Page 4 (data 91 to 120 of 248) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Rani Alfiah
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Fisika sebagai salah satu ranah sains berisi pengetahuan, proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran fisika diperoleh melalui rangkaian observasi dan penyelidikan berbasis penemuan atau inkuiri. Inkuiri terbimbing sebagai salah satu pembelajaran inkuiri memberikan peran pada guru untuk mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang mampu merangsang siswa menemukan alternatif solusi. Pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan pengalaman secara langsung pada siswa dalam menemukan dan membuktikan suatu teori. Implementasi suatu model pembelajaran memerlukan bahan ajar sebagai penunjang aktivitas pembelajaran. Bahan ajar memberikan dukungan yang positif bagi guru ketika memberikan dan mengarahkan proses pembelajaran. Fisika tidak hanya berkaitan dengan teori yang bersifat nyata namun juga abstrak yang akan lebih optimal ketika disampaikan melalui pembelajaran inkuiri terbimbing menggunakan bahan ajar berbantuan komputer. Bahan ajar menggunakan multimodus visualisasi adalah salah satu alternatif bahan ajar yang mengembangkan berbagai pencitraan visual dengan dukungan komputer dalam kegiatan pembelajaran, baik melalui representasi gambar, video, laboratorium virtual atau animasi. Keunggulan bahan ajar ini (1) menyediakan siswa untuk belajar dengan cepat, (2) memfasilitasi pembelajaran, dan (3) memberikan harapan untuk mengulang isi pembelajaran di luar sekolah. Sehingga kemampuan memahami yang merupakan kemampuan prasyarat dalam mencapai tujuan pembelajaran fisika menuju jenjang koognitif selanjutnya dapat tercapai.
Keywords
pembelajaran, inkuiri terbimbing, bahan ajar multimodus visualisasi, kemampuan memahami
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Dede Trie Kurniawan
Institutions
1Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unswagati Cirebon
dhe3kurniawan[at]gmail.com atau dedetriekurniawan[at]fkip-unswagati.ac.id
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan penguasaan konsep mekanika melalui pembelajaran berbantuan praktikum virtual pada mahasiswa calon guru matematika. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan rancangan penelitian �control group pretest-posttest design�. Penelitian ini dilaksanakan pada pokok bahasan kinematika dan dinamika untuk mahasiswa calon guru matematika tingkat I disuatu LPTK swasta kota cirebon tahun ajaran 2015/2016. Subyek penelitian terdiri dari dua kelas dengan jumlah sampel masing-masing sebanyak 23 mahasiswa calon guru matematika. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data penguasaan konsep dengan indikator tingkatan berpikir menurut bloom dari C1 sampai C4. Uji hipotesis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji t pada N-gain penguasaan konsep setelah dilakukan pembelajaran menggunakan praktikum virtual. Hasil analisis data menunjukkan N-gain penguasaan konsep sebesar 0,31 (sedang). Indikator Tingkat berpikir yang tinggi berada di C2 (pemahaman) dengan N Gain sebesai 0.33 sedangkan Terendah berada di C4 (analisis) dengan N Gain sebesar 0.14. Dari analisis ini maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis praktikum virtual bagi mahasiswa calon guru matematika secara signifikan dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa calon guru matematika. Disamping itu pada umumnya, mahasiswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran menggunakan praktikum virtual.
Keywords
Mekanika, Praktikum virtual, penguasaan konsep, mahasiswa calon guru matematika
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Resti Warliani
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penerapan model pembelajaran Learning Cycle 7E dengan pendekatan TBCT (Technology Based Constructivist Teaching) pada materi gelombang mekanik dalam meningkatkan kemampuan memahami siswa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode quasi eksperiment dengan desain the randomized pretest�posttest control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI MIA (matematika dan ilmu pengetahuan alam) pada salah satu SMA di kabupaten Garut dengan sampel sebanyak dua kelas yang dipilih dengan metode randomized sampling class. Dua kelas tersebut dibedakan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran Learning Cycle 7E dengan pendekatan TBCT sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pembelajaran Learning Cycle 7E dengan pendekatan CT . Instrumen yang digunakan adalah butir soal tes kemampuan memahami. Analisis data yang dilakukan dengan menghitung skor rata-rata gain yang dinormalisasi dibantu dengan SPSS Statistic 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Learning cycle 7E dengan pendekatan TBCT secara signifikan dapat lebih meningkatkan kemampuan memahami siswa daripada penerapan model pembelajaran Learning cycle 7E dengan pendekatan CT pada materi gelombang mekanik.
Keywords
Model pembelajaran learning cycle 7E, TBCT, Kemampuan memahami
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Hasby Hasby
Institutions
Mahasiswa Program Studi Magister Pengajaran Kimia ITB
*Dosen Kelompok Keahlian Kimia Fisik Program Studi Kimia ITB
Mahasiswa Program Studi Magister Kimia ITB
Abstract
Reaksi isomerisasi HOCN-HNCO merupakan reaksi yang sederhana, namun reaksi ini memiliki dua jalur reaksi. Kedua jalur reaksi tersebut adalah pergeseran 1,3-H dan dalam pergeserannya terjadi proses yang kompleks. Proses tersebut banyak mengandung informasi fundamental dari aspek struktur dan sifat elektronik, termodinamika, dan kinetika. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari reaksi isomerisasi HOCN-HNCO dilihat dari aspek struktur dan sifat elektronik, termodinamika, dan kinetika melalui studi komputasi ab initio. Hasil pembelajaran reaksi isomerisasi melalui studi komputasi ini kemudian dikembangkan kedalam bentuk modul praktikum. Modul praktikum ini menjelaskan bagaimana tahap-tahap dalam melakukan pemodelan komputasi secara ab initio, sampai dengan analisis dasar untuk mendapatkan parameter termodinamik dan kinetik untuk dibandingkan dengan eksperimen. Modul praktikum ini diharapkan dapat membantu siswa/mahasiswa mengetahui fenomena-fenomena dalam reaksi kimia, yang tidak dapat dijelaskan secara eksperimen. Studi komputasi ab initio ini menggunakan pendekatan teori DFT, fungsional B3LYP, dan basis set 6-31(d). Hasil perhitungan komputasi menunjukkan bahwa struktur HNCO (produk) lebih stabil dibandingkan dengan reaktan. Hal ini sesuai dengan nilai energi bebas Gibbs reaktan dan produk secara berturut-turut -168,611 hartree dan -168,657 hartree yang dihitung basis set B3LYP/6-31G(d). Secara termodinamika dan kinetika jalur reaksi melalui (TS1) lebih disukai dibandingkan jalur reaksi melalui TS2. Energi pengaktifan (Ea) untuk TS1 dan TS2 berturut-turut 248,746 kJ/mol dan 452,002 kJ/mol.
Keywords
isomerisasi, DFT, jalur reaksi, Ab initio
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
SRI HARYATI
Institutions
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Abstract
Telah dibuat tiga jenis kit untuk pembelajaran reaksi kimia. Kit set 1 terdiri atas 6 jenis larutan asam basa yang jernih tak berwarna. Kit set 2 terdiri atas 5 jenis larutan yang sebagian larutannya berwarna, difokuskan untuk mempelajari reaksi pengendapan dan reaksi yang menghasilkan gas. Sementara itu, kit set 3 dibuat dengan tujuan sebagai kit uji yang bahan kimianya merupakan campuran dari kit set 1 dan kit set 2. Konsentrasi semua bahan kimia yang digunakan dalam kit sekitar 0,25 M � 0,3 M. Perangkat kit yang dibuat diujikan pada siswa kelas XI SMA dengan kurun waktu satu jam. Sebagai panduan untuk pelaksanaan praktikum menggunakan kit set 1 dan set 2, telah dibuat juga Lembar Kerja Siswa (LKS). Saat melakukan eksperimen, siswa mencoba menemukan ciri khas dari produk reaksi yang merupakan petunjuk bagi siswa untuk menemukan senyawa apa yang dicampurkan. Dari hasil uji coba kit set 1 kepada 30 kelompok siswa yang tersebar di 3 kelas, didapatkan 53 % kelompok dapat menemukan semua senyawa secara sempurna dan hanya 10 % yang tidak mampu menemukan senyawa yang merupakan bahan kimia kit tersebut. Uji coba terhadap kit set 2 diterapkan pada siswa yang sudah mencoba kit set 1. Ternyata, semua kelompok siswa dapat menjawab dengan sempurna. Tetapi uji coba untuk kit set 3 di kelas yang sama dengan kit set 2, diperoleh hasil 91% kelompok siswa dapat menjawab dengan sempurna dan sisanya masing-masing hanya 2% kelompok siswa yang dapat menemukan 5, 4, 3, dan 2 senyawa dari 6 senyawa yang diberikan. Hasil angket yang dibagikan pada semua siswa menunjukkan bahwa menggunakan kit berskala kecil dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran reaksi kimia yang lebih efisien.
Keywords
Kit, Praktikum Skala-kecil, Reaksi Kimia
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Ariq Dhia Irfanudin
Institutions
1) Program Sarjana Fisika,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A.H Nasution 105, Bandung, Indonesia 40614
a) 1157030004[at]student.uinsgd.ac.id
b) dinda.ravi.algifari[at]gmail.com
c) ikhsanmnoor[at]gmail.com
2) Laboratorium Fisika Nuklir dan Biofisika,
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
d) dudung[at]fi.itb.ac.id
3) Laboratorium Sistem Modeling,
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir Teori,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung,
Jl. A.H Nasution 105, Bandung, Indonesia 40614
e)yudha[at]uinsgd.ac.id
Abstract
Telah dibuat sebuah program untuk memodelkan fenomena fisis khususnya gerak parabola yang terjun ke air sebagai bahan pembelajaran yang mudah diakses melalui browser. Besaran-besaran seperti posisi awal, kecepatan awal, massa benda dan sudut tembakan dapat diatur sendiri oleh pengguna. Untuk menghasilkan data dan ilustrasi yang mendekati kejadian sebenarnya, ditambahkan faktor gravitasi maupun hambatan udara dan air. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan metode Euler untuk mendapatkan nilai perubahan posisi setiap waktunya. Program dan perhitungan disusun dalam bahasa pemograman javascript dan library p5.js agar dapat diakses dengan mudah melalui browser. Adapun hasil akhir pemodelan ini adalah nilai posisi dan waktu yang ditunjukan dalam bentuk animasi dan grafik.
Keywords
Pemodelan; Javascript; Gerak parabola; Metode Euler
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Fahmi Ali Putra
Institutions
1) Program Sarjana Fisika,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution 105 Bandung, Indonesia, 40614
2) Laboratorium Fisika Nuklir dan Biofisika,
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
3) Laboratorium Sistem Modeling,
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir Teori,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution 105 Bandung, Indonesia, 40164
a) fahmialiputra[at]gmail.com
Abstract
Telah dibuat sebuah program untuk memodelkan fenomena fisis termodinamika tentang perubahan suhu benda akibat gesekan sebagai bahan pembelajaran yang mudah diakses melalui browser. Besaran-besaran fisis seperti kecepatan dan koefisien gesek dapat diatur oleh pengguna. Program dan perhitungan disusun menggunakan javascript. Adapun hasil akhir pemodelan ini adalah nilai suhu dan waktu yang ditunjukkan dalam bentuk grafik dan animasi.
Keywords
Pemodelan; Javascript; Termodinamika
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Ruth Helen Simarmata
Institutions
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No.10, Bandung;
ruth.helen7[at]gmail.com
Abstract
Metakognisi adalah kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri. Metakognisi memiliki dua komponen, yaitu: (1) pengetahuan metakognitif dan (2) keterampilan metakognitif. Pemecahan masalah matematika berkaitan dengan memori, dan komponen metakognisi untuk mendukung proses pemecahan masalah. Metakognisi dirancang melatih siswa untuk merancang strategi terbaik dalam memilih, mengingat, mengorganisasi informasi yang dihadapinya dalam menyelesaikan masalah. Metakognisi berperan penting mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dalam belajar dan berpikir, sehingga dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Kemampuan pemecahan masalah ini berkaitan erat dengan komponen pemahaman siswa dalam bermatematika. Tahapan pertama dalam memecahkan masalah matematika adalah memahami masalah matematika itu sendiri. Kaitan antara kemampuan pemahaman dengan pemecahan masalah yaitu, jika seseorang telah memiliki kemampuan pemahaman terhadap konsep-konsep matematika, maka ia mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah.
Keywords
Metakognisi, Pemahaman, Pemecahan masalah
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Richardo Barry Astro
Institutions
1Program Studi Magister Pengajaran Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
2Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
3Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem Kompleks,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132
a)richardobarryastro[at]gmail.com
b)fayfaridahratnaningsih[at]gmail.com
c)rina.asmarani16[at]gmail.com
d)akfiny[at]fi.itb.ac.id
e)neny[at]fi.itb.ac.id
Abstract
Pengukuran parameter gerak benda pada eksperimen pesawat Atwood umumnya dilakukan secara manual. Pengukuran jarak tempuh menggunakan mistar atau meteran sedangkan pengukuran waktu tempuh benda dengan menggunakan stopwatch. Kedua proses pengukuran ini sangat rentan akan kesalahan, baik kesalahan dari faktor alat ukur ataupun kesalahan pada waktu pengambilan data. Salah satu solusi untuk mengurangi kesalahan pengukuran adalah dengan menggunakan aplikasi †Trackerâ€.†Tracker†merupakan perangkat lunak untuk menganalisis gerak benda melalui video. Selanjutnya dengan aplikasi†Trackerâ€, video dipecah menjadi kumpulan â€frame†sehingga dihasilkan parameter pengukuran yang lebih akurat. Data yang diperoleh dari eksperimen pesawat Atwood ini kemudian digunakan untuk menentukan momen inersia katrol yang digunakan. Momen inersia katrol yang diperoleh dari eksperimen pesawat Atwood dengan metode video tracking ini memberikan hasil sebesar 10,854 x10-5 kg.m2.
Keywords
Pesawat Atwood, â€Video Trackerâ€, Momen inersia katrol
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Fahyuddin Fahyuddin
Institutions
Universitas Halu Oleo
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas inkuiri terstruktur dan inkuiri terbimbing dalam pengembangan pemahaman konsep dan penalaran siswa pada materi stoikiometri (bersifat kuantitatif) dan struktur atom (bersifat konseptual). Sampel penelitian ini terdiri dari 78 siswa kelas XI sekolah menengah atas yang terstribusi pada dua kelas. Salah satu kelas mendapatkan pembelajaran menggunakan inkuiri terstruktur dan satu kelas lainnya dengan inkuiri terbimbing. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa pada materi stoikiometri lebih baik pada kelas pembelajaran inkuiri terstruktur dibandingkankan dengan pembelajaran inkuiri terbimbing. Pada materi kimia yang bersifat konseptual (struktur atom), tidak ada perbedaan pemahaman konsep siswa dari hasil pembelajaran kedua level inkuiri. Siswa dengan pengalaman yang relatif kurang pada proses inkuiri membutuhkan bimbangan secara terstruktur untuk dapat memahami dengan baik materi stoikimetri. Hasil analisis penalaran siswa menunjukkan bahwa penerapan level inkuiri terbimbing lebih baik dalam mengembangkan penalaran pengendalian variabel siswa dibandingkan dengan inkuiri terstruktur. Akan tetapi, pada pengembangan penalaran proporsional dan korelasional siswa tidak memberikan perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa penerapan berbagai level inkuiri pada pembelajaran kimia harus disesuaikan dengan karekateristik materi dan pengalaman inkuiri siswa
Keywords
Level inkuiri, pemahaman konsep, penalaran, kimia kuantitatif, kimia konseptual
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Azis Mutaqin
Institutions
Program Studi Pendidikan Fisika
Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Pendidikan Indonesaia
Abstract
Untuk menumbuhkembangkan keterampilan berpikir kreatif, dibutuhkan penerapan model pembelajaran yang mengonstruksi cara berpikir. Pendekatan pembelajaran berbasis project mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam menemukan konsep dan prinsip, memiliki pengalaman dan melakukan percobaan, menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah, mengomunikasikan, dan melatih keterampilan proses sainsnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains (KPS), dan keterampilan berpikir Creative Problem Solving siswa setelah diberi pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) yang disisipkan pada model pembelajaran berbasis project (PjBL). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI pada salah satu SMA Negeri di Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan berupa metode quasi experiment dengan randomized control group pretest-posttest design. Kelas eksperimen memperoleh perlakuan pembelajaran CPS yang disisipkan pada model PjBL, sedangkan kelas kontrol memperoleh perlakuan pembelajaran PjBL tanpa CPS. Dari hasil perhitungan rata-rata N-gain yang dinormalisasi, diperoleh N-gain keterampilan proses sains untuk kelas eksperimen 0,69 dan kelas kontrol 0,35; dan N-gain keterampilan berpikir creative problem solving untuk kelas eksperimen 0,73 dan kelas kontrol 0,39. Berdasarkan hasil uji perbedaan rata-rata N-gain kelas eksperimen dan kelas kontrol, didapatkan bahwa pembelajaran CPS yang disisip pada model PjBL, secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains, dan keterampilan berpikir kreatif problem solving, dibandingkan dengan pembelajaran PjBL tanpa CPS. Berdasarkan angket, hampir seluruh siswa menyatakan bahwa pembelajaran CPS yang disisipkan pada model PJBL sangat membantu dalam memperbaiki cara berpikir, sehingga siswa merasa lebih mudah dalam mengusai konsep dan prinsip, bekerja dan bersikap ilmiah, mengembangkan keterampilan, dan creative problem solving mereka.
Keywords
KPS; CPS; PjBL
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Dewi Ranti
Institutions
SMK Negeri 5 Kota Bekasi
Abstract
Setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang unik. Mengenali gaya belajar peserta didik adalah modal dari suksesnya sebuah pembelajaran di kelas. Pada kajian bidang psikologi, dikenal 3 gaya belajar, yaitu kinestetik, audio dan visual. Dengan mengenali gaya belajar, guru diharapkan bisa memaksimalkan potensi siswa. Differentiated Instruction Approach (DI) adalah sebuah pendekatan dalam proses belajar yang menggunakan faktor gaya belajar sebagai bagian terpenting dari prosesnya. Selain gaya belajar, ada dua karakteristik lain yang dijadikan acuan, yaitu kesiapan dan minat peserta didik. Kesiapan diartikan sebagai refleksi kondisi pengetahuan dan pemahaman peserta didik, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk rencana pembelajaran berikutnya. Minat dapat diartikan sebagai sebuah proses belajar, berpikir dan mencoba yang sangat dinikmati oleh peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran, DI memfasilitasi guru dengan Open Question dan Paralel Tasking sebagai strategi utama dalam mengenali karakter dan kebutuhan peserta didik pada tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Dengan demikian, DI sangat berkaitan erat dengan pola pikir peserta didik. Dalam pembelajaran sudut antar dua vektor, strategi pembelajaran yang digunakan adalah open question. Dengan open question, peserta didik diharapkan dapat mencoba semua cara sehingga variasi jawaban sangat dimungkinkan.
Keywords
Differentiated Instruction Approach, Open Questions, Paralel Tasking, Vektor
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
naim naim
Institutions
institut teknologi bandung
Abstract
Konsep pusat massa yang ada dalam ilmu fisika bisa diselesaikan dengan menggunakan integral. Secara sederhana pusat massa suatu benda yang memiliki sumbu simetri maka pusat massanya akan terletak di pusat simetrinya. Hal ini terbukti dengan menyelesaikan menggunakan integral. Dengan menggunakan integral pusat massa bola terletak di pusat jari-jarinya begitu juga kubus terletak pada seperdua panjang sisi-sisinya. Boneka pusat massa merupakan suatu benda yang memiliki bentuk yang sembarang namun bila di teliti makan boneka ini terdiri dari beberapa bentuk yang teratur yang tersusun secara teratur. Untuk mengatur boneka pusat massa ini agar bisa tetap berdiri dengan sendirinya walaupun di baringkan makan diatur agar pusat massa boneka ini terletak di bagian bawah. Kalkulus merupakan alat perhitungan yang digunakan dalam memecahkan masalah-masalah fisika. Dalam memecahkan masalah fisika ini selain mengerti rumus-rumus yang digunakan juga harus mengerti penerapan konsep fisika dalam rumus dan proses operasinya. Pemecahan masalah dalam fisika akan lebih mudah bila dibuatkan model atau praktikum sederhana.
Keywords
Kalkulus, Integral, Fisika, Pusat massa
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Mochammad Irfan Noviana
Institutions
SEKOLAH PASCASARJANA - UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Dunia telah mengalami banyak perubahan pada berbagai aspek. Siswa di abad ke-21 harus memiliki seperangkat keterampilan, salah satunya keterampilan belajar abad ke-21 4C�s (Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration), yang berbeda bila dibandingkan dengan siswa pada abad sebelumnya. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA-Fisika masih dilaksanakan secara direct instruction dan kurang kontekstual. Hasil studi pendahuluan dengan tes tertulis uraian yang mengukur kemampuan Critical Thinking dan Creativity pada siswa pun masih rendah. Model pembelajaran Levels Of Inquiry dapat dijadikan solusi untuk meningkatkan keterampilan abad ke-21 4C�s pada siswa yang masih kurang dalam pengalaman kerja ilmiah di laboratorium. Penelitian quasi experiment dengan menggunakan One group Pretest-Postest Design dilakukan di kelas VII pada salah satu SMP Swasta di kota Bandung untuk mengetahui peningkatan keterampilan 4C�s siswa setelah penerapan Levels Of Inquiry pada topik Kalor dan Perpindahan Kalor dengan asesmen berupa soal uraian untuk keterampilan Critical Thinking dan Creativity serta rubrik dan portofolio untuk keterampilan Collaboration dan Communication. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut mampu meningkatkan keterampilan Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration secara signifikan dengan rata-rata gain ternormalisasi berturut-turut yaitu 0.62, 0.45, 0.65, dan 0.68 yang berarti terjadi peningkatan berkategori sedang pada empat keterampilan tersebut.
Keywords
Keterampilan Abad ke-21, Keterampilan 4C�s, Levels Of Inquiry
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
NURYAKIN -
Institutions
Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pedidikan Indonesia (UPI)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran peningkatkan keterampilan proses sains siswa SMP melalui penerapan model discovery learning bermuatan reading insfusion dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain tes awal-tes akhir kelompok kontrol (the pretest-postest control group designs). Subyek penelitian terdiri atas 55 siswa kelas depalan SMP Negeri di Kabupaten Tasikmalaya yang terbagi ke dalam dua kelas yaitu kelas eksperimen sebanyak 28 siswa dan kelas kontrol sebnayak 27 siswa. Keterampilan proses sains diukur dengan menggunakan tes keterampilan proses sains dalam bentuk soal pilihan ganda. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS16.0 for Windows. Rata-rata N-Gain kedua kelompok dalam kategori sedang untuk kelas eksperimen (0,6) dan kelompok kontrol (0,46). Hasil uji perbedaan rata-rata N-Gain menunjukan bahwa terdapat perbedaan signifikans antara kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning bermuatan reading insfusion lebih dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMP dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Keywords
discovery learning, reading infusion, pembelajaran IPA, keterampilan proses sains.
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Silvia Frisca Hartini
Institutions
Universitas Pemdidikan Indonesia
Abstract
Penelitian bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis dan penguasaan konsep siswa SMA setelah penerapan model inkuiri abduktif pada konsep usaha dan energi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis dan penguasaan konsep dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di sekolah yang sama dengan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasy experiment. Desain penelitian menggunakan one group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI salah satu SMA di Bandung yang diambil melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui tes keterampilan berpikir kritis dan penguasaan konsep. Data uji coba keterampilan berpikir kritis dianalisis menggunakan product moment, sedangkan data uji coba penguasaan konsep dianalisis menggunakan point biserial. Keterampilan berpikir kritis terdiri dari lima aspek yaitu inferensi, evaluasi, analisis, interpretasi, dan eksplanasi. Penguasaan konsep terdiri dari tiga indikator yaitu mengingat, pemahaman,dan analisis. Dari hasil analisis data, diperoleh nilai gain yang sudah ternormalisasi. Nilai gain yang sudah ternormalisasi untuk keterampilan berpikir kritis secara keseluruhan adalah 0,59, termasuk kedalam kategori sedang. Sedangkan, nilai gain yang sudah ternormalisasi untuk penguasaan konsep secara keseluruhan adalah 0,35, termasuk kedalam kategori sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model inkuri abduktif dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan penguasaan konsep siswa.
Keywords
Inkuiri Abduktif, Berpikir Kritis, Penguasaan Konsep
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Rivan Sudiarta
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Setiabudhi no. No. 229, Isola, Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154
Abstract
Kemampuan berpikir analisis merupakan kemampuan yang perlu dilatihkan dalam pembelajaran fisika. Namun hasil observasi menunjukkan kemampuan ini masih belum secara optimal dibekalkan dalam pembelajaran. Penelitian bertujuan menemukan cara melatihkan kemampuan berpikir analisis melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada topik pemanasan global ini menggunakan Quasi Experiment. Desain penelitian yang diterapkan adalah one-group pre-test post-test. Populasi yang dipilih adalah salah satu SMA Negeri di Kota Cimahi dengan purposive sampel 31 siswa. Instrumen penelitian berupa 7 butir soal essay kemampuan berpikir analisis dengan validitas 0.6 dan reliabilitas 0.6 Hasil penelitian melalui analisis jawaban siswa menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir analisis secara umum dengan nilai gain ternormalisasi berkategori sedang. Peningkatan aspek kemampuan berpikir analisis didapatkan nilai gain ternormalisasi berkategori sedang pada aspek differentiating (
Keywords
model pembelajaran berbasis masalah, kemampuan berpikir analisis, pemanasan global
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Isti Fuji Lestari
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa SMA melalui model pembelajaran berbasis pengalaman dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) pada materi fluida statis. Jenis penelitian ini adalah pre eksperimen dengan desain one shoot pretest posttest group. Teknik pengambilan sampel penelitian ini dengan cara mengambil satu kelas secara acak (random class) pada tingkat kelas XI Ilmu Alam di salah satu SMA Negeri di kabupaten Garut. Data keterampilan berpikir kritis siswa diperoleh dari hasil tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) keterampilan berpikir kritis yang berupa soal uraian. Hasil penelitian yang diperoleh setelah penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan pendekatan STEM yaitu peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa berdasarkan nilai N-Gain sebesar 0,60 dengan kategori sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan pendekatan STEM dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMA pada materi fluida statis.
Keywords
Model Pembelajaran Berbasis Pengalaman, Pendekatan STEM, Keterampilan Berpikir Kritis, Fluida Statis
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Yanuar Asmara
Institutions
(a) Program Pendidikan Fisika, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia, 40154
*yanuar.asmara[at]gmail.com
(b) Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia, 40154
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari implementasi model pembelajaran FERA dengan pendekatan SWH terhadap peningkatan kemampuan memahami konsep siswa. Penelitian ini dimotivasi oleh pentingnya kemampuan memahami konsep siswa. Salah satu cara untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan konsep adalah dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan alasan mereka. Template SWH untuk siswa terdiri dari: (1) ide awal; (2) tes; (3) pengamatan; (4) klaim; (5) bukti; (6) membaca; dan (7) refleksi. Metode yang digunakan adalah quasy-experiment dengan kelas eksperimen dan kontrol. Instrumen yang digunakan termasuk tes kemampuan memahami konsep dan lembar observasi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X sains sekolah menengah atas dan ditentukan dengan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model FERA dengan pendekatan SWH berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan memahami konsep siswa.
Keywords
Model Focus Explore Reflect and Apply (FERA), Pendekatan Scientific Writing Heuristic (SWH), Kemampuan Memahami Konsep.
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Maulana Achmad
Institutions
a) Program Studi Magister Pendidikan Fisika Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Setiabudi No.229 Bandung
*m.achmad86[at]gmail.com
b) Departemen Pendidikan Fisika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Setiabudi No.229 Bandung
Abstract
Telah dilakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran levels of inquiry pada materi fluida statis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang peningkatan literasi sains siswa SMA sebagai efek dari penerapan model pembelajaran levels of inquiry pada materi fluida statis. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Purwakarta dengan metode eksperimen semu dan desain non-randomized pretest-postest control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas X yang terdiri dari dua kelas dengan jumlah 60 orang siswa yang dibagi kedalam kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing jumlahnya 30 orang. Kelas eksperimen mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran dengan model levels of inquiry, sedangkan kelas kontrol mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran dengan model demonstrasi interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model levels of inquiry lebih tinggi disbanding kemampuan literasi sains siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model demonstrasi interaktif pada semua aspek yang mencakup aspek kompetensi, aspek konteks dan aspek pengetahuan.
Keywords
Literasi Sains, Model Pembelajaran Levels of Inquiry, dan Pembelajaran Demonstrasi Interaktif
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
meity farida hz
Institutions
SMA Negeri 23 Bandung
Abstract
Setelah mengadakan penelitian tindakan kelas sebanyak 2 (dua) siklus, barulah para siswa memahami penentuan letak titik berat suatu benda dari berbagai bentuk.Dengan menggunakan metode eksperimen para siswa lebih memahami penentuan letak titik berat suatu benda, karena para siswa berulang kali menggantungkan suatu benda dengan posisi benda dalam keseimbangan stabil, dengan cara merentangkan benang dan sebuah bandul,Kita dapat menarik garis berat, sebanyak minimal 3 buah titik berat AA; BB dan CC, jika percobaan yang dilakukan benar dan tepat, maka kita akan mendapatkan perpotongan garis-garis berat dalam satu titik yang dinamakan titik berat.lalu dengan memotong salah satu garis berat,dan mengulangi kegiatan awal yaitu penentuan 3 garis berat, hingga perpotongan ketiga garis berat dari 2 potongan kertas yang identik ukuran massanya.Dari problem letak titik berat, kita bisa mengaplikasikan letak titik berat berbagai benda, baik secara persamaan, maupun dengan experience.Dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning, didapatkan hasil akhir siswa dari kompetensi dasar ini , nilai yang memuaskan.
Keywords
garis-garis berat, titik berat, keseimbangan stabil, titik berat, problem based learning
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
AAY SUSILAWATI
Institutions
Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
*email : aaysusilawati[at]gmail.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbantuan mind map dalam pembelajaran IPA dengan tema sampah dan penanggulangannya dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa. Metode penelitian yang dipilih adalah quasi eksperimen dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII sebanyak dua kelas di salah satu SMP di kabupaten Bandung. Instrumen yang digunakan adalah test penguasaan konsep dengan validitas soal antara 0,41 � 0,85 dan reliabilitas 0,90. Data dianalisis dengan menghitung gain yang dinormalisasi dan menghitung effect size. Hasil analisis data diperoleh dari gain 〈g〉 = 0,78 untuk kelas eksperimen, 〈g〉= 0,37 untuk kelas kontrol. Sedangkan effect size d=0,63. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa model PjBL berbantuan mind map pada tema sampah dan penanggulangannya efektif dengan kriteria sangat baik dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa.
Keywords
Model PjBL, mind map, penguasaan konsep, sampah dan penanggulanganya
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Amalia Nurmala
Institutions
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Abstract
Bio-baterai merupakan salah satu aplikasi Sel Volta dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajarannya harus mencakup konten, konteks, proses sains dan sikap sains. Dalam pembelajaran berkelompok, mahasiswa cenderung mengandalkan salah satu anggota kelompoknya untuk mengerjakan tugas. Oleh karena itu, diterapkan model Task Based Learning (TBL) yang berbasis tugas peran dimulai dengan pemberian masalah, hipotesis, pembagian tugas peran (perencana, pengumpul informasi, pengorganisir data, penyiap percobaan, pendesain skema, dan presenter), melakukan percobaan, presentasi dan evaluasi. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kemampuan literasi kimia mahasiswa melalui model TBL pada pembuatan bio-baterai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kelas untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Subjek penelitian terdiri dari 49 orang mahasiswa Kimia Dasar 2. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi, Lembar Kerja yang berbasis literasi kimia. Pengolahan data dilakukan dengan mengidentifikasi lembar observasi beserta tugas peran dalam Lembar Kerja dan menghitung rata-rata nilai Lembar Kerja dalam setiap indikator literasi kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata mahasiswa dalam menyelesaikan LK pada proses mengkomunikasikan yaitu 86,3. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penerapan model TBL dapat mengembangkan literasi kimia dalam proses berkomunikasi.
Keywords
Model Task Bask Learning, Pembuatan Bio-baterai, Literasi Kimia, Komunikasi
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Sari Sari
Institutions
Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah UIN SGD Bandung
Abstract
Abstrak Sistem periodik unsur merupakan konsep yang mempunyai peranan penting dalam ilmu kimia dimana di dalamnya begitu banyak lambang-lambang unsur, dengan menggunakan multimedia interaktif berupa vidieo, animasi, gambar dan kata-kata dalam sebuah proses pembelajaran yang dapat merangsang pikiran dan kemauan belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis keterampilan generik sains siswa setelah diterapkannya multimedia interaktif pada konsep sistem periodik unsur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, adapun subjek penelitian yaitu kelas X IPA-3 di SMA Negeri 1 Sukakarya Bekasi sebanyak 35 siswa. Hasilnya yang diketahui bahwa penerapan multimedia interaktif menggunakan pendekatan saintifik berlangsung baik pada setiap tahapan, dimana kemampuan tertinggi dicapai pada tahap Mengamati (Observing) yakni 83,0 dan kemampuan terendah dicapai pada tahap Mengasosiasi (Associating) yakni 70,1. Aktifivitas siswa setelah diterapkannya multimedia interaktif secara keseluruhan dikategorikan baik dengan persentase 78,40%, dan keterampilan generik sains siswa setelah diterapkannya multimedia interaktif pada konsep sistem periodik unsur memperoleh hasil yaitu pada indikator bahasa simbolik yakni 74, inferensi logika yakni 67 dan pemodelan matematik yakni 72.
Keywords
Multimedia Interaktif, Keterampilan Generik Sains, Sistem Periodik Unsur
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Zainal Hartoyo
Institutions
Program Studi Pendidikan Fisika,
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi no. 229 Bandung, Indonesia, 40154
Email: zhartoyo[at]gmail.com
Abstract
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang harus dikuasai siswa guna tercapainya standar kompetensi lulusan dan tujuan kurikulum 2013. Namun, ternyata pembelajaran fisika pada beberapa sekolah menengah atas di Kota Bandung masih belum memfasilitasi siswa untuk menguasai keterampilan proses sains. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keunggulan pembelajaran berbasis model ilmiah dibangdingkan dengan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen semu dengan desain pretest-posttest control group design yang dilaksanakan pada siswa kelas X di salah satu sekolah menengah atas di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampling kelompok (cluster sampling). Pengumpulan data menggunakan tes awal dan tes akhir untuk mengukur keterampilan proses sains siswa, skala sikap untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis model ilmiah, dan lembar observasi untuk mengamati keterlaksanaan pembelajaran. Hasil uji hipotesis menggunakan uji-t dua sampel independen menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan proses sains siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis model ilmiah secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis model ilmiah lebih unggul dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa dibandingkan dengan pembeajaran dengan model pembelajaran konvensional.
Keywords
model ilmiah, keterampilan proses sains, pembelajaran fisika, dan pembelajaran konvensional.
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Friska Marthalenta Sari Simatupang
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Pembelajaran berbasis STEM merupakan pembelajaran yang digunakan para saintis, teknolog, engineer, dan matematikawan untuk melawan kekuatan politik. Pembelajaran ini mengintegrasikan empat komponen ilmu, yaitu sains, teknologi, engineering, dan matematika. Pembelajaran STEM berfungsi sebagai sarana untuk belajar dan mengaplikasikan konten dasar dan mempraktikan komponen STEM di situasi yang sesuai dalam kehidupan (Bybee, 2013). Pembelajaran STEM menuntut siswa dapat mengkaitkan antara proses dan konsep yang ada berdasarkan keempat disiplin ilmu STEM tersebut sehingga siswa harus mengembangkan sikap ilmiahnya dan dapat menemukan sendiri pemahamannya tentang konsep yang dipelajari (Bybee, 2013). Saat pembelajaran STEM ini berlangsung, siswa diberi project based learning (PBL) untuk mendesain sebuah prototype/miniatur hasil desain mereka sendiri. Penerapan pembelajaran berbasis STEM ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan konsep siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre experiment dengan desain penelitian pre test-post test (one group pre test-post test). Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 31 orang siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, diperoleh nilai gain ternormalisasi penguasaan konsep siswa sebesar 0,2 dan rata-rata persentase keterlaksanaan pembelajaran kegiatan guru sebesar 91,89% dan siswa sebesar 87,9%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis STEM dapat mempengaruhi penguasaan konsep siswa.
Keywords
pembelajaran berbasis STEM, penguasaan konsep
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Nugro Wicokro
Institutions
SMAN 1 PLUMBON, KABUPATEN CIREBON
Abstract
ABSTRAK “Penerapan Model Pembelajaramn RME (Realistic Mathematics Education) Berbantuan LKS untuk Meningkatkan Hasi Belajar Matematika Materi Geometri Bidang Pada Siswa Kelas X MIPA 2 SMAN 1 Plumbon Tahun Pelajaran 2016/2017â€. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa masih rendah. Siswa masih enggan untuk berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran. Selain itu, nilai hasil tes formatif (hasil belajar aspek kognitif) siswa pada materi pertidaksamaan nilai mutlak masih rendah. Aktivitas dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan Penerapan Model Pembelajaramn RME (Realistic Mathematics Education) pada materi belajar berikutnya.. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 2 SMAN 1 Plumbon pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan meliputi langkah-langkah penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan penelitian, pengamatan dan refleksi. . Kegiatan pembelajaran berulang dalam 2 siklus. Untuk memperoleh data penelitian hasil belajar instrument yang digunakan adalah soal post test yang digunakan di setiap akhir siklus. Sedangkan untuk memperoleh data hasil motivasi belajar siswa instrument yang digunakan adalah lembar observasi motivasi belajar dan angket motivasi belajar siswa. Penggunaan model pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education) baru diterapkan setelah hasil pembelajaran sebelumnya yang tergolong hanya mencapai nilai rata-rata 63,80 dengan tingkat ketuntasan 21,43 %, pada materi belajar pertidaksamaan nilai multak kemudian guru penggunaan model pengajaran RME (Realistic Mathematics Education) pada materi yang berbeda yaitu geometri bidang berbantuan LKS pada siklus 1 materi pembelajaran titik dan garis dengan hasil belajar mencapai rata-rata 72,97 dan tingkat ketuntasan belajar 73,80 dan pada siklus 2 dengan materi pembelajaran sudut ,mencapai rata-rata 79,29 dengan tingkat ketuntasan 100%
Keywords
Model Pembelajaran (RME) Realistic Mathematics Education dan Geometri Bidang
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Annisa Nadia Mariska
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini merupakan pre eksperimental dengan desain one group pre-test-post-test yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran penerapan pendekatan saintifik untuk melatihkan kemampuan literasi saintifik pada domain kompetensi. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Bandung dengan sampel 1 kelas yang diambil menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian berupa tes literasi saintifik berbentuk uraian sebanyak 20 soal dan lembar observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran. Hasil analisis menggunakan gain ternormalisasi menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan literasi saintifik siswa pada domain kompetensi dalam ketegori sedang. Peningkatan aspek K1 (menjelaskan fenomena ilmiah) sebesar 0,82 dengan kategori tinggi, peningkatan aspek K2 (mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah) sebesar 0,46 dengan kategori sedang, dan peningkatan pada aspek K3 (menginterpretasikan data dan bukti ilmah) sebesar 0,15 dengan kategori rendah. Peningkatan pada setiap aspek tersebut menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran dengan penerapan pendekatan saintifik yang digunakan sudah efektif dalam melatihkan literasi saintifik dalam aspek K1 dan K2. Namun, masih kurang efektif dalam melatihkan aspek K3.
Keywords
pendekatan saintifik, literasi saintifik, tekanan
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Eris Risman Fauzan
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang peningkatan kemampuan multirepresentasi dan kemampuan pemecahan masalah fisika isomorfik siswa SMA sebagai efek dari penerapan pendekatan multirepresentasi pada pembelajaran fisika. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experimental dengan desain one group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI peminatan MIPA di salah satu SMAN di Kota Tasikmalaya yang terdiri dari 34 siswa. Kemampuan multirepresentasi siswa diukur dengan menggunakan instrumen tes kemampuan multirepresentasi. Sedangkan, Kemampuan pemecahan masalah fisika isomorfik diukur dengan menggunakan instrumen tes kemampuan pemecaham masalah fisika isomorfik. Peningkatan kemampuan multirepresentasi dan kemampuan pemecahan masalah fisika isomorfik ditentukan dengan cara menghitung skor gain ternormalisasi yang dikembangkan oleh Hake. Hasil penelitian menunjukan bahwa, skor gain ternormalisasi kemampuan multirepresentasi siswa adalah sebesar =0,3, skor ini mengartikan adanya peningkatan yang termasuk pada kategori sedang. Dan skor gain ternormalisasi kemampuan pemecahan masalah fisika isomorfik adalah sebesar = 0,5 yang juga mengartikan adanya peningkatan yang termasuk pada kategori sedang.
Keywords
pendekatan pembelajaran, multirepresentasi, pemecahan masalah, persoalan fisika isomorfik,
Topic
Pembelajaran
Corresponding Author
Devi Saidulloh
Institutions
a) Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia , 40154
*devisaidulloh[at]student.upi.edu
b)Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia , 40154
**ad[at]upi.edu
c) Departemen Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia , 40154
***amsor.fisika[at]gmail.com
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan analisis siswa yang mengikuti pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan komputer. Penelitian ini menggunakan satu kelompok sampel dengan diberi perlakuan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI). Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan desain one-group pretest-posttest design. Hasil peningkatan kemampuan analisis menunjukkan nilai
Keywords
Kemampuan Analisis, Computer Assisted Instruction (CAI), Problem Based Learning (PBL), Global Warming
Topic
Pembelajaran
Page 4 (data 91 to 120 of 248) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats