Page 7 (data 181 to 210 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Siti Nurdianti Muhajir
Institutions
a) Program Magister Pendidikan Fisika Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi, no 229 Bandung 40154, Indonesia
*sitinurdiantimuhajir[at]student.upi.edu
Abstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil keterampilan berinkuiri siswa kelas X di MA Al-Inayah dengan bantuan media tracker dan bidang miring pada mata pelajaran fisika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain one shoot case study. Subyek penelitiannya adalah 22 siswa kelas X MA Al-Inayah Bandung Tahun Pelajaran 2016/2017. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa lembar kegiatan siswa yang didalamnya berisi pertanyaan pendahuluan yang di sesuaikan dengan indikator keterampilan inkuiri. Hasil penelitian menunjukan 83,64% siswa dapat merumuskan tujuan, 83,64% siswa dapat merumuskan alat bahan, 78,2% siswa dapat merumuskan prosedur percobaan, 76,4% siswa dapat membuat tabel pengamatan yang sesuai, 76,4% siswa dapat mengolah dan menghitung data dengan benar, 94,6% siswa dapat menyimpulkan.
Keywords
Inquiry skills; Media Bidang miring
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
A. F. C. Wijaya
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika
FPMIPA UPI
Abstract
Memahami kesulitan belajar siswa memiliki andil yang cukup signifikan dalam kondisi kemampuan guru mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang belum maksimal. HLT adalah suatu bentuk lintasan belajar yang dipersiapkan guru dengan didasari atas pemikiran untuk memilih desain pembelajaran khusus, dengan demikian hasil belajar terbaik akan lebih mungkin dapat dicapai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengenali kemampuan menganalisis respon siswa melalui HLT yang disediakan guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajarannya sebagai bentuk instrumen pembelajaran dan pengembangan beragam kemampuan siswa. Penelitian deskriptif kualitatif dipilih dalam mengumpulkan, mengolah, menginterpretasikan, dan merepresentasikan data yang digali dari sampel penelitian calon-calon guru fisika di tingkat sekolah menengah. Dalam proses pengolahannya, data diolah melalui dua jenis analisis, yaitu: analisis kualitatif respon siswa dalam proses pembelajaran berdasarkan prediksi respon yang telah disediakan, dan analisis skor tes beragam kemampuan siswa baik selama maupun setelah proses pembelajaran berlangsung sebagai hasil pengembangan kemampuan siswa yang terjadi. Hasil yang diperoleh menunjukan proses pembelajaran fisika yang disusun berorientasi HLT telah dapat mendorong calon guru dapat menyajikan pembelajaran yang efektif bagi siswa yang mengalami masalah belajar di kelas menurut kriteria Heward. Sedangkan dalam capaian pembelajaran berdasarkan kemampuan belajar siswa yang diperoleh menunjukan kemampuan siswa berkembang secara umum dalam kategori baik, dimana keterampilan proses sains yang berkembang diatas kategori cukup terampil dan aktivitas siswa yang berada pada kategori baik.
Keywords
Hypothetical Learning Trajectory (HLT), Kemampuan Siswa, Kriteria Heward
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Sapto Hermawan
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika,
Program Studi Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia, 40154
a) sapto.hermawan[at]student.upi.edu (corresponding author)
b) psinaga[at]upi.edu
c) hikmat[at]upi.edu
Abstract
Representasi Eksternal merupakan sebuah teknik pembelajaran yang diterapkan ketika menyampaikan pokok materi ajar kepada peserta didik dengan menggunakan berbagai modus representasi. Modus representasi tersebut terdiri dari, representasi verbal, gambar, diagram, grafik, dan matematis. Penggunaanya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan indikator capaian, serta berpedoman pada kompetensi dasar materi Hukum Newton tentang gerak. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk melatih dan meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik pada ranah C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (menerapkan), dan C4 (menganalisis) dalam pembelajaran Fisika. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperiment dengan desain non equivalent control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X di salah satu SMA kabupaten Bandung Barat sebanyak 30 siswa kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol. Pengukuran kemampuan kognitif menggunakan intrumen pilihan ganda pada pre-test dan post-test. Analisis untuk melihat peningkatan kemampuan kognitif peserta didik menggunakan analisis gain ternormalisasi. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa peserta didik kelas eksperimen telah mengalami peningkatan dalam kategori sedang dengan nilai
Keywords
Kata-kata kunci: Profil kemampuan kognitif, teknik representasi eksternal, hukum newton gerak lurus
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Sapto Hermawan
Institutions
1Guru Mata Pelajaran Fisika, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cisarua Bandung Barat,
Jl. Kolonel Masturi No. 64 Cisarua, Bandung Barat, Indonesia, 40551
2Departemen Pendidikan Fisika,
Prodi Pendidikan Fisika,
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Indonesia, 40154
a) nina.margalena[at]yahoo.co.id (corresponding author)
b) sapto.hermawan[at]student.upi.edu (corresponding author)
Abstract
Pembelajaran menggunakan Multiple External Representation adalah sebuah teknik pembelajaran yang meyampaikan pokok materi kepada siswa/i menggunakan berbagai jenis representasi. Representasi tersebut terdiri dari Representasi Verbal, representai gambar, representasi audio/visual, dan representasi matematis. Digunakanya berbagai representasi tersebut ditujukan supaya siswa/i bisa lebih memahami pokok materi yang disampaikan dengan kebebasan memilih untuk mereka, dari representasi yang mana bisa membuat mereka lebih cepat mengerti dan dicobakan kembali dalam pengerjaan latihan-latihan soal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kemampuan pemecahan masalah siswa SMA setelah dilakukan pembelajaran Fisika menggunakan Multiple External Representation pada materi Fluida Dinamik. Metode penelitian yang diterapkan adalah Pre-Experimental dengan desain One-Shot Case Study. Penilitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Maret dengan subjek penelitian siswa kelas XI SMA berjumlah 35 siswa. Berdasarkan hasil penelitian dari setiap siklus diperoleh nilai mean siklus 1 = 59,47; nilai mean siklus 2 = 80,48; dan nilai mean siklus 3 = 89.46 dari nilai kemampuan pemecahan masalah materi Fluida Dinamik. Nilai ini dijabarkan kedalam kategori kemampuan pemacahan masalah menurut Rosengrant-ways yakni, missing, Inadequate, Needs Some Improvement dan Adequate. Hasil data ini dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif persentase.
Keywords
Multiple External Representation, Profil Kemampuan Pemecahan Masalah, fluida Dinamik
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
IRPAN MAULANA
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Abstract
Konsistensi konsepsi merupakan keajegan siswa dalam menggunakan konsepsi yang benar dalam memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan atau persoalan yang memuat konsep yang sama. Konsistensi konsepsi ini sangat penting karena dapat menggambarkan seberapa kuat dan mendalam pemahaman siswa akan suatu konsep. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat konsistensi konsepsi siswa pada materi tekanan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Instrumen tes yang digunakan berupa tes objektif dalam bentuk pilihan ganda yang sebelumnya telah mengalami tahapan validasi (judgement expert) dan ujicoba. Terdapat 32 butir soal yang mengukur sepuluh konsep yang termuat dalam materi tekanan. Siswa dapat dianggap konsisten apabila mampu menjawab secara benar tiga atau lebih pertanyaan yang menguji konsep yang sama, sekalipun disajikan dalam konteks yang berbeda. Subjek penelitian terdiri dari 44 orang siswa kelas 8 salah satu SMP Negeri di Kabupaten Tasikmalaya yang sudah pernah mempelajari konsep tekanan. Berdasarkan tes konsistensi konsepsi yang dilakukan, diperoleh gambaran bahwa mayoritas siswa (57%) berada pada level tidak konsisten.
Keywords
Konsistensi konsepsi, Tekanan
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Sari Sobandi
Institutions
Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Abstract
Penelitian ini mengkaji profil laboratorium Madrasah Aliyah dan Sekolah Menegah Atas di Jawa Barat. Dengan permasalahan dalam penelitian ini bagaimana keberadaan laboratorium kimia yang ada di Madrasah Aliyah dan Sekolah Menegah Atas Di Jawa Barat, bagaimanakah pengetahuan alat dan bahan pada Madrasah Aliyah dan Sekolah menegah Atas Di Jawa Barat dan bagaimanakah keselamatan kerja Di laboratorium Madrasah Aliyah dan Sekolah menegah Atas Di jawa barat. Untuk memecahkan permasalahan tersebut digunakan metode penelitian deskriptif. Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia. Standar jumlah peralatan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan perpeserta didik. Laboratorium harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas, sebagus dan selengkap apapun suatu laboratorium tidak akan berarti apa-apa bila tidak ditunjang oleh manajemen yang baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan keberadaan laboratorium untuk tingkat SMA sudah cukup memadai karena rata-rata sekolah sudah memiliki laboratorium kimia 73,79%. Berbeda halnya dengan tingkat MA belum cukup memadai karena rata-rata MA memiliki laboratorium kimia 57,17%. Pengetahuan bahan kimia untuk SMA dan MA rata-rata mencapai 47,5% dan 46,1%. SMA dan MA memiliki rak zat padat 60% dan 62,5%, rak zat cair rata-rata untuk SMA dan MA sudah maksimal mencapai 75% dan 70%. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan hal yang penting pada waktu melakukan kegiatan di laboratorium. Sebagian SMA telah tersedia saluran pembuangan limbah praktek sebesar 52%, sedangkan di MA rata-rata 32%. Tidak terdapatnya tempat pengolahan limbah praktek, baik di SMA maupun MA. SMA yang memiliki alat pemadam kebakaran rata-rata 30% dan MA 25%.
Keywords
Profil laboratorium, Jawa Barat
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Dede Trie Kurniawan
Institutions
Program Studi Pendidikan IPA SPs UPI Bandung
Abstract
Pada makalah ini dipaparkan bagaimana seharusnya perkuliahan fisika dasar diberikan untuk calon guru matematika dalam upaya pemenuhan kompetensi literasi matematikanya. Perkuliahan fisika untuk calon guru matematika selama ini lebih banyak dipandang sebagai bentuk pengetahuan daripada sebagai bentuk cara berpikir atau cara menyelidiki dalam pengasahan literasi matematika. Hal inilah yang menyebabkan hasil perkuliahan fisika belum menunjukan kebermanfatan yang signifikan terhadap kompetensi calon guru matematika. Salah satu kompetensi yang dimiliki calon guru matematika adalah kemampuan proses berpikir matematik. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan pencapaian salah satu keterampilan proses berpikir matematik yaitu representasi grafik dan matematik. Adapun yang menjadi indikator kemampuan representasi grafik matematik ini adalah membuat konjektur, interpretasi grafik, konstruksi grafik, solusi masalah, Konstruksi model matematis, representasi grafik dan ekstrapolasi grafik. Penelitian dilakukan di Salah satu Program Studi Pendidikan Matematika LPTK Swasta Kota Cirebon. Subjek Penelitian ini adalah tujuh puluh mahasiswa tingkat I yang mengambil perkuliahan Fisika dasar tahun ajaran 2016/2017. Instrumen yang digunakan adalah TPGK (Tes pemahaman Grafik Kinematik). Dari Hasil Penelitian dapat diketahui bahwa calon guru matematika memiliki ketercapaian yang tinggi di bagian indikator Interpretasi grafik (44.92 %) dan Ekstrapolasi (62.31 %). Namun Masih rendah untuk Konstruksi (17.93 %) dan Model Matematis (13.04 %) untuk penyelesaian masalah.
Keywords
Representasi Grafik Matematik, Calon Guru Matematika, Fisika Dasar
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Dede Akhmad Junaedi
Institutions
Indonesia University of Education
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil pengetahuan awal, miskonsepsi, dan penguasaan konsep siswa pada materi ekosistem dengan menggunakan peta konsep. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII MTs Negeri Purwakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan rubrik penilaian pengetahuan awal, rubrik penilaian miskonsepsi, tes penguasaan konsep, lembar angket, format wawancara, dan catatan lapangan. Kegiatan penelitian dibagi menjadi tahap pengenalan dan pembiasaan pembelajaran dengan peta konsep, dan tahap pelaksanaan pembelajaran dengan peta konsep. Tahap pengenalan dan pembiasaan peta konsep meliputi perangkat peta konsep, dan Instrumen peta konsep. Tahap pelaksanaan peta konsep meliputi tahap penjaringan pengetahuan awal dan penggunaan peta konsep dalam menilai miskonsepsi dan penguasaan konsep siswa pada materi ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta konsep memuat aspek-aspek yang dapat mengungkap pengetahuan awal, miskonsepsi dan penguasaan konsep. Peta konsep dapat menjaring pengetahuan awal siswa terkait materi ekosistem pada kategori baik (33%), sedangkan pernyataan konsep dimana siswa mengalami miskonsepsi, peta konsep dapat mengungkap sekitar 23% pada kategori cukup, dan peta konsep dapat mengungkap penguasaan konsep siswa pada kategori cukup (49%). Guru dan siswa menanggapi positif terhadap penggunaan peta konsep dalam pembelajaran, serta peta konsep yang digunakan memiliki keunggulan dan keterbatasan dalam pelaksanaannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peta konsep dapat mengungkap pengetahuan awal, miskonsepsi dan penguasaan konsep siswa.
Keywords
pengetahuan awal, miskonsepsi, penguasaan konsep, peta konsep, ekosistem
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Aisyah Hasyim
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar IPA dengan tema laut untuk SMP kelas VII melalui metode pengembangan bahan ajar 4STMD (Four Steps Teaching Material Development). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan bahan ajar IPA SMP yang terpadu dengan tema laut khususnya untuk siswa dengan lingkungan geografis yang relevan. Tema laut dapat mengaitkan beberapa materi pokok di SMP kelas VII seperti klasifikasi zat, campuran, massa jenis, kalor, dan ekosistem. Pengembangan bahan ajar dilakukan dengan menggunakan 4STMD yang meliputi tahap seleksi, strukturisasi, karakterisasi, dan reduksi didaktik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar validasi tahap seleksi, strukturisasi, dan karakterisasi serta validasi kelayakan bahan ajar. Hasil penelitian ini berupa bahan ajar IPA terpadu tema laut untuk SMP kelas VII yang dikembangkan dengan 4STMD.
Keywords
bahan ajar, IPA terpadu, tema laut, 4STMD
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Maharani Savitri
Institutions
Program Studi Pendidikan IPA
Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau dikenal juga dengan sains merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam dan keteraturan yang ada di dalamnya. Terwujudnya masyarakat berliterasi sains (scientific literacy) adalah salah satu tujuan utama pendidikan sains. Salah satu persiapan yang dapat dilakukan oleh seorang guru IPA untuk mencapai tujuan tersebut adalah penggunaan bahan ajar relevan yang di dalamnya tidak hanya memuat konten (knowledge of science) tetapi juga memuat knowledge about science terkait hakikat IPA (nature of science). Nature of Science didefinisikan sebagai nilai-nilai dan asumsi yang melekat pada perkembangan lmu pengetahuan sains dan sebagai pembeda antara sains dan nonsains. Aspek-aspek NOS terdiri atas: (a) pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang dapat dipercaya dan bersifat sementara, (b) keberadaannya tidak hanya satu metode ilmiah, tetapi ada beberapa karakteristik bersama pendekatan ilmiah untuk sains seperti penjelasan ilmiah yang didukung oleh bukti empirik, dan diuji terhadap alam, (c) kreativitas berperan dalam pengembangan pengetahuan ilmiah, (d) ada hubungan antara teori dan hukum, (e) ada hubungan antara pengamatan dan kesimpulan, (f) sains mengutamakan objektifitas, meskipun selalu ada unsur kesubjektifan di dalam pengembangan pengetahuan ilmiah, dan (g) konteks sosial dan budaya juga berperanan dalam pengembangan pengetahuan ilmiah. Dengan memasukkan NOS ke dalam standar/kurikulum diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar tentang materi sains, minat terhadap sains, dan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan sains. Model rekonstruksi bahan ajar yang dilakukan mengadopsi dari Model of Educational Reconstruction (MER) yang dibatasi pada tahap analisis struktur konten dan penelitian pada pembelajaran dan pengajaran. Hasil rekonstruksi bahan ajar IPA ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar yang sesuai perkembangan kognitif siswa.
Keywords
Bahan ajar, nature of science, Model of Educational Reconstruction
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Saeful Karim
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Pembelajaran yang terjadi di perkuliahan tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep mahasiswa tetapi harus berfokus juga pada proses pembelajaran yang memfasilitasi keterampilan berpikir. Apalagi perkuliahan di Universitas yang mencetak calon pendidik. Berdasarkan observasi dan wawancara ditemukan bahwa gaya guru mengajar di kelas kebanyakan mereproduksi kebiasaan dan kebanyakan gaya mengajar dosen di perkuliahan. Sehingga sangat diperlukan proses pembelajaran yang mampu memfasilitasi berbagai keterampilan berpikir calon guru dan memberikan model real (modelling) bagaimana pembelajaran diterapkan. Selain itu, berdasarkan hasil evaluasi proses belajar mengajar ditemukan bahwa respon mahasiswa terhadap gaya mengajar dosen secara umum masih rendah. Penelitian ini berfokus pada rekonstruksi pembelajaran sistem partikel dalam meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi mahasiswa. Adapun produk dari penelitian ini berupa rancangan pembelajaran yang operasional dan evaluasinya. Pelengkap data bagaimana kefektifan pembelajaran yang diterapkan ditinjau dari pencapaian mahasiswa pada evaluasi pembelajaran sistem partikel. Berdasarkan data pencapaian mahasiswa pada kelas yang menerapkan rekonstruksi rancangan pembelajaran yang baru, diperoleh pencapaian hasil belajar yang lebih baik daripada pembelajaran yang menggunakan konstruksi pembelajaran sebelumnya. Hasil angket menunjukkaan mahasiswa memberikan respon positif pada penerapan rekonstruksi pembelajaran.
Keywords
Rekonstruksi pembelajaran, keterampilan berpikir tingkat tinggi
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Rico Juni Saputra
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Sains merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali permasalahan yang menuntut untuk diselesaikan menggunakan sains. Sehingga masyarakat memerlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai sains yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di kehidupan sehari-hari yang disebut dengan literasi sains. Saran paling memungkinkan untuk meningkatkan literasi sains ini adalah melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah. Akan tetapi, faktanya adalah pembelajaran di sekolah tidak memfasilitasi siswa dalam meningkatkan literasi sains, maka dari itu perlu dilakukan rekonstruksi rancangan pembelajaran IPA. Untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi penelitian, bagian yang direkonstruksi adalah kompetensi literasi sains yang lemah dari siswa. Untuk mendapatkan profil kompetensi yang lemah tersebut, digunakanlah metode cross sectional survey kepada siswa kelas VII. Instrumen yang digunakan berupa tes yang menguji kompetensi literasi sains siswa. Hasilnya adalah hanya sekitar setengah dari seluruh populasi yang memiliki kompetensi untuk menjelaskan fenomena ilmiah, menyelidiki masalah dan menginterpretasi data. Ketiga kompetensi tersebut merujuk pada framework PISA 2015.
Keywords
Literasi Sains; Rekonstruksi Pembelajaran; Cross sectional survey
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Hanni Shofiah
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh rancangan pembelajaran IPA pada materi energi yang dapat memfasilitasi literasi sains siswa. Rancangan pembelajaran tersebut direkonstruksi dari hasil observasi proses pembelajaran di salah satu sekolah dan dibangun berdasarkan profil literasi sains siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan desain cross-secsional. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII yang berjumlah 91 orang di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa tes literasi sains berdasarkan karakteristik framework PISA 2015, pedoman wawancara, dan observasi. Hasil penelitian yang diperoleh selama dua pertemuan adalah pembelajaran IPA di sekolah kurang memfasilitasi literasi sains siswa. Profil literasi sains siswa diperoleh dengan menggunakan teknik pesentase pada setiap aspek domain kompetensi dan pengetahuan. Pada domain kompetensi, ketercapaian siswa sebesar 57,94% untuk aspek menjelaskan fenomena ilmiah (K1); 37,91% mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah (K2); serta 57,91% untuk menginterpretasikan data dan bukti ilmiah (K3). Sedangkan pada domain pengetahuan, ketercapaian siswa sebesar 60,16% untuk konten; 60,99% prosedural; dan 29,95% untuk epistemik. Maka dapat disimpulkan bahwa ketercapaian literasi sains siswa cukup rendah terutama pada kompetensi K2 dan pengetahuan epistemik. Sehingga diperlukan rancangan pembelajaran yang dapat memfasilitasi literasi sains siswa.
Keywords
Literasi sains, framework PISA 2015, cross-secsional
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
DYNA PURNAMA ALAM
Institutions
Departemen Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154 Jawa Barat - Indonesia
Telp. 022-2013163 Fax. 022-2013651
Abstract
Kemajuan era globalisasi di dunia sains yang begitu pesat sehingga kehidupan masyarakat harus siap untuk bekerja keras. Salah satu untuk menyesuaikan diri dalam kemajuan era globalisasi yaitu dibutuhkannya masyarakat yang berliterasi sains. Literasi sains merupakan pemahaman konsep maupun penerapan dari sains untuk menyelesaikan permasalahan secara efektif dan bertanggung jawab. Namun kemampuan ini belum optimal dilatihkan oleh proses pembelajaran sains. Peneliti mencoba untuk menemukan cara melatih literasi sains melalui rekonstruksi pembelajaran sains berdasarkan profil analisis literasi sains. Penelitian yang akan dilakukan yaitu merekonstruksi rancangan rencana pelaksanaan pembelajaran sains melalui analisis kesulitan literasi sains siswa SMP kelas VII pada topik gerak lurus. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif jenis survei dengan analisis deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri di Kota Bandung dengan jumlah sampel sebanyak 124 orang siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri di Kota Bandung menggunakan pengambilan sampel acak. Dari hasil penelitian persentase profil literasi sains siswa pada domain kompetensi diperoleh 46,64% aspek menjelaskan fenomena ilmiah, 65,93% aspek mengevaluasi dan merancang penelitian ilmiah dan 48,66% aspek menginterpretasikan data dan bukti ilmiah. Sedangkan pada domain pengetahuan diperoleh 55,91% aspek konten, 62,09% aspek prosedural dan 38,84% aspek epistemik. Berdasarkan hal di atas, maka rekonstruksi menekankan pada aspek domain yang paling rendah diantara kedua aspek domain yang lainnya. Aspek menjelaskan fenomena ilmiah dari domain kompetensi dan aspek epistemik dari domain pengetahuan akan dijadikan acuan untuk merekonstruksi rencana pembelajaran sains yang melatihkan literasi sains.
Keywords
Rekonstruksi, Profil Literasi Sains, Domain Kompetensi, Domain Pengetahuan
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Ida Kaniawati
Institutions
Universitas Pendidikan Indonesia
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Program Magister Pendidikan Fisika UPI menfokuskan pada pengembangan dan pembaharuan dalam bidang pendidikan fisika untuk berbagai jenjang pendidikan, khususnya pendidikan formal dan melakukan kajian-kajian/riset yang inovatif untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan fisika sekaligus memberikan solusi atas persoalan-persoalan nyata yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan fisika pada berbagai jenjang pendidikan. Program Magister Pengajaran Fisika ITB fokus pada proses pemahaman menurut fisika agar si pemelajar menguasai fisika. Ini,suatu pilihan untuk diikuti, tetapi alangkah baiknya disinergikan, agar lulusannya mempunyai penguasaan ilmu fisika memadai dan sepadan serta menguasai ilmu pendidikan fisika serta memiliki kompetensi akademik dan profesional sebagai pendidik fisika. Penguasaan ilmu fisika dan pendidikan fisika yang dimaksud adalah mampu membelajarkan fisika yang mudah dipahami, aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Sinerginya lebih pada berbagi keunggulan, antara lain: mahasiswa MPd Fisika mengambil beberapa kuliah fisika dan mahasiswa MP Fisika mengambil kuliah tentang pendidikan fisika, melakukan kolaborasi riset tentang pembelajaran fisika, serta mengembangan kegiatan ekstra kurikuler dalam bentuk workshop yang mengembangkan skill sebagai pendidik fisika yang handal dan profesional.
Keywords
Kata-kata kunci: magister pendidikan fisika, pengajaran fisika, memanfatkan perkuliahan, kolaborasi riset.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Herlina Panggabean
Institutions
Institute Teknologi Bandung
Abstract
Gas karbondiokasida (CO2) digunakan sebagai contoh dalam mempelajari sintesis dan reaksi gas pada mata pelajaran kimia di lingkungan sekolah menengah atas (SMA). Di laboratorium, gas CO2 disintesis dari padatan kapur dan asam. Kemudian, gas dialirkan ke dalam larutan barium hidroksida untuk menghasilkan kekeruhan pada larutan, tetapi kekeruhan tersebut seringkali tidak teramati. Ini dikarenakan kelarutan barium hidroksida dalam air. Kondisi tersebut diatasi dengan penambahan zat atau pereaksi. Namun, penambahan zat mengakibatkan bertambahnya limbah di lingkungan yang tidak sejalan dengan konsep Green Chemistry. Oleh karena itu didesaian suatu alat skala kecil untuk sintesis gas. Alat skala kecil tersebut terdiri dari botol plastik sebagai tempat terjadinya reaksi yang dilengkapi alat suntik plastik kecil berisi pereaksi dan alat suntik plastik sebagai penampung gas. Untuk mengetahui kelayakan alat tersebut dilakukan uji coba berupa sintesis gas CO2 dari 0,1 g sampel CaCO3 yang tidak murni. Gas yang dihasilkan dapat mendorong piston pada alat suntik penampung gas hingga mencapai volume 11,5 mL. Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat diketahui kerapatan gas CO2 rata-rata sebesar 1,8 g/L dan kemurnian sampel rata-rata 46%. Hasil lain dari percobaan diperoleh gas CO2 yang dapat menghilangkan warna indikator phenolphthalein dari larutan basa. Dengan demikian, alat sintesis gas skala kecil dapat digunakan untuk mengetahui volume gas CO2, kemurnian sampel, kerapatan gas CO2, dan reaksi gas CO2.
Keywords
Sintesis, Gas CO2, Alat Skala Kecil
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Sowanto -
Institutions
Pendidikan Matematika
Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemampuan representasi matematis siswa SMP dan self-efficacy atau tingkat keyakinan siswa siswa akan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah matematika. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian dengan pembelajaran yang menggunakan situation-based learning (SBL) berbantuan program geometer�s sketchpad (GSP). Adapun yang dikaji dalam penelitian ini adalah masalah peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan situation-based learning (SBL) berbantuan program geometer�s sketchpad (GSP) dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa ditinjau dari keseluruhan dan kategori kemampuan awal matematika siswa (atas, tengah, bawah), serta mengkaji perbedaan self-efficacy siswa setelah pembelajaran diberikan. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment atau eksperimen semu dengan desain penelitian menggunakan nonequivalent control group design atau desain kelompok kontrol non-ekuivalen dengan tehnik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kempo dengan sampel dua kelas yang dipilih secara acak. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan representasi matematis, angket self-efficacy, dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualititatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji t, uji t�, uji Anova dua jalur dan nonparametrik Mann-Whitney U. Analisis kualitatif dilakukan untuk menelaah lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditinjau dari keseluruhan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan situation-based learning (SBL) berbantuan Program geometers sketchpad (GSP) lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa. Peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan situation-based learning (SBL) berbantuan program geometers sketchpad (GSP) lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa ditinjau dari kemampuan awal matematis siswa kategori atas, tengah, dan bawah. Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (situation-based learning (SBL) berbantuan program geometers sketchpad (GSP) dan pembelajaran biasa) dengan kemampuan awal matematika (atas, tengah, bawah) siswa dalam peningkatan kemampuan representasi matematis siswa. Self-efficacy siswa yang pembelajarannya menggunakan situation-based learning (SBL) berbantuan program geometers sketchpad (GSP) tidak berbeda secara signifikan dibandingkan siswa yang menggunakan pembelajaran biasa.
Keywords
situation-based learning (SBL), program geometers sketchpad (GSP), kemampuan representasi matematis, self-efficacy
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Marati Husna
Institutions
a) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
*maratihusna[at]gmail.com
Abstract
Gerak peluru dalam praktikum fisika biasanya hanya digunakan untuk mengamati gerak dua dimensi untuk menentukan percepatan gravitasi atau variabel lain seperti waktu atau jarak jatuhnya benda.. Dengan melibatkan pegas sebagai sumber energi bagi gerak peluru, hukum kekekalan energi dapat diterapkan sehingga konstanta pegas dapat ditentukan dari gerak ini. Melalui Research Based Learning (RBL) ini, didesain suatu media pembelajaran berupa alat praktikum berbasis pegas yang dapat divariasi untuk menentukan konstanta pegas dan konstanta percepatan gravitasi pada gerak peluru yaitu Spring-based Projectile Launcher. Metode yang digunakan adalah menembakkan bola dengan variasi simpangan pegas pada Spring-based Projectile Launcher. Konstanta pegas kemudian dapat ditentukan menggunakan hukum kekekalan energi yang terjadi selama bola mengalami gerak peluru. Diharapkan media ini menjadi alat praktikum yang komprehensif, yaitu dapat mengamati gerak peluru sekaligus menentukan konstanta pegas.
Keywords
Konstanta Pegas; Alat Praktikum; Percepatan Gravitasi; Gerak Peluru
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
IKA ZUBAIDA
Institutions
SMA Islam Al-Izhar Pondok Labu Jakarta Selatan
Abstract
Tuntutan pembelajaran matematika dewasa ini adalah pembelajaran seharusnya dilakukan dengan pola konstruksi dan rekonstruksi agar siswa dapat berfikir kritis dalam mencari strategi pemecahan masalah. Keberhasilan seorang siswa menyelesaikan pemecahan masalah matematik berkaitan erat dengan kemampuannya dalam memantau proses berfikirnya sendiri yang terkait juga dengan keterampilan metakognitifnya. Namun tidak setiap individu siswa memiliki keterampilan tersebut. Terdapat tiga aspek metakognitif yang relevan dalam pembelajaran matematika, yaitu: (1) belief and intuition, (2) prior knowledge, dan (3) self-regulation. Salah satu strategi pembelajaran untuk dapat meningkatkan ketrampilan metakognitif adalah scaffolding. Scaffolding dapat mendorong siswa masuk pada zona perkembangan kognitif (Zone Proximal Development). Berdasarkan fenomena itu, maka dilakukan penelitian tindakan tentang penerapan strategi scaffolding untuk meningkatkan keterampilan metakognitif siswa low achievement. Subjek penelitian sebanyak 3 siswa kelas XI IPA yang berada pada kriteria low achievement. Peningkatan keterampilan metakognitif siswa yang diamati antara lain: (1) jenis-jenis pertanyaan siswa, (2) respon siswa pada saat memberikan argumen, (3) komunikasi siswa pada saat berdiskusi dengan teman sebaya, dan (4) strategi yang digunakan atau dipilih siswa untuk menyelesaikan masalah matematik. Berdasarkan uji analisis data dengan menggunakan triangulasi data yang diperoleh, (1) diperlukan strategi scaffolding khusus untuk siswa low achievement pada saat kegiatan belajar mengajar di kelas, yaitu dengan menggunakan pola high-high-middle-low-middle atau high-middle-high-middle-low terbukti lebih efektif untuk membangun prior knowledge siswa low achievement dibandingkan dengan menggunakan pola high-low-middle-middle-high maupun low-high-high-middle-middle; (2) scaffolding harus segera dihentikan pada saat siswa low achievement dipandang jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada alasan (mengapa, jadi, kemudian); (3) scaffolding dengan cara menanyakan ulang respon siswa dapat membuat siswa berfikir tentang apa yang dipikirkannya, dalam hal ini maka siswa tersebut telah mengelola proses berfikirnya dan; (4) mendiskusikan alasan dari setiap langkah pembuktian aturan matematik, melalui diskusi teman sebaya, siswa low achievement memiliki belief and intuition untuk mengkomunikasikan (mengemukakan) argumen tentang langkah-langkah pembuktian matematik.
Keywords
Scaffolding, ketramplan metakognitif, Low Achievement
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Okky Fajar Tri Maryana
Institutions
1)Fisika Magnetik dan Fotonik, Departemen Fisika, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha 10, Bandung 40132, Jawa Barat
2)Program Profesi Psikologi Pendidikan, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Kampus UI, Depok, 16424, Jawa Barat
Abstract
Pemahaman terhadap faktor-faktor pembelajaran aktif mata pelajaran sains semakin diperlukan dunia pendidikan saat ini. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam mencapai penanaman karakter sekaligus transfer pengetahuan mata pelajaran sains kepada peserta didik, khususnya bidang studi fisika. Perihal tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah-sekolah dengan konsep inklusi yang sekarang mulai banyak mendapat perhatian oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Sebuah konsep pendidikan sekolah yang ramah bagi semua anak. Penelitian melalui model pendekatan analogi fisis elektron ber-spin telah dilakukan pada rancangan pembelajaran aktif fisika di kelas inklusi dan telah berhasil didapatkan beberapa informasi penting. Kemudian, dengan menggunakan metode analitik Effective Medium Approximation didapatkan faktor penting lain yang mempermudah munculnya pembelajaran aktif mata pelajaran fisika yaitu berkaitan dengan posisi duduk siswa di kelas.
Keywords
fisika, effective medium approximation, elektron, pembelajaran aktif, sekolah inklusi
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Nur Afifah Zen
Institutions
Institut Teknologi Bandung
Abstract
Osilasi sederhana seperti gerak pendulum dan osilasi pegas telah sangat umum dilakukan pada pratikum fisika dasar. Kami telah berhasil mengembangkan praktikum osilasi teredam pada pegas dengan memanfaatkan sensor magnet yang terdapat pada smartphone. Praktikum ini bertujuan untuk mengamati gerak osilasi secara langsung yang ditampilkan melalui grafik dan menentukan frekuensi disertai konstanta redaman. Perhitungan teori dilakukan menggunakan persamaan Lagrange kemudian dibandingkan dengan hasil praktikum. Pegas yang digunakan memiliki konstanta pegas sebesar 3 N/m2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai frekuensi pada grafik osilasi memiliki tingkat kesalahan relatif dibawah 10% terhadap perhitungan teori. Sedangkan frekuensi pada osilasi pegas menghasilkan tingkat kesalahan relatif sebesar 17,84 %. Hal tersebut dikarenakan gerakan pegas dipengaruhi oleh elastisitas pegas yang menghasilkan konstanta redaman sebesar 0,73.
Keywords
Smartphone, osilasi pegas, frekuensi, konstanta redaman
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Awanda Nur Hotimah
Institutions
Universitas Jambi
Abstract
Pengajaran kimia saat ini di SMA di Kabupaten Sarolangun Jambi masih berpusat pada guru sehingga keterlibatan siswa dalam pembelajaran menjadi terbatas. Bagaimanapun, guru merasa nyaman dengan pendekatan tradisional yang mereka gunakan selama ini. Guru kimia perlu didorong untuk menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Makalah ini melaporkan studi pendahuluan tentang persepsi guru kimia terhadap implementasi pembelajaran kooperatif type TPS yang dikombinasikan dengan multimedia dalam pembelajaran kimia di kelas. Dua belas guru dengan pengalaman mengajar yang berbeda diwawancarai tentang implementasi TPS dan multimedia dalam pembelajaran kimia. Pada umumnya guru mempersepsikan kooperatif type TPS tidakmudah untuk diimplementasikan dalam kelas yang sebenarnya. Guru juga memandang mereka tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membuat dan memanfaatkan multimedia dalam pembelajaran secara efektif. Perlu studi yang lebih luas untuk mendalami persepsi guru kimia tentang pembelajaran kooperatif tipe TPS yang dikombinasikan dengan multimedia ini.
Keywords
Pembelajaran Kimia, TPS, Persepsi Guru, Multimedia
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
ASWANA -
Institutions
Universitas Jambi
Abstract
Pengajaran sains di MTS di Kabupaten Bungo Jambi masih berpusat pada guru, sehingga keterlibatan siswa pada proses pembelajaran menjadi terbatas. Dalam proses pembelajaran guru menggunakan model pengajaran langsung seperti deduktif-induktif dan pembelajarannya berpusat pada guru. Pada proses pembelajaran tersebut, guru memberikan penjelasan kepada siswa sehingga menyebabkan siswa tidak aktif. Guru sains perlu didorong untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Makalah ini melaporkan studi pendahuluan tentang persepsi guru sains terhadap implementasi pembelajaran kooperatif tipe Number heat together (NHT) dalam pembelajaran sains di kelas. Guru merasa sulit mengimplemetasikan kedua tipe tersebut dalam kelas yang sebenarnya. Perlu studi yang lebih lanjut guna mendalami persepsi guru sains tentang pembelajaran Kooperatif.
Keywords
Persepsi guru, Model Number Heat Together(NHT), Guru Sains
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Lina Purwanti
Institutions
Abstract
Artikel ini melaporkan hasil penelitian terkait studi awal persepsi guru terhadap penerapan model kooperatif tipe TGT di MTsN Semerah Kerinci Jambi. Kegiatan pembelajaran dan kendala-kendala yang dihadapi guru juga akan dilaporkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. �Sumber data berasal dari responden yang merupakan guru mata pelajaran IPA terpadu kelas VII MTsN Semerah Data dikumpulkan menggunakan wawancara. � Berdasarkan hasil analisis diperoleh informasi bahwa pengajaran IPA di MTsN Semerah Kerinci Jambi masih berpusat pada guru. Keadaan ini menyebabkan peserta didik �kurang aktif. Pada proses pembelajaran, banyak peserta didik yang tidak berani mengemukakan pendapat. Fasilitas yang kurang dan waktu yang terbatas juga ikut berkontribusi terhadap rendahnya aktiviitas peserta didik dalam pembelajaran. Permasalahan yang ditemukan mendorong kreatifitas guru dalam pemilihan metode atau model pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas pembelajaran dan memotivasi peseta didik. Model yang dimaksud seperti pembelajaran kooperatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif belum dilaksanakan secara optimal di MTsN Semerah Kerinci Jambi . Temuan ini merekomendasikan pentingnya pelaksanaan penelitian lanjutan dalam usaha mengoptimalkan penerapan model kooperatif bagi guru �IPA di daerah pedesaan seperti Kerinci Jambi.
Keywords
Persepsi Guru, �Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT, Kendala
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Novitasari -
Institutions
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Kemampuan memahami konsep fisika diperlukan untuk menjelaskan berbagai fenomena baik fenomena yang berasal dari alam atau buatan. Penting untuk peserta didik mengetahui komponen-komponen apa saja yang terlibat dalam fenomena tersebut sehingga peserta didik dapat menjelaskannya dengan konsep-konsep fisika yang ia pahami. Studi pendahuluan mengungkapkan bahwa beberapa fenomena tidak dapat dihadirkan di kelas dalam bentuk eksperimen dan beberapa fenomena lainnya memiliki konsep yang masih abstrak. Oleh karena itu, perlu disisipkan media yang dapat mengakomodir fenomena yang memiliki karakteristik tersebut. Solusinya adalah penggunaan Interactive multimedia related to real life. Interactive multimedia related to real life merupakan suatu media yang menggabungkan animasi, narasi, dan suara yang kemudian ditampilkan dalam bentuk kartun bertemakan kehidupan sehari-hari. Tampilannya menyerupai kondisi yang ada di dalam kehidupan nyata. Media ini membantu peserta didik mengaitkan fenomena dengan konsep-konsep fisika yang didapatkan setelah pembelajaran. Hasil analisis berbagai literatur yang setema mengungkapkan bahwa pembelajaran fisika berbantuan multimedia interaktif dapat meningkatkan kemampuan memahami konsep fisika. Selain itu, penggunaan Interactive multimedia related to real life dapat meningkatkan kebiasaan siswa dalam menganalisis fenomena kehidupan nyata dan meninggalkan ingatan jangka panjang pada peserta didik setelah pembelajaran.
Keywords
Kemampuan memahami, pembelajaran fisika, Interactive multimedia related to real life.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
NUR INAYAH SYAR
Institutions
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Abstract
Interaksi antar peserta didik, pendidik dan sumber belajar adalah tiga hal yang membangun proses belajar mengajar. Sumber belajar yang dimaksud dalam hal ini adalah bahan ajar, baik yang digunakan oleh guru untuk mengajar maupun digunakan oleh siswa untuk belajar mandiri. Bahan ajar merupakan pokok-pokok materi yang berasal dari perumusan kompetensi dasar dan indikator yang nantinya akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada dua jenis bahan ajar yang dapat dikembangkan dalam rangka mencapai hal-hal yang disebutkan di atas, yaitu bahan ajar untuk guru dan bahan ajar untuk siswa. Penulis akan mengambangkan bahan ajar guru dengan menggunakan metode 4 Step Teaching Material Development (4S TMD) sebagai pedoman dalam pengembangan bahan ajar. 4S TMD memiliki empat tahap pengembangan bahan ajar yaitu seleksi, strukturisasi karakterisasi dan reduksi didaktik yang merupakan kelebihan yang tak dimiliki pengembangan bahan ajar lainnya. Tahap seleksi berupa tahap pengumpulan materi yang kemudian disesuaikan dengan standar kompetensi, indikator dan nilai-nilai yang terkait IPA terpadu yang terdapat dalam bahan ajar. Tahap strukturisasi merupakan tahap pembuatan peta konsep, struktur makro dan multipel representasi. Tahap Karakterisasi yaitu tahap pengembangan instrumen untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang beradda dalam kategori abstrak, kompleks dan rumit. Sedangkan yang terakhir yaitu tahap reduksi didaktik, merupakan tahap dimana konsep direduksi agar layak menjadi bahan ajar untuk tingkatan kelas dan jenjang pendidikan bahan ajar tersebut. Penilaian bahan ajar terdiri dari beberapa aspek yaitu penilaian kesesuaian isi dengan kurikulum, grafika, ide pokok dan keterbacaan, penyajian materi untuk menguji kelayakan bahan ajar yang telah dibuat. Bahan ajar akan berfokus pada tema cuaca yang akan mencakup materi IPA terpadu, yaitu fisika, kimia dan biologi.
Keywords
Bahan ajar, Cuaca, IPA Terpadu, 4S TMD
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Novriana Sumarti
Institutions
KK Matematika Industri dan Keuangan, Institut Teknologi Bandung
Abstract
Pada artikel ini, Ujian Nasional Matematika untuk Siswa SMA diamati berdasarkan studi dan riset yang ditulis pada prosiding konferensi, skripsi sarjana dan tesis master, dan laporan resmi mengenai hasil ujian ini. Penilaian nasional untuk siswa SMA adalah salah satu tahapan penting dalam pendidikan karena bisa pengukuran kualitas pendidikan nasional di Indonesia. Pertama sejarah ujian penilaian nasional dijelaskan mulai dari 1950. Kompetensi Matematika dalam ujian dijelaskan dengan beberapa indikator. Contoh hasil dari 2013 ujian nasional menunjukkan perbedaan yang signifikan dari skor rata-rata per provinsi dari berprestasi tertinggi dan terendah. Beberapa studi tentang ujian nasional dari 2007 - 2011 menunjukkan bahwa ujian terkandung terutama masalah ditetapkan pada mengetahui dan menerapkan aspek kognitif demand, dan sebagian kecil pada penalaran kreatif.
Keywords
Ujian Nasional Matematika, kognitif
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Shinta Faramita
Institutions
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Abstract
Efikasi-diri adalah keyakinan keandalan diri yang dimiliki seseorang untuk melakukan tugas ataupun mencapai tujuan yang spesifik berdasarkan kemampuannya untuk memahami kesulitan tugas, usaha yang perlu dilakukan, besar bantuan eksternal, situasi pada saat performansi, dan pola-pola keberhasilan dan kegagalan. Bentuk Penugasan Pre-Class Reading Task dapat memfasilitasi siswa meningkatkan efikasi-diri mereka sendiri melalui rasa tanggung jawab atas perkembangan diri mereka sendiri. Terdapat tiga kunci utama yang menentukan keberhasilkan penugasan ini, yaitu spesifikasi materi bacaan disesuaiakan dengan tujuan pembelajaran, pertanyaan yang diberikan merujuk buku teks secara eksplisit, dan umpan balik yang diberikan guru terkait penugasan. Jenis pertanyaan yang diberikan di akhir penugasan ini harus memuat tujuan pedagogik yang terdiri dari tiga tujuan utama, yaitu: konten, proses, dan metakognitif. Faktor-faktor penentu efikasi-diri siswa diantaranya: pengalaman keberhasilan individu (mastery experience), pengalaman keberhasilan orang lain (vicarious experience) yang dijadikan panutan, persuasi verbal (verbal persuasion), dan keadaan emosional (emotional state). Penugasan Pre-Class Reading diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan segala potensi yang mereka miliki dengan cara menumbuhkan rasa tanggung jawab atas diri mereka sendiri untuk mencapai sebuah tujuan, khususnya dalam pembelajaran fisika. Diharapkan efikasi-diri siswa akan meningkat sejalan dengan pengetahuan-diri yang mereka miliki.
Keywords
Penugasan Pre-Class Reading, efikasi-diri, pembelajaran fisika.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
AHMAD MUZAKI
Institutions
IKIP Mataram
Abstract
Artikel ini membahas tentang pentingnya dan cara meningkatkan self-affirmation matematik mahasiswa. Pada dasarnya, Self-affirmation merupakan komponen yang sangat penting dalam diri seseorang. Self-affirmation merupakan kemampuan seseorang untuk menggambarkan kecukupan terhadap dirinya. Di samping itu, self-affirmation mampu melihat aspek positif lain yang ada pada diri seseorang yang berakibat pada kemampuan seseorang untuk move on dari masalah yang sedang dihadapi. Salah satu karakteristik matematika adalah penalaran yang digunakan merupakan penalaran deduktif. Hal ini berarti proses pengerjaan matematika harus bersifat deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksiomatik, diawali dengan proses induktif yang meliputi penyusunan konjektur-konjektur baru yang diturunkan melalui aksioma-aksioma atau definisi. Kondisi ini untuk beberapa mahasiswa merupakan masalah yang menimbulkan anxiety matematik pada mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk membangkitkan diri mahasiswa sehingga mereka tidak terjebak hanya pada masalah yang sedang dihadapi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pembelajaran teknik hypnoteaching. Pebelajaran dengan teknik hypnoteaching merupakan kegiatan pembelajaran dengan memberikan sugesti positif berupa motivasi dan merilekskan pikiran mahasiswa agar pengetahuan yang didapat bisa dipahami dengan baik.
Keywords
Teknik Hypnoteaching, Self-Affirmation matematik mahasiswa.
Topic
Pembelajaran (EDU)
Corresponding Author
Vebrina Vera Munika
Institutions
1*Mahasiswa Magister Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Jambi, Jambi Email:abel.moni87[at]gmail.com
2Dosen Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Jambi, Jambi
Abstract
Motivasi siswa adalah salah satu aspek penting yang perlu untuk diperhatikan dalam pembelajaran kimia. Pendekatan tradisonal yang masih mendominasi dalam strategi pembelajaran kimia diduga berkontribusi terhadap rendahnya motivasi siswa karena guru mendominasi kelas. Motivasi siswa yang rendah dapat ditingkatkan dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Makalah ini melaporkan studi pendahuluan tentang persepsi guru kimia terhadap implementasi pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap motivasi siswa. Dua belas guru kimia di enam sekolah dengan pengalaman mengajar yang berbeda diwawancarai untuk mengetahui pandangan mereka tentang potensi TSTS dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Persepsi guru pada umumnya TSTS dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran tetapi belum yakin terhadap peningkatan motivasi siswa. Diperlukan studi yang lebih luas untuk mendapatkan hasil yang valid.
Keywords
persepsi guru, model two stay two stray, motivasi belajar, pelajaran kimia
Topic
Pembelajaran (EDU)
Page 7 (data 181 to 210 of 213) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats