pembelajaran interaktif dengan pendekatan kontekstual pada materi dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar, (2) mengetahui kelayakan media video pembelajaran interaktif dengan pendekatan kontekstual pada materi dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar sehingga layak untuk diterapkan sebagai media pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) mengacu pada model pengembangan ADDIE meliputi lima tahapan yaitu; analisis (analyse), perancangan (design), pengembangan (development), pengimplementasian (implementation) dan evaluasi (evaluation). Proses pembuatan media video pembelajaran terdapat tiga proses yaitu proses persiapan, tahap produksi dan pasca produksi. Penelitian ini memperoleh data dari angket analisis kebutuhan lapangan, uji validasi (ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran) dan uji kelayakan produk menggunakan skala likert. Uji validasi dilakukan oleh dosen ahli pada masing-masing bidang, sedangkan uji kelayakan produk dilakukan terhadap peserta didik kelas XI. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dapat menghasilkan video pembelajaran interaktif yang layak digunakan sebagai media pembelajaran dikelas.
Keywords
Video pembelajaran interaktif, penedekatan kontekstual, dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Puspita Wahyu Kirlani
Institutions
Universitas Negeri Jakarta
Abstract
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa video pembelajaran interaktif fisika pada materi teori kinetik gas sebagai bahan ajar untuk SMA kelas XI. Video interaktif yang dikembangkangkan disusun berdasarkan tahapan model Problem Based Learning dilengkapi dengan lembar kerja siswa (LKS). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Research and Development (R&D) dengan langkah-langkah dengan langkah-langkah : (1) studi literatur, (2) analisis kebutuhan, (3) desain video pembelajaran, (4) pengembangan video pembelajaran, (5) validasi, (6) uji coba produk, (7) revisi produk. Proses pembuatan media video pembelajaran terdapat tiga proses yaitu proses persiapan, tahap produksi dan pasca produksi. Penelitian ini memperoleh data dari angket analisis kebutuhan lapangan, uji validasi (ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran) dan uji kelayakan produk menggunakan skala likert. Uji validasi dilakukan oleh dosen ahli pada masing-masing bidang, sedangkan uji kelayakan produk dilakukan terhadap peserta didik kelas XI. Penelitian ini menghasilkan video pembelajaran interaktif yang layak digunakan sebagai media pembelajaran dikelas.
Keywords
Research and Development, Video pembelajaran inteaktif, Teori kinetik gas
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Syarifah Hafizah
Institutions
Program Studi Pendidikan Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
Jl. Rawamangun Muka No.1, Jakarta Timur 13220
*syarifahafizah[at]gmail.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan video pembelajaran interaktif pada materi gerak melingkar sebagai media pembelajaran fisika untuk siswa SMA. Video interaktif yang dikembangkan disusun berdasarkan tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing dan dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengembangan Media Jurusan Fisika Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Develop, Implement, Evaluate). Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah: 1) analisis kebutuhan guru dan peserta didik serta analisis kompetensi dasar, 2) membuat storyboard atau rancangan video dan desain Lembar Kerja Siswa (LKS), 3) menyusun video menggunakan aplikasi Adobe Premiere Pro CS6, serta uji kelayakan produk oleh ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran, 4) Uji coba produk video secara terbatas, 5) Evaluasi dan Revisi produk. Penelitian ini menghasilkan produk video pembelajaran interaktif menggunakan metode inkuiri terbimbing pada materi gerak melingkar.
Keywords
video pembelajaran, interaktif, inkuiri terbimbing, gerak melingkar
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Meldawati Meldawati
Institutions
ITB
Abstract
Pengenalan metode Self Potential(SP) dapat diberikan kepada siswa SMA sebagai materi pengayaan pada topik kelistrikan yang bertujuan untuk menambah wawasan siswa akan aplikasi fisika dalam bidang Geofisika. Pemberian materi melingkupi pengenalan alat, praktek pengukuran pada bak pasir serta pengolahan data. Profil anomali SP dari hasil pengukuran dicocokkan dengan program simulasi forward SP yang dibuat menggunakan VBA excel untuk mengetahui nilai parameter anomali yaitu ; sudut polarisasi, momen dipol magnetik dan faktor geometri.
Keywords
Self Potential,Profil Anomali SP, VBA excel, Parameter anomali
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
RACHMAD LASAKA
Institutions
Guru Matematika SMP Negeri 2 Luwuk,
Kabupaten Banggai, Propinsi Sulawesi Tengah,
Jln. R.A Kartini No. 4 Luwuk, Indonesia 94715
rachmadlasaka[at]yahoo.co.id
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan siswa dalam menggambar dan menentukan koordinat objek geometri pada bidang Kartesius. Salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan menggunakan aplikasi GeoGebra sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar dan menentukan koordinat objek geometri pada bidang Kartesius melalui penggunaan aplikasi GeoGebra. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 2 Luwuk kelas IXA4 yang berjumlah 33 orang, terdiri dari 16 orang laki-laki dan 17 orang perempuan. Metode pengumpulan data melalui observasi dan tes. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus yang setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa terdapat peningkatan jumlah siswa yang tuntas, yaitu dari 21 orang pada siklus 1 menjadi 29 orang pada siklus 2. Sebaliknya, jumlah siswa yang tidak tuntas menurun dari 12 orang pada siklus 1 menjadi 4 orang pada siklus 2. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan aplikasi GeoGebra terjadi peningkatan ketuntasan belajar, yaitu dari 63,63% pada siklus 1 menjadi 87,87% pada siklus 2. Ini berarti bahwa penggunaaan aplikasi GeoGebra dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar dan menentukan koordinat objek geometri pada bidang Kartesius.
Keywords
Bidang Kartesius, kemampuan siswa, aplikasi GeoGebra
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Agung Nugraha
Institutions
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Abstract
Sifat koligatif larutan merupakan salah satu konsep kimia yang memiliki karakteriristik sebagai konsep abstrak dengan contoh yang konkret. Melalui penelitian kelas dilakukan penggunaan Modul Elektronik (E-Module) pembelajaran pada konsep sifat koligatif larutan untuk mengembangkan kemampuan literasi kimia terhadap Siswa. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas siswa pada pembelajaran sifat koligatif larutan berbantuan E-Module untuk mengembangkan kemapuan literasi kimia di kelas dan menganalisis kemampuan literasi kimia siswa pada pembelajaran sifat koligatif larutan berbantuan E-Module di kelas. Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI F 2 SMK Farmasi As-Shifa Ciparay dengan jumlah siswa 39 orang, jumlah laki-laki 5 orang dan jumlah perempuan 34 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes kemampuan literasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hasil observasi aktivitas siswa dan guru dengan interprestasi baik sekali dan kemampuan literasi kimia siswa berdasarkan kelompok tinggi, sedang, dan rendah masuk dalam kategori baik dengan nilai rata-rata 77. Proses pembelajaran dengan penggunaan E-Module padakonsep sifat koligatif larutan dapat mengaktifkan siswa dengan baik dan dapat mengembangkan kemampuan literasi kimia siswa pada konsep sifat koligatif larutan.
Keywords
E-Module pembelajaran sifat koligatif larutan, literasi kimia siswa, konsep sifat koligatif larutan.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lale Putri Nurul Hidayah
Institutions
Laboratorium Listrik dan Magnet,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
Abstract
Eksperimen fisika tekait bandul ganda merupakan salah satu sub topik pembelajaran untuk memahami konsep kinematika. Saat ini eksperimen bandul ganda yang banyak dilakukan adalah menggunakan video tracker, namun penggunaan video tracker diperlukan pengolahan data lebih lanjut karena tidak dapat menampilkan hasil secara langsung. Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk mendapatkan pola pergerakan bandul ganda dengan simpangan sudut kecil. Eksperimen ini dilakukan dengan memanfaatkan sensor magnet pada smartphone yang dapat menampilkan pola pergerakan bandul secara real time sehingga frekuensi dan periode dapat diketahui. Pola pergerakan bandul ganda yang terbaca pada smartphone kemudian dibandingkan dengan hasil simulasi menggunakan metode numerik Runge Kutta Hasil yang di peroleh menunjukan adanya kemiripan pola pergerakan bandul pada smartphone dengan hasil simulasi.
Keywords
Bandul ganda, smartphone, simulasi, runge-kutta
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
habibi esha
Institutions
Sekolah PascaSarjana -UPI
Abstract
Pembelajaran sains pada hakikatnya harus mencantumkan dua komponen penting, yaitu produk sains dan proses sains. Produk sains merupakan akumulasi antara hasil aktivitas empiris dan analisis para ilmuwan. Produk sains dihasilkan melalui proses penyelidikan ilmiah yang melibatkan sikap ilmiah dan proses sains. Sedangkan sains sebagai proses mencakup keterampilan-keterampilan dan sikap-sikap yang dimiliki oleh para ilmuan ketika melakukan penyelidikan fenomena-fenomena alam untuk menghasilkan produk sains. Fisika merupakan salah satu cabang dari ilmu sains. Oleh karena itu, proses pembelajaran fisika seharusnya tidak cukup hanya melalui pemaparan fakta-fakta ilmiah, prinsip-prinsip, hukum-hukum, maupun teori, tetapi juga menyangkut proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan eksperimen. Melalui kegiatan eksperimen, memungkinkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mengajukan hipotesis, membuat prediksi, menggunakan alat-alat untuk mengumpulkan dan menganalisis data, membuat kesimpulan, membangun argumen, mengkomunikasikan temuan dan menggunakan strategi penalaran luas yang melibatkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kausal dan berpikir logis Namun yang menjadi kendala dalam menerapkan metode eksperimen dalam pembelajaran adalah karena keterbatasan waktu dan kurangnya sarana laboratorium. Selain itu, pada prakteknya tidak semua materi sesuai apabila diterangkan dengan hanya menggunakan metode eksperimen seperti misalnya pada materi fisika yang bersifat abstrak, berbahaya dan objeknya sulit dibawa (ditampilkan) di ruang laboratorium. Ketika mempelajari konsep fisika yang bersifat abstrak dengan hanya menggunakan metode eksperimen, dikhawatirkan akan timbul miskonsepsi dalam pikiran siswa yang disebabkan karena siswa hanya bisa mengamati fenomena umum tanpa mengerti proses yang terjadi di dalamnya. Dengan demikian, dibutuhkan teknologi yang mampu memvisualisasikan materi fisika yang bersifat abstrak menjadi tampilan yang lebih nyata.
Keywords
simulasi virtual,pembelajaran,fisika
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
dewi ranti
Institutions
SMKN 5 Kota Bekasi
Abstract
Pembelajaran matematika yang bermakna sekarang ini sedang digiatkan. Bermakna artinya pembelajaran tidak hanya dipandang sebagai sebuah teori, melainkan sebagai sebuah aktivitas yang berkaitan erat dengan kebutuhan hidup di dunia nyata. Menyikapi hal tersebut, sebuah rangkaian rancangan pembelajaran dibuat. Rancangan pembelajaran dibuat dengan menggunakan dua model pembelajaran. Model yang pertama adalah drilling. Drilling menitikberatkan pada cara penyelesaian semua variasi soal. Latihan ini dilakukan berulang-ulang. Dengan menggunakan model ini, nilai rata-rata yang dihasilkan adalah 62,06, nilai minimum 42 dan nilai maksimum 82. Model yang kedua adalah Collaborative Learning melalui media video tutorial. Model ini mengharuskan siswa bekerjasama dalam kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Dalam kelompok, siswa diminta mengamati video tutorial yang berbeda-beda di tiap kelompok, untuk kemudian ditiru dan dimodifikasi dengan tugas kelompok yang telah diberikan. Video tutorial buatan siswa tersebut kemudian dipresentasikan di depan kelas. Akhir kegiatan ini adalah tes individu yang menghasilkan nilai rata-rata 78,79, nilai minimum 42 dan nilai maksimum 100. Dari nilai rata-rata terlihat adanya peningkatan prestasi. Hasil kegiatan ini juga diuji dengan Rancangan Blok Teracak Lengkap. Hasil uji tersebut juga memperlihatkan bahwa adanya pengaruh positif dari model pembelajaran Collaborative Learning terhadap prestasi siswa.
Keywords
Drilling Strategy, Collaborative Learning, Rancangan Blok Teracak Lengkap, Video Tutorial
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Melda Taspika
Institutions
Laboratorium Listrik Magnet
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
Abstract
Pengukuran medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan kawat berarus dilakukan menggunakan sensor magnet pada smartphone sebagai pengganti sensor magnetik yang relatif mahal. Mapping dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui posisi sensor magnetik di dalam smartphone agar pengukuran lebih akurat. Pengukuran besar medan magnet dilakukan dengan memvariasikan jarak terhadap dua kumparan yang disusun dengan jarak pisah tertentu. Eksperimen ini dilakukan menggunakan kumparan berjari-jari 8 cm dengan jumlah lilitan 30, serta dialiri arus 0,3 A. Hasil eksperimen dievaluasi dengan membandingkan nilai medan magnet yang terukur dan nilai teoritis yang diperoleh secara analitik dan pendekatan numerik, dihasilkan nilai selisih hasil pengukuran dengan nilai teoritis di bawah 3%. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sensor magnetik pada smartphone bisa digunakan untuk mengukur kuat medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan kawat berarus dalam eksperimen Fisika.
Keywords
Kumparan berarus, Gauss Meter, Sensor magnetik, Smartphone
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Andi Suhandi
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi no. 229 Bandung, Indonesia, 40154
Abstract
Abstrak Dalam pengertian yang paling sederhana, miskonsepsi diartikan sebagai keadaan konsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah yang kita pemahaman saat ini. Dalam literatur pendidikan sains banyak istilah lain yang telah digunakan untuk keadaan miskonsepsi, seperti misalnya ?naive beliefs (keyakinan naif)?, ?pre-conceptions (konsepsi awal)?, ?private versions of science (versi sains pribadi)?, ?personal models of reality (model realitas pribadi)?, ?pre-instructional ideas (gagasan pra instruksional)?, unfounded beliefs (keyakinan tak berdasar)? and bahkan ?kekeliruan konsepsi?. Miskonsepsi merupakan persoalan klasik dan mendasar yang dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan level pendidikan. Beberapa sumber yang dapat menjadi penyebab munculnya miskonsepsi pada diri seseorang adalah pengetahuan sebelumnya (prior knowledge), pengalaman dalam keseharian (daily life experiences), bahasa (language), kultur (culture), guru (teacher), buku teks (textbook), and proses pembelajaran (teaching). Miskonsepsi memiliki dampak iringan yang berantai dal luas, mula-mula akan menghambat seseorang untuk dapat memahami suatu konten sains secara utuh yang akan berlanjut pada ketidak mampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam proses problem solving dan lain-lain. Miskonsepsi dapat diremediasi dengan menggunakan pendekatan pengubahan konsepsi (conceptual change). Pendekatan ini dapat diterapkan pada modus teks interaktif. Dalam artikel ini akan dibahas tentang jenis-jenis modus teks pengubahan konsepsi yang bisa dikembangkan, struktur untuk setiap modus teks, format-format yang dapat digunakan, termasuk yang dipadukan dengan teknologi, serta contoh-contohnya. Gambaran hasil penelitian terkait penggunaan teks pengubahan konsepsi dalam proses pengajaran remedial juga dipaparkan dalam artikel ini.
Keywords
Miskonsepsi, Conceptual change approach, Modus teks
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
WAWAN WAHYU
Institutions
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) BANDUNG
Abstract
Efikasi diri peserta didik perlu dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Efikasi diri merupakan prasyarat mutlak bagi peserta didik agar dapat menumbuhkan aktivitas dan kreativitasnya sehingga sangat penting untuk dikaji dan perlu mendapatkan perhatian serius. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan efikasi diri peserta didik melalui penerapan Teknik Jigsaw II dalam kegiatan pembelajaran kimia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain Pretest-Posttest Nonequivalent Control Group Design. Subyek penelitian sebanyak 79 peserta didik kelas XI IPA tahun pelajaran 2013/2014 di salah satu SMAN kota Padang, terdiri dari kelas eksperimen (n=40) dan kelas kontrol (n=39). Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari 3 jenis, yakni kuesioner efikasi diri (KED), pedoman wawancara (PW), dan lembar observasi (LO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri peserta didik kelas eksperimen (N-gain rata-rata =0,61) lebih tinggi daripada kelas kontrol (N-gain rata-rata =0,41). Hasil wawancara menunjukkan bahwa peserta didik dan pendidik memberikan tanggapan yang positif terhadap penerapan Teknik Jigsaw II dalam pembelajaran kimia. Hasil observasi menunjukkan bahwa antusiasme belajar peserta didik cukup baik (rata-rata aktivitas=72,38). Oleh karena itu, disarankan bahwa efikasi diri peserta didik perlu dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan pembelajaran IPA pada topik dan jenjang yang berbeda.
Keywords
efikasi diri peserta didik, pembelajaran kimia, Teknik Jigsaw II
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Sahri Ramdan
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa sebagai dampak penerapan levels of inquiry pada pembelajaran IPA Terpadu. Metode penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Subyek penelitian yaitu 34 orang siswa kelas VIII di salah satu SMP berbasis pondok pesantren modern di Kabupaten Tangerang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar keterlaksanaan pembelajaran dan tes keterampilan berpikir kritis berbentuk tes tertulis jenis pilihan ganda beralasan terkait konsep pembiasan cahaya dan alat indera penglihatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa setelah pembelajaran levels of inquiry sebagian besar keterampilan berpikir kritis secara umum meningkat dengan kategori peningkatan sedang. Peningkatan tersebut diindikasikan oleh rata-rata skor gain yang dinormalisasi keterampilan berpikir kritis sebesar 0,52. Peningkatan tertinggi rata-rata skor gain yang dinormalisasi terjadi pada sub indikator menentukan suatu tindakan sebesar 0,74 dengan kategori tinggi, sub indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber sebesar 0,59 dengan kategori sedang, sub indikator membuat keputusan sebesar 0,56 dengan kategori sedang, sub indikator mendefinisikan istilah sebesar 0,41 dengan kategori sedang, dan sub indikator memfokuskan pertanyaan sebesar 0,29 dengan kategori rendah. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa penerapan levels of inquiry dalam pembelajaran IPA Terpadu dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
Keywords
Levels of inquiry, berpikir kritis
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Eko Susilowati
Institutions
1). Program Doktoral Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.
2). Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia,
3)Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Lambung Mangkurat
Email: titisekos[at]gmail.com
Abstract
Kerangka kerja P21 dalam pembelajaran abad ke-21 memasukkan pengetahuan dan ketrampilan yang harus dikuasai mahasiswa sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks. Pengetahuan tersebut diperoleh dengan cara menguasai konsep dengan baik. Studi pendahuluan pada salah satu LPTK di Banjarmasin mengungkapkan bahwa penguasaan konsep Gelombang dan Optika mahasiswa rendah yaitu dengan nilai rata-rata 57,5. Selain itu metode pengajaran yang konvensional diduga menyebabkan rendahnya nilai mahasiswa tersebut. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan cara melakukan penelitian melalui perkuliahan berbasis scaffolding yang membantu mahasiswa untuk meningkatkan penguasaan konsep. Penelitian ini dilakukan pada 96 mahasiswa yang terbagi menjadi 46 mahasiswa kelas eksperimen dan 50 mahasiswa kelas kontrol. Berdasarkan perhitungan N Gain 0,57 yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan penguasaan konsep pada kategori sedang dan analisis uji statistik didapatkan hasil penelitian dengan nilai effect size r=0,8 yang menyatakan bahwa perkuliahan berbasis scaffolding ini sangat efektif meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa. Peningkatan penguasaan konsep ini perlu ditingkatkan karena masih berada pada kategori sedang.
Keywords
peningkatan, penguasaan konsep, perkuliahan, scaffolding.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Trise Nurul Ain
Institutions
Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Hukum-hukum dasar fisika dibangun berdasarkan fakta ilmiah secara eksperimental. Hukum-hukum tersebut menghasilkan persamaan differensial ketika dihubungkan dengan konsep energi, massa atau momentum sistem. Osilasi teredam rangkaian RLC merupakan salah satu sistem fisis yang dibangun berdasarkan persamaan differensial biasa. Energi listrik di kapasitor dan energi magnetik di induktor berosilasi secara periodik. Resistor pada rangkaian mengubah kedua energi tersebut menjadi energi panas sehingga energi sistem berkurang secara terus menerus. Dengan memperbesar nilai R, muatan pada rangkaian akan lebih cepat habis oleh karena semakin besarnya energi yang diubah menjadi panas. Pengaruh nilai R pada redaman muatan ini dapat diamati secara langsung melalui simulasi grafik osilasi pada Ms. Excel. Pengaruh R pada muatan yang dapat diamati secara langsung tersebut dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep rangkaian RLC. Pada simulasi ini, penyelesaian PDB dilakukan secara analitik dan secara numerik dengan menggunakan metode Euler. Hasil perhitungan secara numerik kemudian dibandingkan dengan solusi analitik untuk mengetahui error dan kestabilan hasil. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, didapatkan grafik Q terhadap t pada kedua metode yang hampir sama. Error metode analitik ditemukan membesar kemudian menurun. Ketidakstabilan hasil ini disebabkan karena metode Euler menggunakan segment garis lurus untuk memprediksi solusi, sementara persamaan differensial yang ingin dicari merupakan PDB orde dua yang menghasilkan kurva sinusoidal. Hasil yang lebih stabil dapat diperoleh dengan menggunakan metode-metode pengembangan metode Euler seperti metode Heun, metode Range-Kutta dan metode midpoint.
Keywords
metode Euler, osilasi, PDB, rangkaian RLC, solusi analitik, solusi numerik
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Toto Budianto
Institutions
DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Penelitian ini bertujuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Bumi Antariksa (IPBA) untuk siswa SMP yang dapat mengakomodasi kecerdasan majemuk siswa. Berdasarkan hasil penelitian awal, penulis mendapatkan bahwa siswa yang berada dalam satu kelas memiliki beragam jenis kecerdasan. Beragamnya jenis kecerdasan yang dimaksud adalah seperti dijelaskan Gardner (1983) bahwa siswa mempunyai delapan jenis kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap siswa mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya. Penyusunan bahan ajar IPBA yang mengakomodasi kecerdasan majemuk siswa diharapkan dapat membantu seluruh siswa yang memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda untuk dapat menggali informasi mengenai Bumi dan Antariksa. Bahan ajar IPBA yang mengakomodasi kecerdasan majemuk disusun dengan sejumlah kegiatan siswa di dalamnya. Diantara kegiatan tersebut adalah eksperimen sederhana dan kegiatan diskusi siswa. Dengan melakukan eksperimen sederhana, seperti simulasi gerak rotasi dan revolusi, siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik dan musikal diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai materi IPBA. Adapun kegiatan diskusi siswa diperuntukkan untuk siswa yang memiliki jenis kecerdasan linguistik, intrapersonal dan interpersonal. Penjelasan materi dengan memberikan contoh fenomena yang sering dialami siswa menjadikan bahan ajar nyaman dibaca setiap siswa khususnya yang memiliki kecerdasan naturalis dan matematis-logis. Yang terakhir adalah kekayaan bahan ajar akan gambar-gambar dan foto-foto yang menjelaskan berbagai fenomena alam akan menarik minat baca dari siswa khususnya siswa dengan jenis kecerdasan visual. Dengan adanya berbagai kegiatan siswa, penjelasan konsep yang mempuni, dan dukungan gambar/foto yang juga mempuni, diharapkan menjadikan bahan ajar IPBA dapat mengakomodasi delapan jenis kecerdasan yang dimiliki siswa.
Keywords
Bahan Ajar IPBA, Kecerdasan Majemuk, Gerak Benda Langit
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Mohamad Arif Rahmansyah
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Ilmu Pengetahuan Bumi Antariksa (IPBA) teramat penting dan merupakan salah satu cabang ilmu dari pendidikan sains yang harus diberikan pada setiap tingkatan kelas atau jenjang pendidikan. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, khususnya lulusan yang ahli pada bidang ilmu pengetahuan bumi dan antariksa, maka perlu dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk bahan ajar yang dapat membantu pembelajaran IPBA untuk siswa SMP. Bahan ajar yang disusun adalah bahan ajar yang terintegrasi dan dapat mengakomodasi kecerdasan majemuk siswa. Bahan ajar IPBA yang Terintegrasi dengan disiplin ilmu terkait akan memantapkan pemahaman siswa pada suatu konsep. Berdasarkan hasil sebuah studi pendahuluan, diketahui bahwa siswa memiliki beragam jenis kecerdasan, keragaman kecerdasan siswa ini berdasarkan penelitian dari Gardner (1983) yang menunjukkan bahwa seorang siswa atau individu mempunyai delapan jenis kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Bahan ajar yang dapat mengakomodasi semua kecerdasan itu dapat menyalurkan informasi kepada seluruh siswa sesuai dengan jenis kecerdasan yang dimiliki. Penelitian ini dilakukan dengan metode R&D (Research and Development) sesuai prosedur yang dikembangkan Sugiyono (2009). Objek penelitian adalah siswa kelas XI SMP di salah satu SMP di Kota Bandung.
Keywords
Bahan Ajar IPBA, Kecerdasan Majemuk, Struktur Bumi,
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Arman Abdul Rochman
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika. Universitas Pendidikan Indonesia.
Abstract
Ilmu Pengatahuan Bumi dan Antariksa (IPBA) mungkin lebih dikenal dengan Earth and Space ini sempat menjadi mata pelajaran SMP pada kurikulim tahun 1975 hingga 1994 dipecah dan dilebur pada mata pelajaran Georagfi dan Fisika. Uji TIMSS (Trend Internasional Mathematics and Science Study) untuk k-8(usia 12-14) yang diikuti Indonesia dalam bidang sains pada tahun 1999, 2003 dan 2007 selalu memproleh nilai dibawah rata-rata dengan peringkat sangat rendah. Uji lapangan yang dilakukan di dua sekolah di wilayah Bandung menunjukan penguasaan konsepsi siswa hanya sekitar 32% dari materi IPBA yang terdapat di pelajaran IPA dan IPS khususnya dalam bidang Atmosfer. Mayoritas siswa berminat dalam mempelajari IPBA lebih dalam karena dapat dijumpai fenomenanya. Pengambilan tema Peramal Cuaca dimaksudkan pembelajann agar lebih terarah dalam satu tema serta siswa diharapkan mempunyai kompetensi yang bisa dipakai siswa di kehidupan sehari-hari. Tahap pertama penilitian dilakukan dengan pengambilan data penguasaan konsep dan ketertarikan siswa dalam pembelajaran peramal cuaca. Dilanjutkan pengumpulan materi atmosfer, meteorologi dan klimatologi desain keterpaduan Model Webbed dengan materi IPBA sebagai pusat materi dibangun dan dapat dikaitkan dengan pengembangan materi pada Standar Isi. Proses uji bahan ajar dilakukan dengan uji (judgement) oleh beberapa dosen terkait dan uji rumpang skala kecil. Setelah tahap ini dilanjutkan pada tahap uji rumpang skala besar. Uji rumpang yang dilakukan diharapkan akan positif, karena ditekankan pada uji konsep pemahaman siswa. Bahan Ajar ini bisa dijadikan pegangan guru ataupun siswa untuk mempelajari IPBA pada tema Atmosfer dan Cuaca ataupun Pengayaan IPA di sekolah. Pengembangan bahan ajar ini diharapkan menjadi salah satu dasar pegembangan kurikulum agar pembelajaran IPBA dapat dinikmati kembali oleh siswa-siswi di Indonesia.
Keywords
Bahan Ajar, IPBA Terpadu, SMP, Atmosfer
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Yuli Andriani
Institutions
(1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Indonesia (2)Dosen Program Studi Pendidikan IPA, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Indonesia
Abstract
Keaktifan siswa dalam pembelajaran di kelas merupakan salah satu hal yang penting, karena siswa diharuskan untuk lebih aktif dibandingkan guru. Siswa diharapkan dapat menjadi subjek dalam proses pembelajaran, bukan menjadi objek yang hanya menerima pengetahuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang ingin menggambarkan bagaimana aktifitas siswa dan keterlaksaan tahapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran inquiry terbimbing yang biasa mereka lakukan saat kegiatan praktikum pada pembelajaran IPA sehari-hari dengan aktifitas siswa dengan pembelajaran Argument Driven Inquiry yang secara khusus dirancang untuk melatihkan siswa dalam membuat argumen dan memiliki waktu yang lebih untuk kegiatan refleksi dibandingkan kegiatan inquiry biasa. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP kelas VII di salah satu SMP Negeri di kabupaten Garut dengan jumlah sampel 66 orang yang dibagi kedalam dua kelas yang menggunakan dua pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan lembar observasi, wawancara dan catatan lapangan sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktifitas siswa dalam pembelajaran Argument Driven Inquiry lebih tinggi jika dibandingkan aktifitas siswa pada pembelajaran Inquiry terbimbing. Dari lembar observasi diperoleh rata-rata aktifitas siswa pada pembelajaran Argument Driven Inquiry selama empat pertemuan besar 94% sedangkan pada pembelajaran Inquiry terbimbing rata-rata aktifitas siswa selama empat pertemuan hanya 83% dan untuk keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru untuk pembelajaran Argument Driven Inquiry selama empat pertemuan adalah 97% dan untuk pembelajaran Inquiry terbimbing adalah 95%. Sedangkan dari wawancara dan catatan lapangan diperoleh kekurangan dan kelebihan masing-masing kegiatan pembelajaran diantaranya salah satu kelebihan pembelajaran Argument Driven Inquiry adalah adanya sesi argumentasi dengan menggunakan teknik Round Robin.
Keywords
Aktifitas siswa, Aktifitas Guru, Argument Driven Inquiry,Inquiry terbimbing
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Wawan Andriana
Institutions
Universitas Negeri Jakarta
Abstract
Penelitian Quasi Eksperimen ini bertujuan untuk membandingkan hasil belajar kelompok siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Bekasi yang menggunakan metode eksperimen dengan simulasi PhET dan metode eksperimen dengan kit praktikum. Sampel penelitian adalah kelas XI IPA 5 sebagai kelas eksperimen 1 dan XI IPA 6 sebagai kelas eksperimen 2. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dengan tes tertulis dan dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t sebagai uji hipotesis. Setelah melalui uji hipotesis terhadap data, didapat hasil t-hitung (3,052) lebih besar dari t-tabel (1,668) dengan &
Keywords
hasil belajar, kit praktikum, metode eksperimen, simulasi PhET
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Robi Bhakti Awaludin
Institutions
a) Program Magister Pendidikan Biologi Sekolah Pascasarjana UPI
Jl Dr Setiabudi no 229 Bandung
*robi_awaludin[at]yahoo.com
b) Ketua program doktoral Pendidikan IPA sekolah Pascasarjana UPI
Jl Dr Setiabudi no 229 Bandung
c) Ketua Program studi Biologi Jurusan Pendidikan Biologi UPI
Jl Dr Setiabudi no 229 Bandung
Abstract
Materi subjek fotosintesis yang disajikan guru kepada siswa merupakan hal yang penting dalam pembelajaran sehingga harus terstruktur dan berurutan. Mulai dari penjelasan konsep sel tumbuhan, penemuan teori, reaksi fotosintesis, distribusi hasil, serta faktor-faktor fotosintesis. Penelitian relevan terhadap struktur materi guru pemula memiliki konten yang baik dalam memahami karakteristik pengajaran fotosintesis, struktur kimiawi fotosintesis, organel spesifik fotosintesis sehingga dapat mengatasi miskonsepsi siswa. Guru berpengalaman menekankan fotosintesis sebagai penyedia makanan dan oksigen bagi kesintasan kehidupan di bumi, menekankan persamaan fotosintesis, serta transfer energi matahari menjadi energi kimia. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan perbandingan kemampuan penyusunan skema penyajian materi fotosintesis guru pemula dan guru berpengalaman ditinjau dari jumlah konsep, kesesuaian konsep dengan skema rujukan serta keterkaitan antar konsep. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode deskriptif. Subjek penelitian adalah sepuluh guru biologi pemula dan sepuluh guru biologi berpengalaman di Bandung raya. Penentuan guru sebagai sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Materi fotosintesis yang disajikan guru adalah materi kelas VII. Data diperoleh dengan cara, guru membuat skema penyajian materi fotosintesis kelas VII, kemudian dilanjutkan dengan wawancara semi terstruktur. Kesesuaian skema yang dibuat guru dibandingkan dengan skema rujukan ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah konsep guru pemula yaitu 26 dan guru berpengalaman yaitu 26. Rata-rata kesesuaian skema buatan guru dengan skema rujukan, guru pemula yaitu 74,8% dan guru berpengalaman yaitu 70%. Rata-rata jumlah keterkaitan antar konsep guru pemula yaitu 30,4 dan guru berpengalaman yaitu 29,4.
Keywords
Skema penyajian materi, fotosintesis, guru pemula, guru berpengalaman
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Marfi Ario
Institutions
Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154, Indonesia
marfiario[at]gmail.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan penalaran matematis antara siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang mendapat pembelajaran penemuan terbimbing. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan desain penelitian the pretest-post-tes two treatment design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI salah satu SMK di Pekanbaru. Sampel pada penelitian ini adalah 76 siswa yang berasal dari dua kelas. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa soal tes kemampuan penalaran matematis. Temuan pada penelitian ini adalah: (1) peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mendapat pembelajaran penemuan terbimbing; (2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa ditinjau dari kategori Kemampuan Awal Matematis (KAM) siswa; (3) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kategori KAM terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa; (4) ditinjau dari KAM siswa, peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang mendapat pembelajaran penemuan terbimbing hanya berbeda pada kategori KAM sedang.
Keywords
penalaran, pembelajaran berbasis masalah, penemuan terbimbing, KAM.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
POPI WULANDARI
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin pesat telah mendorong untuk beralihnya buku cetak menjadi buku digital, namun penerapannya maupun penelitian di bidang ini masih jarang dilakukan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menggali potensi, peluang, dan tantangan pengembangan Electronic Book (E-Book) Fisika. Metode penelitian yang digunakan yakni dengan metode survey. Sampel penelitian 165 siswa terdiri dari 64 laki-laki dan 101 perempuan yang tersebar di 10 SMA Negeri dan 5 SMA Swasta di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket respon siswa terhadap penggunaan gadget, Program Gerakan Literasi (PGL), dan persepsi siswa tentang E-Book Fisika. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa 100% siswa memiliki gadget dan 89,7% sudah berbasis android. Siswa mencari materi fisika dari gadget selama 1-3 jam dalam sehari sebesar 70,9%. Hal ini sangat kontras dengan pendapat bahwa 98,2% siswa bermain media sosial di gadget selama satu sampai lebih dari 3 jam. Selama PGL, sebanyak 80,6% siswa menyukai program ini dan sebanyak 48,5% siswa mengaku bahwa sekolah memperbolehkan siswa membaca buku dari gadget. Buku yang paling banyak dibaca selama PGL adalah Novel (65,5%), hal ini bertolak belakang dengan pilihan buku mata pelajaran sebanyak 17,6%. Mengenai pendapat E-Book Fisika, siswa lebih menyukai E-Book Fisika dibandingkan buku cetak sebesar 75,7%. Namun demikian, ditemukan bahwa sebagian besar siswa (76,3%) membaca buku dalam sehari kurang dari 1 jam. Dari paparan potensi, peluang, dan tantangan tersebut diperlukan suatu upaya membangkitkan minat baca siswa terhadap buku Fisika yaitu dengan dibangunnya E-Book Fisika yang bisa diakses dari gadget.
Keywords
Potensi, Peluang, Tantangan, E-Book
Topic
Pembelajaran (EDU)
Page 6 (data 151 to 180 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats