Page 2 (data 31 to 40 of 40) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Siti Nurul Khotimah
Institutions
1Program Studi Magister Pengajaran Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
2Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
a) aiman.378[at]gmail.com (corresponding author)
b) estrieser53[at]gmail.com
c) elvidasafitry[at]gmail.com
d) nurul[at]fi.itb.ac.id
Abstract
Eksperimen ini dilakukan untuk menentukan hambat jenis dari pensil grafit dengan variasi tingkat kekerasan sampai tingkat kehitaman dari pensil dan pengaruh variasi jumlah goresan pensil dalam rangkaian listrik. Eksperimen dilakukan dengan membuat rangkaian listrik menggunakan goresan isi pensil. Jenis pensil yang divariasikan dari HB, B, 2B, 3B, dan 4B. Hasil yang diperoleh dari percobaan adalah semakin besar nilai B (blackness) pensil maka semakin kecil hambatan jenisnya, dan semakin banyak dan lebar goresan pensil, maka hambatannya mengecil.
Keywords
Rangkaian Listrik, Isi pensil, Hambat jenis
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
ANNA SUTRIANAH
Institutions
Anna Sutrianah, Elvira Hermawati dan Lia Dewi Juliawaty
Abstract
Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan-bahan alam hayati dan jenisnya sangat bervariasi terutama tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang ada di hutan Indonesia yaitu Cryptocarya. Genus ini dikenal dengan nama daerah �medang-medangan� dan merupakan salah satu genus dengan tingkat evolusi tinggi pada famili Lauraceae. Cryptocarya tersebar di daerah tropis dan subtropis yaitu di dataran Aftika bagian Selatan, Asia, Australia, Melanesia dan Brazil. Cryptocarya selain memiliki nilai ekonomis karena batangnya dapat digunakan untuk bahan bangunan dan bahan pembuat kertas. Selain itu tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat tradisional di antaranya sebagai obat sakit kepala dan demam. Sekitar 26 spesies Cryptocarya yang tumbuh di Indonesia telah dikaji kandungan metabolit sekundernya. Adapun metabolit sekunder utama pada Cryptocarya adalah alkaloid, α-piron dan flavonoid, selain metabolit sekunder lain yaitu stilben, lignan, terpenoid, steroid dan asam karboksilat. Metabolit sekunder tersebut memiliki bioaktivitas yang beragam seperti antikanker, antimalaria, antiinflamasi dan antimikroba. Salah satu spesies Cryptocarya yang ada di Indonesia adalah C. densiflora, yang kulit batangnya digunakan oleh masyarakat sebagai obat terhadap serangan hewan beracun, menghilangkan sakit kejang, TBC, disentri dan penyakit kelamin. Pada penelitian dilakukan isolasi metabolit kulit batang C. densiflora yang diperoleh dari Taman Hutan Raya Dago Pakar Bandung. Isolasi metabolit sekunder dilakukan melalui serangkaian metode pemisahan meliputi maserasi menggunakan aseton, fraksinasi serta pemurnian dengan menggunakan teknik kromatografi cair vakum (KCV) dan kromatografi radial (KR). Dua senyawa aromatik sederhana yaitu benzilbenzoat dan 4-alil-2,6-dimetoksifenol telah berhasil dipisahkan dari ekstrak aseton kulit batang C. densiflora. Struktur senyawa hasil isolasi ditentukan berdasarkan data spektroskopi meliputi 1D NMR (1H, 13C) serta 2D NMR (HSQC, HMBC, 1H-1H COSY). Dua senyawa tersebut untuk pertama kalinya dilaporkan dari kulit batang C. densiflora.
Keywords
Cryptocarya densiflora, benzilbenzoat, 4-alil-2,6-dimetoksifenol
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Mustapa
Institutions
(a) Magister Kimia, FMIPA ITB
(b) KK Kimia Analitik, FMIPA ITB
(c) KK Kimia Analitik, FMIPA ITB
Abstract
Metilen biru merupakan zat warna kationik (zat warna basa) dengan afinitas yang tinggi pada permukaan suatu bahan. Pada umumnya metilen biru digunakan dalam pewarnaan wool, produksi cat, tekstil, kertas, dan dalam bidang mikrobiologi. Keberadaan zat warna tersebut dalam air meskipun pada konsentrasi rendah dapat berpengaruh terhadap tampilan dan kualitas air. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk menghilangkan zat warna tersebut dari air. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah adsorpsi. Penggunaan adsorben seperti karbon aktif, zeolit dan biomassa telah banyak digunakan namun adsorben-adsorben tersebut memiliki keterbatasan dalam proses regenerasi dan penggunaan kembali. Salah satu material yang menarik untuk dikaji adalah molecularly imprinted polymer (MIP). MIP merupakan suatu jenis material polimer sintetik yang memiliki kemampuan pengenalan spesifik terhadap molekul target, memiliki selektivitas yang lebih tinggi, dan dapat digunakan kembali. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis MIP dengan asam metakrilat (MAA) sebagai monomer, divinil benzena (DVB) sebagai pengikat silang, 2,2-azo bis-isobutironitril (AIBN) sebagai inisiator, dan metilen biru sebagai template/cetakan. Karakterisasi polimer dilakukan dengan menggunakan FTIR dan SEM untuk melihat gugus-gugus fungsi dan bentuk morfologi permukaan MIP. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan adanya pergeseran vibrasi C=O yang berasal dari asam metakrilat, hal ini menunjukkan adanya interaksi antara polimer dengan metilen biru. Karakterisasi morfologi permukaan MIP menunjukkan adanya perbedaan yaitu pada permukaan MIP sebelum leaching terlihat adanya butiran-butiran sedangkan pada MIP setelah leaching tidak terlihat lagi. Karakterisasi sifat retensi dari MIP dan NIP yang disintesis dilakukan dengan mengevaluasi pH larutan, waktu kontak, dan konsentrasi awal larutan. Hasil pengujian adsorben terhadap adsorpsi metilen biru menunjukkan kapasitas adsorpsi NIP sebesar 27,76 mg/g dan kapasitas adsorpsi MIP sebesar 37,89 mg/g pada pH 10 dengan waktu kontak selama 60 menit.
Keywords
metilen biru, molecularly imprinted polymer, kapasitas adsorpsi
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Rico Nurillahi
Institutions
Universitas Islam Indonesia
Abstract
Batik telah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak tahun 2009. Pelestarian dapat dilakukan dengan peningkatan produksi kain batik. Namun, sejauh ini peningkatan produksi tidak diimbangi dengan pengolahan air limbah yang efektif dan efesien terlebih industri batik menghasilkan air limbah dengan kandungan logam berat serta karakteristik COD dan BOD yang tinggi sehingga berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, pengolahan air limbah batik menjadi hal yang penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan katalis TiO2 yang termodifikasi abu vulkanik sehingga memiliki serapan energi yang lebih aktif untuk mendegradasi senyawa polutan dalam limbah batik cair. Metode yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan oksidasi fotokatalitik dengan biaya rendah dan bahan baku yang melimpah dialam. Bahan fotokatalis dibuat dengan cara mendispersikan prekusor titanum kedalam suspensi material abu vulkanik yang diikuti dengan pengeringan dan kalsinasi. Karakterisasi material dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), X-Ray Fluorescene (XRF), Fourier Transform InfraRed (FT-IR), Diffuse reflectance Uv-Visible dan Spektrofotmetri UV-Visible. Materi tersebut diaplikasikan pada fotooksidasi air limbah batik dengan variasi penambahan H2O2 dan kalium peroksodisulfat sebagai oksidator. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan oksidator kalium peroksodisulfat memiliki efektifitas lebih baik dibandingkan dengan penambahan H2O2 sehingga TiO2 termodifikasi abu vulkanik merupakan bahan potensial yang dapat dikembangkan untuk pengolahan limbah batik menggunakan mekanisme fotooksidasi dengan biaya murah serta ramah lingkungan.
Keywords
Abu Vulkanik, Fotokatalis, Limbah batik, TiO2
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Moedji Raharto
Institutions
1* Astronomy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bandung Institute of Technology
CAS building, 6th floor, Ganesha street no 10, Bandung 40132, West Java, Indonesia
e-mail: moedji[at]as.itb.ac.id or mraharto2009[at]gmail.com
2* Program Studi Ilmu Falak, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel jl A. Yani 117 Surabaya 60237, East Java, Indonesia
Email: sopwan[at]uinsby.ac.id
Abstract
Abstrak Penentuan Hari libur Nasional di Indonesia bersumber dari beberapa sistem kalendar. Pada umumnya dapat dikelompokkan dalam kalendar Matahari, kalendar Bulan dan kalendar Luni-Solar. Melalui kombinasi data astronomi dan aturan masing – masing kalendar dalam sistem kalendar Matahari, Bulan dan Luni Solar dapat difahami kerja kalendar. Pemahaman keanekaragaman sistem kalendar tersebut diharapkan akan membuka jalan memprediksi dan menetapkan hari libur nasional beberapa tahun ke depan. Prediksi hari libur nasional tahun 2018 &2019 dipaparkan dalam makalah ini.
Keywords
kalendar, hari libur nasional, kalendar Matahari, kalendar Bulan dan kalendar Luni-Solar
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Yudiansyah Akbar
Institutions
a) Biophysics and Medical Physics Laboratory
Department of Physics, Institut Teknologi Bandung
*yudiansyahakbar1[at]gmail.com
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi perbedaan aktivitas kelistrikan sinyal Electroencephalogram (EEG) pada penderita skizofrenia dan kelompok kontrol menggunakan teknik analisis spektral entropi. Sampel pada penelitian ini sebanyak 8 orang, terdiri dari 4 orang penderita skizofrenia dan 4 orang subjek normal sebagai kelompok kontrol. Subjek direkam menggunakan EEG Wireles 12 elektroda yaitu AF3, F7, FC5, T7, P7, O1, O2, P8, T8, FC6, F8, AF4 dan 2 elektroda referensi pada kondisi resting state (menutup mata). Pengambilan data dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Data hasil perekaman diolah dan dinalisis dengan teknik centering, filtering, estimasi spektral dengan menggunakan Periodogram Welch, Window diaplikasikan pada analisis spektral ini yaitu window Hamming, kemudian dilakukan analisis spektral entropi. Hasil analisis spektral entropi menunjukan penurunan nilai rata-rata spektral entropi penderita skizofrenia pada lobus AF3 sebesar 0.0452, F7 sebesar 0.0042, T7 sebesar 0.0016, T8 sebesar 0.0313, FC6 sebesar 0.0209, F8 sebesar 0.0441, dan AF4 sebesar 0.0201.
Keywords
spektral entropi, resting state, EEG, skizofrenia
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Yati Hardiyanti
Institutions
Kelompok Kahlian Fisika Nuklir dan Biofisika, Departemen Fisika
Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Abstract
Dalam radioterapi, proses perencanaan pengobatan diperlukan untuk membuat pengobatan yang efektif. Proses perencanaan pengobatan kanker dikenal dengan Radiation Treatment Planning System (RTPS). Hal yang perlu dikembangkan dalam RTPS adalah penambahan teknik optimasi untuk menemukan rencana pengobatan yang optimal. Pendefinisian volume dilakukan untuk mengatahui perhitungan dosis dan distribusi dosis yang diberikan tepat. Distribusi dosis diberikan semaksimal mungkin untuk daerah Planning Target Volume (PTV) dan seminimal mungkin untuk organ at risk (OAR). Perkembangan RTPS digunakan untuk membuat rencana pengobatan dengan beberapa software yang tersedia. Salah satunya adalah Prism TPS mucul dengan paket dasar dalam perencanaan radioterapi konformal dengan teknik forward planning, sehingga memungkinkan untuk dikembangkan dan dieksplorasi secara maksimal menjadi teknik inverse planning. Dalam penelitian ini, program optimasi akan dilakukan dengan menggunakan metode simulated annealing pada bahasa pemograman common Lisp. Penelitian ini didasarkan pada program acuan dalam bahasa MATLAB. Program ini diuji untuk mengetahui kinerja pada pengoptimalan tiga fungsi matematika yang berbeda dan melihat kinerja bahasa Common Lisp pada program optimasi. Selanjutnya, hasilnya dibandingkan dengan program referensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kompleks suatu fungsi maka jumlah iterasi yang dibutuhkan lebih besar untuk memperoleh hasil yang lebih akurat. Program Common Lisp diperoleh 4-6 kali lebih cepat dari program di MATLAB.
Keywords
Optimasi RTPS, simulated annealing, Common Lisp
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Adita Sutresno
Institutions
Fisika, Institut Teknologi Bandung
Abstract
Tubuh manusia terdiri dari banyak sel saraf yang mana mempunyai kemampuan untuk menghantarkan signal dan kemampuan mendapat dan menanggapi rangsangan dengan baik. Secara garis besar neuron tunggal terdiri dari tiga bagian dasar yaitu tubuh sel, dendritik, dan akson. Terminal akson dimana sinyal terhubung dari satu sel ke sel lainnya disebut sebagai sinaps (Synape). Untuk melihat pengaruh jumlah channel terhadap jumlah ion Ca2+ yang diteruskan ke dalam pre-sinaps maka dibuat variasi terhadap luasan membrane dan jumlah molekul yang lekat pada membrane sebagai katalis terhadap ion Ca2+ ketika bersentuhan dengan membrane dan akhirnya masuk ke dalam pre-sinaps. Dengan memvariasikan luasan membrane dan jumlah ion Ca2+ diharapkan dapat mengetahui hubungan dari variasi tersebut terhadap kerapatan membrane yang dilewati ion Ca2+ untuk mengetahui kecepatan difusi dalam pre-sinaps dengan metode monte carlo. Dari simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa perbandingan antara luasan membrane dengan jumlah molekul pada membran memberikan gambaran kerapatan pada membran yang berpenaruh pada kecepatan difusi molekul pada pre-sinaps.
Keywords
Sinaps, Ca channel, Difusi, Monte Carlo
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Yuni Warty
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Urolithiasis adalah penyakit yang umum ditemukan di bidang urology. Penyakit ini terjadi karena adanya pembentukan batu atau kristalisasi zat berupa garam, urea, oksalat, potassium, dan magnesium pada ginjal atau ureter. Mekanisme terbentuknya batu tersebut belum dapat diketahui secara pasti sehingga analisis pada struktur kristal, senyawa kimia, dan morfologi sangat diperlukan. Karakterisasi struktur dan morfologi batu ginjal dapat digunakan X-ray diffraction (XRD), Fourier transform (FT)-IR, FT-Raman, scanning electron microscopy (SEM), energy dispersive X-ray (EDX), dan thermogravimetric analysis (TGA). Sesuai dengan spesifikasi masing masing alat tersebut, beberapa batu ginjal yang telah dikarakterisasi adalah kalsium oksalat monohidrat (CaC2O4�H2O), kalsium oksalat dehidrat (CaC2O4�2H2O), kalsium pospat atau apatite {Ca10(PO4,CO3)6(OH,CO3)}, kalsium hidrogen pospat dehidrat atau brushite (CaHPO4�2H2O), magnesium amonium pospat hexahidrat atau struvite (MgNH4 PO4�H2O) and uric acid (C5H4N4O3).
Keywords
Spektroskopi Infrared, Batu Ginjal
Topic
Lain-lain
Corresponding Author
Nurlaida Ida
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
ABSTRAK Senyawa organohalogen telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti industri, pertanian, dan farmasi. Namun dibalik pemanfaatannya yang begitu meluas, jenis senyawa ini memiliki karakteristik negatif yaitu beracun dan tidak mudah terurai yang mengakibatkan penumpukan senyawa tersebut di lingkungan sebagai polutan. Berbagai jenis mikroorganisme telah diketahui memiliki kemampuan untuk mengurai senyawa organohalogen dan mengubahnya menjadi senyawa yang tidak beracun dan aman bagi lingkungan. Kemampuan berbagai mikroorganisme dalam mendegradasi organohalogen dikarenakan mikroorganisme tersebut dapat menghasilkan suatu enzim yang dinamakan dehalogenase. Dehalogenase merupakan enzim yang mengkatalisis pemutusan ikatan antara atom halogen dari senyawa induknya. Penelitian sebelumnya telah memberikan data bahwa Pseudomonas aeruginosa strain lokal dari Indonesia memiliki kemampuan dalam mendegradasi asam monokloroasetat. Gen tersebut dinamakan paed-d dan memiliki ukuran sebesar 702 bp. Gen paed-d telah berhasil diklon ke vektor pGEM-T dalam sel inang E. coli TOP10. Penelitian ini difokuskan pada tahap subkloning gen paed-d ke vektor ekspresi pET-30a(+) dalam E. coli BL21 (DE3). Primer maju dengan sisi pengenalan restriksi EcoRI, GAATTC, dengan ururtan lengkap adalah 5�-GAATTCATGCGCGCGATCCTGTTCGA-3�, dan primer mundur dengan sisi pengenalan restriksi HindIII, AAGCTT, dengan ururtan lengkap adalah 5�-AAGCTTTCAGGCCGAGGCCGCCAGTT-3�. Kedua primer ini digunakan pada proses PCR untuk menghasilkan fragmen yang akan disubklon dengan orientasi ekspresi yang benar. Amplikon yang diperoleh diklon ke pGEM-T, ditransformasi ke E. coli TOP10, dikonfirmasi melalui rePCR dan anlisis restriksi, disubklon ke pET-30a(+), dan ditransformasi ke E. coli BL21 (DE3). Re-PCR dari plasmid rekombinan pET-30a(+)/paed-d telah berhasil memberikan amplikon berukuran ~750 bp dan dikonfirmasi melalui analisis restriksi. Amplikon ini telah berhasil disubklon ke vektor ekspresi pET-30a(+) dalam E. coli BL21 (DE3). Hasil penjajaran antara gen paed-d hasil subkloning dengan gen paed-d penelitian sebelumnya menunjukkan kesamaan 100%.
Keywords
haloacid dehalogenase, PCR, Pseudomonas aeruginosa, subkloning
Topic
Lain-lain
Page 2 (data 31 to 40 of 40) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats